Jumat, 18 Desember 2015

KATA IBU: Tentang Ayahku



Ada yang ingin aku ceritakan pada kalian tentang seseorang yang sangat aku cintai, mungkin kalian juga akan mencintainya seperti aku dan ibuku setelah mendengar cerita singkat ini, cerita ini kudengar dari ibu, ya aku ingin menceritakan tentang ayahku. Ayahku, namanya Gusti Wahyudi, sekarang usianya seharusnya sudah 47 tahun. Ah, andai aku hidup di masa itu mungkin sama seperti ibu aku juga akan jatuh cinta padanya. Sekarang karena akan kuceritakan pada kalian tentangnya.
Kata ibu dulu dia pertama kali bertemu ayah saat mereka sama-sama di sekolah, saat itu masih SMP usia mereka baru menginjak 13 tahun dan di kelas 1 SMP. Ibu bilang ayah dulu tidak seperti sekarang, dia sangat dekil dan jorok, dia bau dan tidak terurus. Kalau boleh aku bilang ayahku sangat tampan, tingginya 180cm dan ibu sangat menyukai mata cokelatnya yang kini menurun padaku, juga rambut keritingnya yang dia biarkan sedikit gondrong, sayangnya rambut itu tidak menurun padaku, ya aku berbagi dari ayah dan ibu.
Ayah dulu katanya sangat nakal, bahkan dia sangat sering dipanggil ke kantor guru BP karena masalah-masalah yang dia buat, dulu ibu bilang dia tidak pernah mengira bagaimana dia bisa jatuh cinta pada orang seperti ayah yang jelas-jelas bukan tipenya. Tapi kata ibu, aku juga akan mencintai ayah jika aku hidup di masa itu, dan tahu bagaiamana perjuangan ayah untuk bisa mendapatkan hatinya.
Dulu, tidak seperti sekarang saat handphone belum terkenal ayah selalu meminta perhatian ibu dengan surat-surat yang dikirimkannya dengan segala puisi cinta di dalamnya, ya Ibu bilang ayah sangat pintar membuat puisi, meskipun masih anak belasan tahun. Ibu bilang ada moment dimana ayah membuatnya sangat terkesan, ayah memang nakal tapi dia juga sangat berbakat.
Ayah dan ibu bersekolah di SMA yang sama lagi, entah kebetulan atau apa, atau mungkin ayah yang mengikuti ibu atau memang mereka memang jodoh. Dari SMP ayah tidak pernah berhenti mengejar ibu hanya saja kata ibu saat SMP ibu masih jual mahal, juga saat SMP mereka masih anak kecil dan ibu juga tidak diperbolehkan untuk pacaran oleh kakek dan nenekku.
Ibu bilang di SMA ayah sempat populer dengan bandnya. Ya, ayah anak band saat itu. Ibu bilang ayah pernah dengan terang-terangan mengatakan saat tampil di atas panggung, tentang perasaannya pada ibu dan menyanyikan sebuah lagu untuk mengungkapkan perasaanya. Aku bisa membayangkannya. Dan sejak saat itu semua orang satu sekolah tahu bahwa ayah menyukai ibu.
Kata ibu dia sempat marah pada ayah karena membuatnya malu. Tapi tidak lama. Kata ibu akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Kata ibu ayah sangat gigih untuk mendapatkan hati ibu. Bahkan ayah sampai datang ke rumah beretmu kakek untuk meminta izin menjadi pacar ibu. Ada-ada saja ayahku.
Kata ibu ayah sangat romantis dan tahu bagaimana membuat ibu selalu tersenyum dan merasa deg-degan  ketika bersama ayah. Kata ibu ayah dulu sering mengiriminya bunga, setiap hari ke rumah. Bukan hanya itu saja ayah sempat merekam sebuah lagu dengan judul nama ibu “Riana”.Ah aku membayangkan bagaimana jika ada orang seperti ayah mungkin aku tidak akan bisa melepaskannya.
Akhirnya ibu dan ayah menikah ketika mereka beberapa tahun lulus dari sma, ibu saat itu sedang kuliah sementara ayah sudah menjadi anggota TNI.
Tapi sejujurnya aku tidak pernah bertemu ayahku, aku hanya mendengar cerita dari ibu. Kata ibu ayah sangat tampan ketika menggunakan seragam kebanggaannya itu. Aku tidak pernah melihat ayah, yang kutahu hanya wajah ayah 15 tahun yang lalu dalam sebingkai foto pernikahan mereka yang tidak pernah ibu lepaskan dari pajangan ruang tamu. Kata ibu agar orang tahu itu ayahku dan suami ibu.
Ayah pergi meninggalkan aku dan ibu ketika aku masih dalam kandungan saat itu. Usia kandungan ibu 6 bulan. Ayah pergi sebagai utusan negara di peperangan,namun sayangnya ayah gugur di medan perang 1 bulan sebelum kelahiranku ke dunia ini. Kata ibu dia tidak pernah membayangkan hal itu terjadi sebelumnya. Mereka belum lama menikah bahkan aku saja belum terlahir ke dunia. Namun sebelum pergi ayah sangat sering mengusap perut ibu kata ibu ayah pernah bilang begini ketika mengusap perutnya
“kamu harus sukses ya nak nanti, kamu harus jaga ibu kamu, kamu harus jadi orang yang hebat”
Ibu juga bilang kalau ayah pernah berkata begini
“kamu harus sayang sama  ibu kamu, jangan jahat, jangan nakal, kamu harus jadi anak yang baik dan menurut pada orang tua, jaga ibu kamu, jaga nama baik keluarga, ayah akan sayang kamu dan selalu menjaga dan mendoakan kamu di manapun kamu berada”.
Kata ibu ayah orang yang sangat baik dan taat agama ayah tidak pernah lupa berdoa dan mendoakan keluarga kami. Ah, ayahku itu orang hebat kata ibu, selain sempat populer dnegan bandnya di SMA, ayah juga ternyata pintar dari segi akademis, ayah selalu mendapatkan rangking pertama di kelasnya. Ayah masuk sebagai pasukan militer karena kakekku juga berasal dari sana. Jadi untuk meneruskan keluarga ayah menjadi pasukan militer.
Ayah tidak pernah melihatku terlahir kedunia, ayah tidak pernah tahu bahwa aku terlahir sebagai perempuan bukan laki-laki seperti yang dia harapkan. Kata ibu ayah sempat memilihkan bebrapa nama untukku dan nama itu semuanya nama anak laki-laki karena ayah snagat menginginkan anak pertamanya laki-laki.
Ah ayah, maaf jika aku terlahir sebagai perempuan tapi, seperti pesanmu aku akan sayang pada ibu, aku akan jadi anak baik, aku akan sukses, aku akan menuurut pada ibu, aku akan menjaga ibu, aku akan menjaga nama baik keluarga, aku akan selalu menyayangi ayah, dan aku juga akan selalu mendoakan ayah, dimanapun ayah berada,aku akan selalu mencintai ayah.




Oleh:
Asna Sri Hartati, 21 Tahun, Lahir di Nanga Pinoh, 27 Agustus 1994. Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak 2012. Suka menulis, menggambar, membaca, dan pecinta hal-hal yang berhubungan dengan korea. Blog: www.asnasrihartati.blogspot.com. Instagram: @Asnasri, Twitter: @asnaasri, Email: Asnasrihartati@gmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar