Selasa, 05 April 2016

Untitled



Prolog
Sejak keluarga kami memutuskan untuk pindah dari Pontianak ke bali, kisah ini dimulai. Awalnya dia tidak begitu menarik sama seperti yang lainnya yang aku temui, namun setelah mengenal kpribadiannya semua itu berubah. Lelaki ini membuatku terkagum dengan segalnya yang ada di dirinya, imannya itu yang utama.
Pertemuan pertama kami terjadi di gereja, saat itu hari pertama aku da keluargku menginjakkan kaki kami di gereja yang tidak jauah dari kediaman kami di daerah ubud Bali, Bali memang terkenal dengan penganut agama Hindu dan kami beruntung karena bisa tinggal dilingkungan yang meiliki gereja di sekitarnya.

Kepindahan ke bali sebenarnya bukan mau kami, 18 tahun menetap di kalimantan barat membuatku sudah sangat nyaman di sana, dulu sebelum di kalimantan barat ayah yang adalah seorang karyawan sebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang pertanian bekerja di Jakarta. Namun, perusahan besar itu membuka cabang di bebrapa daerah yang mengharuskan Ayah untuk berpindah ke kalimantan barat jika ingin mendapatkan promosi kenaikan pangkat, di kalimantan barat ayah yang dulunya hanyalah staf dinaikan pangkat menjadi manager umum bidang pemasaran dan kini ayah dipindahkan ke bali sebagai direktur perusahaan cabang yang ada di Bali.

Aku menyelesaikan seluruh pendidikanku disana di kota pontianak dari SD hingga Kuliah. Dua tahun setelah berhasil meyelesaikan perkuliahanku aku bekerja di sebuah bank swasta di Pontianak. Kepindahan kami ke bali membuatku mengajukan surat pemindahan kerja pada pihak bank, aku berutuntung pengusulan pemindahan itu di terima sehingga aku tidak usah mencari tempat bekerja yang baru.

Kami tinggal di bali, dalam keluargaku ada lima orang, aku memiliki saudara tertua berusia 30 Tahun yang rencananya tahun ini akan menikahi kekasihnya yang sudah dipacarinya selama 4 tahun, dia seorang laki-laki dan saat ini dia berada di Jakarta, dia bekerja sebagai seorang arsitek Namanya, Joshua Arianindyo. Lalu saudara tertuaku yang kedua, usianya 27 tahun namanya Gabriela Arianindyo, dia seorang Broadcaster. Kak Gebi, ya itu nama panggilannya, dia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertelevisian. Di juga sama dengan kak Josh tinggal di Jakarta, tapi dia sudah menikah 2 tahun yang lalu suaminya juga bekerja di tempat yang sama, bisa dikatakan mereka mengalami cinta lokasi. Dan yang ada di rumah kini hanya Aku, Ayah, dan Ibu. Itu kenapa aku memilih untuk mengikuti mereka pindah, karena aku tidak ingin meninggalkan mereka berdua sendirian. Dan Aku Joana Gracia Arianindyo. Usiaku 23 tahun. Seorang Banker. Ya aku bekerja di sebuah bank swasta. Bekerja di bank merupakan keinginanku sejak kecil karena aku melihat pegawai bank itu cantik-cantik. Agak aneh memnag namun begitulah alasannya. Teman-temanku memanggilku, Grace, namun orang rumah selalu memanggilku mbak Anna. Ya aku masih memiliki darah jawa, Tepatnya ayah adalah orang Yogyakarta sementara ibu adalah seorang berdarah manado bercampur sunda. Kami adalah keluarga kristiani, sejak kecil ayah dan ibu selalu mengajarkan kami berdoa dan mengajak kami membaca alkitab setiap malam, tidak lama mungkin sekitar 15-20 menit saja. Kata ayah, tidak perlu lama-lama, tidak perlu juga banyak, kita baca sedikit-sedikit, perlahan-lahan, agar mudah dimengerti dan dipahami baru dilanjutkan pada ayat-ayat berikutnya.

Hari itu, satu diantara moment terbaik dalam kehidupanku, bertemu dengan dia, seseorang yang mengajarkanku banyak hal, sangat banyak, tentang hidup, tentang iman, tentang kesetiaan, tentang cinta, tentang hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah aku tahu dan aku mengerti. Seseorang yang membuka mataku bahwa masih banyak hal yang sbenarnya belum aku tahu. Lelaki yang sangat menakjubkan, yang sangat aku kagumi, steelah Yesus, papa, dan kak Josh. Namanya Ezra Rindang Nainggolan. Ezra adalah orang batak yang sudah lama tinggal di Bali. 10 tahun. Usianya hampir sama dengan kak Gebi, hanya lebih tua satu tahun dia berusia 28 tahun. Dia seorang Chef, dia juga memiliki restoran yang cukup besar di bali yang sudah membuka cabang di beberapa daerah. Dia lelaki yang mapan dan juga tampan. Perjumpaan pertama kami terjadi di gereja, hari itu aku dan keluargaku datang ke gereja yang ada di sana untuk petama kalinya, setelah 5 hari mulai menetap di bali. Aku duduk di sampingnya.

Bersambung....