Jumat, 17 April 2015

Seorang Sepertimu



Waktu memnag tidak akan pernah bisa kita tebak akan membawa kita pada kejadian apa. Tidak akan pernah ada yang tau apa yang akan terjadi dikemudian hari. Tidak akan ada yangtau apa yang akan masih bertahan atau sudah dilupakan. tidak semua kenagan harus dilupakan. Tidak semuanya. Tantangmu, bagiku adalah yang mungkin tidak akan bahkan tidak pernah bisa aku lupakan.

Waktu seolah bergulir begitu cepat, sudah delapan tahun lamanya sejak aku mengenalmu, sejak aku mulai menyukaimu ketika dulu aku masih berseragam putih biru. Aku tidak tau apa yang membuatku seperti ini tidak mampu melupakanmu, hingga saat ini, saat ini. Padahal kita tidak pernah terlibat dalam satu kisah yang sama, kita tidak pernah memiliki cerita yang kita bagi berdua.

Aku mengagumimu, saat itu hanya sebatas itu. Semua berawal dari ketertarikanku pada parasmu dan lama-kelamaan aku menyukai segalnya tentang dirimu. Aku emmenag seseorang yang lebih menikmati waktu mengagumi, mencintai dari sebelah pihak, mengamatimu dari kejauhan, sesuatu yang lebih baik aku lakukan sendiri, setidaknya meskipun sebelah pihak, aku tidak akn dikecewakan, karena sejak awal aku sudah tau konsekuensinya.

Sudah delapan tahun, tapi entah mengapa aku hanya bisa melihatmu saja sebagai seseorang yang mengisi seluruh hatiku. Saat itu bahkan aku barulah seorang anak sekolah menegah pertama, sekarang kamu tahu aku sudah hampir berusia 21 tahun, seorang mahasiswa semester 6, 1 tahun lagi jika sesuai aturan seharusnya aku sudah bisa lulus dari perkuliahan. Namun bahakan hingga sekarang kamu masih ada disana di dasar hati yang paling dalam.

Aku memulai beberapa kisah dengan beberapa orang baru, namun yang paling mendalam masih saja tentang dirimu. Aku mencoba menyukai yang lainnya, namun kamu masih memebekas. Orang bilang waktu bisa menyembuhkan, waktu bisa membantu kita melupakan. Namun, kamu mungkin bagian yang tidak akan terlupakan. Atau mungkin aku yang memang tidak ingin mencoba melupakan? Aku juga tidak tau.

Entahlah, boleh jujur kadang aku lelah, menunggu, aku selalu menunggu keajaiban, kau datang padaku dan menjadi bagian di duniaku, menjadi teman hidupku, menemani masa tua dan menghabiskannya bersama-sama hinggga akhir. Namun apadaya aku bukan bagian dari duniamu dan kau mungkin tak pernah memikirkannya sama sekali.

Ya, aku butuh seseorang seperti itu, bukan hanya mencari seorang pasangan hidup untuk bisa melengkapi kekurangan. Aku butuh seseorang yang bisa menjadi teman hidup, setidaknya di tidak hanya melengkapi namun menemnai hingga akhir, menerima kekuragan dan busa memebaginya bersama. Entah kamu atau yang lainnya, entah di belahan dunia yang mana, entah seperti apa rupanya. Aku mengiinginkan seseorang yang bisa menjadi teman hidupku, menemaniku menghadapi dunia, dan seseorang yangs setidaknya bisa membuatku melupakanmu.