Minggu, 30 Agustus 2015

We Could Be In Love Oleh Asna Sri Hartati



Mungkin aku terlalu munafik tak mau mengakui perasaanku padanya tapi inilah diriku, aku tak mungkin mengatakan bahwa aku juga mencintainya karna ada seseorang disana yang sangat mengiginkannya. Terkadang aku bingung harus kah aku merelakan seseorang yang aku sayangi untuk orang lain sementara hatiku hancur menerima kenyataan itu, apa aku terlalu baik atau mungkin terlalu bodoh memikirkan perasaan orang lain. Aku tak tahu apa orang itu memikirkanku. Namanya dio seorang anak laki-laki pindahan dari manado. Aku menyukainya namun aku tahu sahabatku juga menyukainya aku terlalu syang pada keduanya jika aku memilih dio aku kan melukai perasaan shabtku itu namun jika aku merelakan dio untuk sahabatku maka aku yang akan merasakan skit yang mendalam. Haruskah aku egois? Aku mengenal sahabatku lebih dahulu dari pada dio, selain berkenalan sejak kami kecil karena rumah kami bersebelahan dan kedua orang tua kami juga merupakan sahabat.
5  bulan yang lalu Dio pindah kesekolah kami, dia merupakan murid pindahan dari manado dia tinggi, putih dengan style yang menurutku keren, dia punya banyak hal yang bisa menarik perhatian perempuan. Termasuk aku dan karla, peretemuan pertama kami dengan dia ketika dia memasuki gerbang sekolah kami dengan menaiki sebuah mobil rush putih bersama ayahnya. Saat memasuki gerbang mobil karla hampir saja bertabrakan dengan mobil itu, dio hanya tersenyum. Ayah dio sangat baik, dia malah meminta maaf pada kami. Mobil itu masuk medahului kami dan berhenti di depan kantor guru, trnyata ayahnya hanya mengantar dio saja. stelah memarkirkan mobil,aku dan karla lalu turun dan menuju kelas. tak lama lonceng berbunyi dan guru-gurupun bergegas menuju kelas yang akan mereka ajar. Bu nadia guru geografi membawa dio menuju kelasnya ya dia di tempatkan di kelas yang berbeda jurusan dengan aku. Dia sekelas dengan karla, aku  di kelas 11  IPA sedangkan dio menuju kelas IPS yng letakkya 1 kelas disebelah kelasku yang juga merupakan kelas karla.
Aku mendengar cerita dari karla tentang dio, ya karla sangat excited saat menceritakannya karla terlihat sangat meyukai dio dan karla memintaku untuk membantunya mendapatkan hati dio. Jujur saja aku bingung bagaimana aku harus membantu karla sedangkan aku sama sekali tidak mengenal dio bertemupun baru sebatas di depan gerbang itupun hanya sekilas saja.
Akhirnya aku menemukan caranya, dio bereteman dengan sahabatku mika, mika satu kelas dengan karla. Aku mulai meminta mika untuk membantu ku membuat karla bisa dekat dengan dio.

*****
SATU
“ mik, lo temenan sama si Dio anak pindahan di kelas lo kan”
“ iya emnag kenapa lo naksir ya?” ucap Mika tanpa menoleh ke arahku
“ haha, enggaklah bukan gue kalik ada teman gue yang suka, mau bantuin gue kan?”
“ bantuin apa?” sekarang wajahnya memandagiku
“ ya bantuin ngedekatin dua orang itu”
“ emangnya siapa sih yang suka sama dio”
“ ada deh entar lo juga tau, kalo mereka udah dekat ya mik ya”
“ mau ya mik, bantuin gue”
“apasih yang gak kalo buat lo sayang” ucapp mika sambil mengusap kepalaku.
Mika memang sering memanggilku dengan sebutan sayang, atau beberapa panggilan mesra lainnya sampai banyak yang mengira aku dan dia berpacaran, padahal Mika sudah punya pacar yang sekarang berada di singapura, pacar mika adalah karina yang adalah teman aku dan mika semasa SMP dulu. Ya, Aku mengenal Mika sudah cukup lama dia temanku dari SMP, mika orang yang sangat baik, dia tampan, dia memiliki bakat di bidang musik, tapi mika mulai berubah sejak SMA aku sering menemukannya di luar kelas saat pelajaran sedang berlangsung, dikantin, merokok, bolos dan sebagainya, dan mika terlalu cuek pada orang-orang disekitarnya, dia tidak mempedulikan orang lain, mika terlalu sering melakukan apa yang dia inginkan tanpa berusaha mempedulikan apakah orang lain suka, apakah orang lain merasa terganggu atau tidak, maklum saja Mika adalah anak orang kaya, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses yang jarang bisa ditemui di rumah, begitu juga dengan ibunya yang sudah mulai menjajaki dunia para sosialita. Entah mengapa aku melihat Mika sepertinya merasa sepi. Namun dia tidak pernah mau menceritakan masalah apa yang terjadi padanya. padahal dulu saat SMP dia sangat sering curhat tentang berbagai masalah yang dia alami, namun sekarang dia menjadi sangat tertutup termasuk padaku.
Rencana pertama yang aku dan mika lakukan untuk mendekatkan karla dan Dio adalah mengajak mereka untuk hangout, hari ini kami mengunjungi salah-satu tempat outbound ya, seharusnya kami berempat. Mika menjemput aku dan karla dengan mobilnya, sementa Dio datang bersama saudara sepupunya. Namanya Dimas, Dimas tidak sama dengan kami dia adalah anak kuliahan, sekarang sudah memasuki semester 4. Kami berjanji untuk bertemu di gerbang tempat itu, dan tentu saja Karla adalah orang yang paling bersemangat untuk kegiatan kami hari ini, karla terlihat sangat menyukai Dio, ya aku bisa melihat dari matanya yang selalu saja bersinar saat memandang Dio dan lekuk bibirnya yang tidak pernah berhenti untuk tersenyum saat menatap Dio, dan juga wajahnya yang sering tba-tiba memerah.
Wahana pertama yang kami coba adalah flyingfox namun kali ini karla tidak berani mencoba, karena dia takut pada ketinggian. Jadi hanya ada aku Dio, Mika dan Dimas saja, Karla menunggu di ujung tempat pemberhentian flyingfox itu. Ya kami semua menikmati permainan itu, menurutku cukup memacu detak jantung.
Wahana berikutnya adalah arung jeram, kali ini semuanya ikut, kami berlima dan juga 2 orang instruktur yang membantu kami. Arus sungainya cukup deras, itu membuat perahu karet kamu meluncur dengan cepatnya walaupun sangat sering terbentur batu, dan juga terbalik. Tapi sayangnya saat  permainan kedua kami itu hujan turun cukup deras sehingga kami harus menghentikan sementara kegiatan kami hari itu. Setelah menganti pakaian kami, kami berteduh di sebuah kedai kopi yang terlihat cukup banyak pengunjung, yang beberapa diantaranya juga memilih berteduh dan menyeduh minuman hangat untuk menghangatkan tubuh.
Kami duduk di sebuah meja di pojok tempat itu, yaa satu di antara beberapa tempat yang harus duduk dengan lesahan. Aku menikmati suasana saat itu, sejuk yang terasa merasuk ke dalam seluruh tubuhku, apalagi kami baru saja selesai bermain air. Dan ternyata semuanya terlihat kedinginan, aku memesan secangkir cappucino hangat, yaa Cappucino adalah minuman favoritku.
Tiba-tiba aku merasa tanganku menjadi hangat, ternyata seseorang menggenggamnya. Mika menggenggam erat tanganku. Anak ini memang sangat sering menggengam erat tanganku. Tapi yang aku tau dia akan menggenggam tanganku saat dia sedang ada masalah, dia sedang sedih, gelisah, atau sedang galau, dan dia sednag ingin bercerita. Atau bisa juga saat dia merasa senang dia juga sering menggenggam tanganku erat, sangat erat bahkan, hingga tanganku terasa sakit, kadang-kadang aku harus  menginjak kakinya agar dia melepaskan genggaman tangannya dariku. Atau bahkan dia hanya berniat ingin menjagaku saja, Mika sudah menganggapku sebagai saudaranya. Maklum saja dia tidak punya saudara permpuan, Mika hanya punya adik dan itu laki-laki namanya Miko, umurnya sekarang 10 tahun. Hari ini sepertinya dia tidak dalam keadaan sedih, atau senang aku melihat ekspresi datar di wajahnya seperti biasanya, yaa aku pikir kali ini dia hanya ingin menjagaku, ya menjaga dari suasana dingin makanya dia menggenggam tanganku.
“yang, siniin tangan lo yang sebelahnya lagi” ucapnya yang membuat wajah Dio dan Dimas berubah.
“apaan sih mik, mau buat apa?”
“yaa, mau gue peganglah yang, ini dingin banget, gue dingin kan kalo pegangan tangan biar anget”
“ noh, pegang tangannya Dio”ucapku sambil menunjuk arah dio yang sedang memperhatikan kami berdua.
“dih malas banget dah, ngapain megang tangan dia, gak ada sensasinya ah” ucap Mika sambil menarik tanganku.
“nah kalo gini kan anget yang” sekarang kedua tanganku digenggamnya, kami duduk berhadapan.
“lo berdua pacaran ya?” tanya dimas
“dih, siapa yang mau sama dia?” ucapku sambil menjulurkan lidah ke arah Mika.
“ahah, gaklah gue sama dia pacaran. Shella ini udah gue anggap kayak adek gue sendiri. Lagian siapa juga yan mau sama dia, gue udah tau luar dalamnya kan yang” ucap Mika sambil terusmenggenggam tanganku.
“adek-adekan lama-lama demen loh. lagian kalian berdua cocok kok, mesra gitu juga” ucap dimas meledek kami berdua.
Aku merasa tidak enak karena mereka mengira aku dan mika pacaran, aku berusaha menarik tanganku dari mika tapi dia tidak mau melepaskannya, dia malah menggenggam tanganku lebih erat.
“mik gak enak ah”
“udah ah biarin aja. gue dingin yang, awas ya lo lepas lagi”
dan pada akhirnya Mika terus menggenggam erat tanganku. Mika sangat manja, namun kadang-kadang dia bisa bersikap sangat dewasa. Entah kenapa balakangan ini aku selalu melihat sebuah kesedihan tersirat dimatanya, seperti ada masalah yang sangat besar yang hanya ingin dia simpan sendiri, aku seperti melihat kekosongan dimatanya, dia terlihat sepi. Hal itulah yang selalu menjadi alasan kenapa aku tidak berusaha mencegahnya memannggilku sayang atau melarangnya untuk menggenggam tanganku, aku tidak bisa melarangnya, aku ingin membuat dia merasa nyaman, dan kau tidak ingin pada akhirnya dia menjauh dan aku kehilangan dia.
Hujan mulai reda namun langit masih terlihat gelap, kami memutuskan untuk pulang. Aku dan Mika kembali menjalankan rencana kami, Mika bilang dia mau mengajakku pergi dulu jadi kami menitipkan karla pada Dio dan Dimas. Ya, mika memang mengajakku pergi, kami pergi ke tempat yang sangat ingin aku dan dia kunjungi, sebuah taman kecil dengan sebuah bangku panjang di tengah taman itu yang letaknya berada tepat di bawah sebuah pohon besar yang sangat rindang. Aku dan Mika dulu sangat sering kesini karena lokasi ini dekat dengan SMP kami dulu, biasanya sepulang sekolah saat Mika menunggu jemputan kami menunggu bersama-sama di tempat ini, biasanya lagi aku akan di antar pulang oleh mika dan supirnya, Ibu panti tidak marah, Ibu sudah mengenal mika, mika sering bermain ke panti biasanya kami mengerjakan tugas bersama-sama namun belakangan  Mika sudah jarang ke panti dulu  biasanya dalam satu minggu dia bisa 2 hingga 3 kali bermain ke panti. Walaupun begitu kami masih dekat meskipun dia mulai menjadi mika yang tertutup tentang masalah pribadinya padaku.
“ udah lama ya mik gak ke sini?”
“gue sering kok ke sini, lo nya aja yang gak pernah, yang udah lupa sama tempat ini”
“gue juga pernah ke sini sebelum ini mik, tapi gak sesering dulu lagi. Ya kita udah lama gak ke sini bareng, biasanya lo sama gue selalu di sini kalu pulang sekolah 2 tahun yang lalu yaa. lo sering ngajarin gue gitar”
“nah lo sering banget gambarin gue kalo lagi tidur” ucap mika meledekku.
“haha, kan muka lo lucu mik kalo lagi tidur bagus tau dijadiin bahan buat iseng-isengan aja”
Mika berjalan mengitari taman itu, terakhir kali aku ke taman ini sekitar 6 bulan yang lalu. Tidak ada yang berubah, hanya saja taman ini terlihat lebih rapi sekarang, tidak banyak terlihat sampah berserakan. Tak lama aku sudah tak melihat mika lagi, dia menghilang dari pandanganku, entah kemana anak itu kenapa dia tiba-tiba menghilang. Aku mencari Mika untuk memastikan dia tidak apa-apa.
 

To Be Continued

Minggu, 16 Agustus 2015

Sampai Jumpa.



Kita tidak hidup dalam keabadian, kapanpun, akhir dapat menghampri kita.

Hidup ini tentang awal akhir, bertahan, melepaskan, bertumbu,h dan berubah, memulai dan juga mengakhiri. Tidak ada keabadian, semua hal diciptakan berpasangaan hanya untuk memberi kenyamanan dan untuk melengkapi.

Kau tahu, kali ini aku berusaha untuk bertahan dengan pikiranku, dan juga melepaskan keinginanku untuk memilikimu.Bahkan ketika keinginan itu hanyalah sebelah pihak aku harus sadar akan tiba waktunya aku harus mengakhirinya.

Aku bodoh, mungkin benar-benar bodoh, aku tahu bahwa kita hanyalah bagian yang hanya bisa saling tahu satu dan yang lainnya tanpa pernah bisa bersama. Tanpa akan pernah berhubungan satu dengan lainnya.

Aku tahu bahwa sampai akhir aku hanya akan menjadi seseorang yang hanya bisa memandangimu, menjadi seorang pengagum rahasiamu. Ya, hanya akan seperti itu. Hingga saat ini. Aku rasa semuanya sudah berakhir, terlalu banyak akhir, bukan hanya waktu untuk bisa mengagumimu, tapi juga keadaan yang harus aku terima.

Sejak awal aku tahu bahwa ketika aku memulai sesuatu maka aku juga harus siap mengakhirinya. Terima kasih sudah menemani waktu yang cukup lama bagiku. Terima kasih setidaknya sudah menjadi seseorang yang bisa aku pikirkan, meskipun semua kini sudah berbeda.

Mari kita hidup dalam kehidupan masing-masing, aku akan hidup dalam duniaku, doakan aku semoga tidak lagi meinginkanmu. Aku akan membiasakan diri dengan ini. Semoga bahagia dengan kehidupanmu. Jalani hidupmu dengan baik. Aku akan mendokan kebahagiaanmu.

Sampai jumpa.

Tidak Lagi Sama



Hidup tidak lagi sama seperti dahulu. Begitu juga kita. Otak, pikiran juga hati kita juga sudah berubah. Tanpa kita sadari.  Banyak hal yang berubah, tentang aku tentang dia, tentang kamu tentang kita. Sangat banyak, bahkan uang yang sealu dipuja-puja manusia sekalipun tidak mampu mengmbalikan kita, tidak mampu mengembalikan apa yang sudah berubah seiring berjalannya waktu.

Perlahan tapi pasti kita memnag harus menjadi seseorang yag realistis dan bisa menerima keadaan bahwa seperti apa pun semuanya pasti akan berubah, karena berubah adalah sebuah kepastian, entah ke arah yang lebih baik atau arah yang lebih buruk.
Kini kita berbeda, ego, pikiran kita menjadi jarak yang sangat menakutkan, ketika kita tengelam dalam pikiran kita masing-masing, berusaha memahami logika, tidak lagi peduli pada apa yang hati rasakan.

Setiap orang perlu berubah, hidup bukanlah sesuatu yang statis, manusia hidup dan berusaha berubaha ke arah yang nantinya menguntungkan. Tidak ada orang yang ingin hidup dengan tidak baik, tidak ada orang yang ingn hidupnya direndahkan.

Kita akan berubah, meskipun lidah berkata “sampai kapanpun kita akan sama, tidak akan berubah”, percayalah bahwa itu hanyalah bualan semata. Kita tidak  akan hidup dalam keabadian, apa yang kamu pkirkan hari ini bisa saja kamu ubah juga hari ini.

Ketika otak manusia seperti kita bekerja, maka saat itu juga apa yang bibir katakan akan berubah. Jarak dan waktu ynag sudah lama menghilang juga akan mengubah segalanya.
Sepuluh tahun lagi jika kita bertemu apakah kita kana masih bisa sama seperti sekarang, bahkan ketika hanya beberapa bulan berpish, tahukah kamu bahkan kini banyak ha-hal janggal, aneh, dan sebagainya yang kita sendiri rasakan.

Aku selalu berusaha realistis pada keadaan karena kutahu bahwa hal-hal tersebut akan sangat menyakitkan bagiku, akan sangat menyakitkan bila kita hanya terjebak dalam situasi yang menjengkelkan itu nanti. Ketika hati dan pikiran kita tidak sama. Aku hanya beusaha menjadi manusia yang coba bisa memahami kedaan, dan juga semua hal dan alasan yang melatarbelakangi apa yang terjadi.

Terima kasih untuk segalanya. Maaf jika nanti semuanya tidak akan lagi sam.