Jumat, 19 Juni 2015

Penyendiri.


 
“Kenapa sendirian?” sebuah suara  membuyarkan lamunan Naura yang sedang berdiri di atap gedung kantor tempatnya bekerja. Dia menoleh dan mendapati seseorang sedang berjalan menghamprinya sambil memebawa dua buah botol minuman di tangannya.
“Gak sendiri kok, kan sekarang ada kamu” ucapnya singkat lalu kembali membuang pandangannya ke arah depan.
Lelaki itu memberikan salah satu botol minuman tadi pada Naura. Naura menyambutnya dengan sebuah senyuman sebagai tanda terima kasih.
“Kamu memang penyendiri ya. Saya sering liat kamu sendiri dimanapun” tanya lelaki itu mulai penasaran.
“Ya begitulah, itu jauh lebih nyman daripada berada dalam kerumunan, terutama saat dalam masalah, sendiri itu jauh lebh baik” jawab naura, sambil berusaha membuka botol minuman yang ada di tangannya.
“jadi sekarang sedang ada masalah” tanya lelaki itu lagi.
“Setiap harinya saya selalu punya masalah, yang saya juga gak tau kapan akan berakhir?” Jawabnya dengan nada datar.
“apa?” kini pandangan leaki itu mengarah pada naura.
“Banyak dan sayangnya saya tidak bisa cerita. Dan tidak ingin bercerita pada kamu atau siapapun” Naura mematahakan pertanyaan dan rasa penasaran itu dengan kata-katanya.
“ok. Tapi bukankah untuk sebagian orang cerita itu bisa mengurangi masalah, setidaknya tidak menanggung beban sendirian” lelaki itu mulai menyampaikan opninya.
“sebagian orang kan,? Saya adalah sebgaian orang dari seberang sana. Buat saya menceritakan masalah pribadi pada orang lain itu haram hukumnya. Kenapa? Karena bagi saya semakin banyak yang tau semakin masalah itu akan memburuk, karena kebanyakan orang hanya ingin tahu tentang masalah kita bukan karena mereka peduli, bahkan sekalipun orang-orang itu peduli  mereka tidak akan tahu apa yang kita rasakan, apa yang ada dalam pikiran kita” Naura kembali menjawab pertanyaan itu.
“Kamu aneh” ucap lelaki itu dnegan sebuah senyuman singkat.
“Saya memang aneh, saya merasa diri saya aneh, kadang aneh dengan keanehan saya, dan kadang  keanehan itu membuat saya takut” – Naura kembali menennggak minumannya, sepertinya perbicangan itu membuatnya merasa sedikit kehausan.
“Menjadi penyendiri dan suka sendiri begini apakah bagian dari keanehan kamu?”
Lelaki itu membalikkan badannya, kini tubuhnya bersandara pada dinding pendek di atap itu.
“ Bisa jadi. Saya terbiasa sendiri, sudah sangat terbiasa. Saya juga mungkin terlalu egois dan tidak peduli-an bagi orang lain. Akan susah bagia saya untuk bisa hidup bersama orang lain, karena saya paling tidak suka yg namanya diganggu atau mereka mengganggu berbagai hal yang seharusnya hanya jadi milik saya, sejak kecil, saya sudah dibiasakan sendiri, bukan karena orang tua tidak ada di rumah, tetapi seperti dikondisikan, ketika saya bermain bersama teman-teman saya ibu saya akan datang menjemput saya lalu mengajak saya tidur siang, atau saya selalu diminta belajar untuk bisa mempertahankan rangking yang saya peroleh selama sekoah. Mungkin mereka tidak tahu bahwa itu membentuk kepribadian saya menjadi penyendiri, karena terbiasa sendiri. Ketika anak-anak lain bermain saya jauh menikmati menbaca buku, atau tenggelam dalam pikiran saya, kenapa saya suka sendiri, karena saya suka berimajinasi, dan dalam imajinasi saya, saya bisa mewujudkan kehidupan seperti apa yang saya inginkan, bahkan tentang cinta.” Naura tersenyum singkat mengakhiri jawaban atas pertanyaan tadi.
“ jangan-janan kamu tidak punya kekasih?” lelaki itu mulai berspekuliasi lagi.
“Jangankan kekasih, bahkan sesuatu yang disebut dengan kata sahabat mungkin saya tidak memilikinya, saya hanya punya teman, tempat dimana saya bisa membagikan kebahagiaan bukan masalah. Bagi saya berhubungan atau menjalin hubungan dengan orang lain, yang berbeda dan mungkin tidak bisa mengerti diri saya itu sangat menakutkan. Saya paling tidak suka diatur oleh oranyang tidak punya hak untuk mengatur kehidupan saya atau mengekang saya, atau meminta saya untuk bisa menceritakan ranah pribdai saya agar dia bisa mnegerti saya, karena sampai kapanpun menurut saya tidak akan pernah ada orang lain yang mengerti diri orang lain. Hanya kita yang bisa mengerti diri kita sendiri dan hanya kita yang tahu bagaimana kita, apa yang kita rasakan. Tidak akan ada orang lain yang bisa melakukannya.” Naura menennggak minuman itu yang sudah tersisa ¼ bagian saja.
Untuk beberapa menit mereka terdiam, larut dalam pikiran maisng-masing, yang satu mungkin mneyiapkan pertanyaan lainyya, yang Satu juga mulai menyiapkan jawaban yang sesuai.
“Kamu orang yang egois ya?” ucap lelaki itu lalu mulai kembali menengguk minuman ditangannya itu.
“ Tadi saya sudah bilang saya memang egois, terlalu egois untuk orang lain dan Saya terbisa menjadi egois pada orang lain. Bagi saya orang lain yang bukan saya tidak berhak berkuasa kan kehidupan saya atau membandingkn saya dengan orang lain, karena mereka hanya tahu apa yang mereka lihat mereka tidak pernah tahu saya yang selama ini bahkan sampai sekarang berkecamuk dalam pikiran saya, dalam hati saya, yang  kadang membuat saya bisa tiba-tiba menangis”
“Tapi apa kamu pernah mencintai seseoranag?”
“Cinta? Mungkin lebih tepatnya suka atau mengagumi. Entah mengapa Saya merasa bahwa saya memiliki kepribadian yang menakutkan, saya terlalu suka untuk bisa hidup sendirian, mencintai dari sebelah pihak. Bagi saya itu sudah cukup, saya menikmatinya, sendirian tanpa harus meminta persetujuan dan memeiarkan mereka masuk dan mengatur kehidupan saya.”
“Lalu, apa kamu tidak pernah menceritakan apapun pada siapapun, bahkan orang tua atau saudaramu, atu mencoba untuk melakukannya?”
“Tidak, bagi saya itu bukan pilihan yang tepat, bahkan itu akan jadi menakutkan , karena saya takut akan memebuat orang tua saya terbebani. Saudara? anda tahu, saya punya seorang saudara laki-laki tapi bahkan saya mersa bahwa saya adalah anak tunggal, kenapa? Karena kami tidak dekat, sama sekali tidak. Jika kami tidak ada urusan yang penting atau hal yang perlu kami bicarakan, tidak akan ada perbincangan, itu tejadi sejak kecil. Dia tidak pernah menanyai kabar saya, bahkan sampai sekarang, saya juga tidak ingin melakukannya, kmai tidak pernah saling mengucapkan selamat ulang tahun atau hal-hal lainnya, mungkin karena dia laki-laki jadi saya merasa tidak nyaman. Saya merasa dia berpikiran seperti anak kecil atau mungkin saya yang masih seperti anank kecil karena berpikiran seperti ini. Entah mengapa menurut saya, dia merasa bahwa orang tua saya pilih kasih dan lebih menyukai saya, tapi kalau dilihat kedaannya dialah yang lebih dimanjakan, dan mungkin kenapa org tua saya terlihat lebih sayang pada saya, karena saya sangat jarang meminta apapun dari mereka, bahkan kalau mereka tidak memeberi, saya tidak akan meminta dan saya juga kadang merasa malu jika harus mengucapkan sebuah permintaan pada mereka.”
“Ap kamu membenci saudaramu?”
“ Mungkin saja.Saya tidak tau mengapa kadang saya sangat membenci saudara saya sendiri, saya paling tidak suka jika disuruh mengurus dia kaena bagi saya, kami sudah sama-sama tua dan seharusnya juga sudah bisa berpikir dewasa dan sama-sama punya otak. Kami seharusnya tahu apa yang akan dilakukan dan tidak harus dilakukan seharusnya bisa dikontrol Saya tidak suka dia yang sangat manja bahkan pernah membuat ibu saya mennagis saya tidak suka. Dia menganggap saya adik jika ada perlu, jika tidak jangan mimpi dia akan menghubungi untuk mennayakan kabar, jangan bermimpi. Dan saya juga lebih berbharap jika saya adalah anak tunggal setidaknya orang tua sya tidka kan merasakan kesusahan.”
Lelaki itu tersenyum singkat, secara tidak sadar, naura terbawa perasaanya dan menceritakan bebrapa bagian keluhan hatinya. “Saya pikir pemikiran kamu cukup kompleks. Entah mengapa bagi saya secara pribadi kamu menarik. Tidak banyak orang yang lebih suka memendam masalahnya sendiri, bahkan beberapa teman saya yang punya karakter introvert dan penyendiri seperti kamu memiliki beberapa orang yang menjadi pilihannya untuk mencertakan maslah yang dimilikinya.”
“Begitulah, saya berbeda, saya bukan kamu, mereka, dia atau siapapun, saya adalah saya,  yang selamanya akan menikmati kehidupan saya sendiri tanpa harus berusaha mengganggu orang lain, dan saya tidak ingin hidup sebagai orang lain. Dan ngomong-ngomong terimakasih.” Naura emmandag ke arah lelaki itu.
“Untuk?”
“Untuk bebrapa menit ini. Kamu membuat saya menceritakan beberapa hal pada kamu padahal sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa saya tidak ingin melakukannya.”
Lelaki itu tersenyum. Kini mereka saling bertatapan.
“Sama-sama. Setidaknya ini bukan masalah, Kamu bilang kamu tidak mau menceritakan masalah kamu. Bagi saya ini ini hanya pilihan hidupmu. Kamu memilih untuk hidup seperti ini, dan kamu menikmatinya, tida ada yang salah dengan itu.”

Kamis, 18 Juni 2015

Tolong, Jangan Hidup dalam Pemikiran Anak-anak.



Kita sudah bukan lagi kanak-kanak, kita seharusnya bisa mengerti bagaimana keadaan yang kita alami. Bukankah kita tahu bahwa hidup menghadapkan kita pada pilihan yang tidak mudah. Kita harus memilih dalam hidup, kita tidak bisa mengambil semuanya yang kita inginkan. Setidaknya beberapa tahun ynag sudah kita lewati bukankah sudah memberi kita, kamu dan aku waktu untuk berpikir bagian mana yang bisa kita ambil, sikap apa yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita selanjutnya.
Jangan terus menjadi anak-anak dalam tubuh orang dewasa.
Bukankah kamu bisa berpikir dan seharusnya mengerti  bahwa tidak semua hal dalam hidup harus kamu miliki.

Keadaan seharusnya menyadarkanmu dan membuatmu bisa mengerti bagaiamana kita bisa memiliki atau melepaskan apa yang memang seharunya dilepaskan.
Kita  tidak bisa kembali lagi kemasa kanak-kanak kala segala kedaan bisa kita kontrol dengan tangisan, kini tangis yang harus bisa kita kontrol, juga emosi kita.
Kita sudahberusia cukup- tua juga seharusnya seiring bertambahnya usia juga sudah harus dewasa dan berhadapan dengan banyak tanggung jawab, juga pilihan yang eharusnya bisa kita ambil.

Tolong jangan bebani dirimu sendiri dengan pikiran, emosi dan perasaan anak-anak ynag selalu mau menang sendiri. 
Bukankah kamu tahu bahwa aku tidak suka anak-anak? Kamu juga tahu apa alsannya.
Bagiku anak-anak terlalu manja, ingin menang sendiri, tidak memedulikan orang lain, selalu berharap keinginanya dipenuhi, ya hal semacam itu, jangan hidup dan memiliki pemikiran seorang anak-anak.
Kamu harus bisa megerti dan jangan menjadi egois
Jangan.


Senin, 15 Juni 2015

Glenn Fredly, Monita Tahalea ft Is "payung teduh" - Filosofi dan Logika

Menempuh jalan yang panjang
Dan penuh dengan likunya
Egoku egomu Mengajar kita untuk Berhenti sejenak

Fatamorgana jalan kehidupan
Selami arti makna
Yang tersimpan di relung jiwa Ooo

Aku kamu dan logika kita
Mungkin memang berbeda
Aku kamu dan cerita kita
Di temukan Dalam kasih sayang semesta Kurnia kita

Katakan padaku
Filosofi apa yang akan kau selami
Amarah dan dendam
Tak bisa lagi untuk kita warisi

Fatamorgana jalan kehidupan
Selami arti makna
Yang tersimpan di relung jiwa Ooo

Aku kamu dan logika kita
Mungkin memang berbeda
Aku kamu dan cerita kita
Di temukan Dalam kasih sayang semesta Kurnia kita

*Music

Aku kamu dan logika kita
Mungkin memang berbeda
Aku kamu dan cerita kita
Di temukan Dalam kasih sayang semesta Kurnia Oooo

Aku kamu dan logika kita
Mungkin memang berbeda
Aku kamu dan cerita kita
Di temukan Dalam kasih sayang semesta Kurnia kita