Senin, 28 Maret 2016

Kita tidak lagi sama, Teman.



Ada yang hilang dan pasti akan hilang saat kau tidak menjaganya dengan baik. Meskipun menurutmu sudah kau lakukan dengan baik, perasaannya tidak akan sama sepertimu. Karena itu jangan egois dan jadi dirimu sendiri, tetapi mengertilah di jika kau masih ingin semuanya sama.

Milana, bukanlah orang yang suka berinteraksi dengan banyak orang dan tidak suka menceritakan hal-hal pribadinya. Milana terlalu menyukai kesendirian. Milana memiliki teman-teman dulu mungkin sahabat tapi akhirnya dia sadar pada akhirnya Milana tidak pernah punya sahabat, dia hanya punya teman. Dan milana juga harus sadar perlahan-lahan mereka juga akan pergi setela tugas mereka selesai. Mungkin sekaang tugas mereka sudah selesai dalam hidup milana. Perdebatan hebat dalam batinnya terjadi saat dia sadar bahwa dia mungkin benar-benar tidak punya sahabat.
Hari itu dia bertemu seseorang di sebuah kedai kopi, Milana suka kopi, entah mengapa, dia juga tidak tahu alasannya, mungkin kafein dalam minuman itu sudah merambat ke seluruh tubuhnya, merasuki otaknya dan membuat dia sangat menyukai kopi, dia suka kopi hitam ataupun kopi racikan, dia suka hal-hal berbau kopi, katanya bau kopi itu menyenangkan dan menenangkan.
Pertemuan hari itu membawanya pada sebuah obrolan singkat tentang kesendiriannya, pria itu adalah salah satu barista di sana, karena sering kali melihat lana sendirian dia tergerak untuk bertanya, kebetulan hari itu kedai masih belum ramai pengunjung.
“Hai” ucap pria itu datang dengan membawa secangkir kopi yang katanya spesial untuk milana.
“kopi spesial untuk kamu” ucapnya.
“boleh saya duduk” tanyanya lagi
“silahkan” jawab lana singkat
“perkenalkan saya Darren. Kamu?”
“milana, panggil saja saya lana”
okay lana”
“btw, ada apa?”
“ada apa?’
“iya kok tumben datang menghampiri saya”
“mumpung masih sepi. Dan saya langsung saja yaa, jujur saya penasaran kenapa kamu sangat suka sendirian, saya sangat sering melihat kamu datang ke sini tapi selalu sendirian”
“saya suka kopi, smentara teman-teman saya tidak suka kopi ya, saya gak bisa maksa mereka untuk ikut” milana mejawab singkat sambil menyerup kopinya. 

Perlahan milana mulai menatap wajah lelaki di depannya itu. Ah ada yang menarik, dia tampan, dan terlihat maskulin, kalau ingin kalian bayangkan dia seperti rio dewanto.
“Cuma itu?” pria itu juga menyerup cangkir lain dari kopi yang dia bawa tadi.
“saya cuma ngerasa sendirian sekarang entah kenapa. Bahkan saat saya bersama mereka, teman-teman saya, saya merasa saya sedang sendiri, bukan karena mereka tidak ada untuk saya, tapi karena saya tidak pernah bisa untuk ada bagi mereka, saya tidak pernah bisa menjadi mereka yang peduli, saya tidak pernah bisa menjadi mereka yang menyenangkan dan perhatian, saya tidak pernah bisa dengan nyaman dan tenang berbagi masalah, cerita, dan meminta masukkan, saya tidak pernah bisa seperti itu, saya selalu menarik keputusan sendiri, saya selalu menyimpan masalah sendiri, saya tidak bisa menjadi bagian dari mereka dan saya tidak suka kehidupan saya diusik telalu dalam, apa saya salah?”
Darren diam sejenak. Mulai menyelami setiap kata yang Lana tuturkan tadi juga mengumpulkan beberapa jawaban dan mungkin saja Nasihat.
“Ada yang salah ada yang benar, pilihan kamu itu salah tapi juga benar, manusia lahir dengan berbagai karakter. Kamu tau introvert, ektrovert dan ambivert? Di dunia ini ada orang introvert, extrovert atau ambivert, sekalipun dia ambivert seseorang punya kecenderungan lebih entah ke introvert atau extrovert, kamu mungkin seorang ambivert yang lebih ke introvert, kamu berteman dengan banyak orang, tapi kamu tidak ingin menceritakan masalah kamu. Itu tidak sepenuhnya salah, karena menurut sebagian orang, tidak ada orang laian yan gakan mengerti apa yang kita rasakan.” Ujar Darren

Lana mulai berbicara lagi, namun matanya tidak mengarah pada darren, tanggannya terus menggenggam cangkir kopi, dia memandang keluar jendela kebetulan diluar hujan.

“saya pikir dulu saya bisa punya sahabat, tapi saya merasa belum menemukan yang nyaman untuk saya ajak membagi masalah apapun, dan yang terjadi sekarang, seseorang pergi meninggalkan saya, setelah dia merasa nyaman dnegan orang lain, dia perlahan menghilang, dia tidak pernah lagi bercerita pada saya tentang masalahnya, bukan karena dia mampu menghadapi masalahnya, saya tahu itu, tapi dia menemukan yang lebih baik dari saya, yang lebih peduli, padahal dulu dia selalu datang pada saya, bukannya ingin menyampaikan berapa bayak jasa saya di sini namun keadaanya seperti itu, bahkan tentang percintaanya, jika saya tidak pernah membuatnya menarik lagi keputusannya mungkin mereka tidak lagi bersama, saya selalu bilang untuk percaya diri sendiri, kalau memang masih sayang kamu juga harus berjuang bukan cuma diperjuangkan. Saya ingat bagaimana dulu, sahabat barunya malah menyuruhnya mencari yang baru, bahkan setelah itu apa yang saya lakukan tidak lagi dia ingat, apalagi oleh kekasihnya yang sama sekali tidak ingat apapun yang saya lakukan” Lana tertawa getir.

“Lalu kamu dan dia bagaimana sekarang, masih dekat atau sudah tidak saling berhubungan?” Darren bertanya lagi.
“Kami masih berteman. Saya hanya merasa bahwa posisi saya diambil alih dan rasanya sakit sekali, ketika bagaimana ya kamu banyak ‘berjasa’ lalu kamu dibuang begitu saya, eh, bukan, dia tidak membuang saya, hanya saja dia menjauh, tidak menjauh seperti yang orang lain pikirkan ini terjadi, seperti mengambil jarak, dia masih ada bersama saya, namun menurut saya suasananya, atmosfernya yang sudah berubah, kami sudah bukan yang dulu lagi, kami tidak lagi sama seperti dulu. Bukan lagi teman baik atau sahabat, Kami hanya teman biasa. Meskipun kadang tanpa kami sadari kami coba untuk memperbaiki keadaan, tapi semuanya sudah berbeda, saya sadar betul itu, keberadaan saya sudah tidak lagi diperlukan seperti dahulu. Ada yang membuat dia jauh lebih nyaman, bahkan kadang saya canggung jika harus bersamanya, mungkin karena saya terbiasa sendiri. Dan saya mungkin memang harus sendirian”

To Be continued.........