Kamis, 15 Oktober 2015

We Could Be In Love (Part 3)



DUA
Hari ini ulang tahun dio aku dan Karla diundang, namun lagi kali ini aku tak pergi bersama karla. karla sudah pergi bersama orang yang biasa menejmputnya. malam iniAku menggunakan, gaun berwarna putih, dengan sepatu putih, aku mengurai rambtku yang sedikit ku keriting malam itu dan sedikit memoles wajahku. Mika yang menjemputku malam ini. Mika terlihat sedikit berbeda, mika memakia kemeja berwarna biru tua polos, celana jeans hitam dan jas hitam, dan juga sepatu keds, rambutnya yang panajng dan mulai menegriting tersisir rapi.
Dia menungguku di teras rumah, seperti biasa setelah meminta izin pada mama dan papa kami pergi.
“lo cantik malam ini” ucapnya yang terdengar lembut di telingaku. Ah entah kenapa jantungku berdetak tak karuan mendengar pujian itu.
Kami tiba di tempat pesta Dio. suasana terlihat ramai, maklum saja ini ulang tahunnya yang ke 17. Aku tidak melihat karla bersama dio, padahal dia pergi lebih dulu daripada aku. Dio berdiri menyambut tamu-tamu yang datang malam itu. Dan betapa kagetnya aku, aku melihat karla berjalan bersama seseorang yang aku kenal, Karla dan Dimas, ada apa antara mereka, apa ini jawaban pertanyaanku pada karla dan Dio. Karla ternyata bukan pacar Dio. Aku rasanya senang tapi juga heran. senang karena sepertinya kesempatan untuk mendapatkan hati dio masih terbuka untukku, tapi kenapa selama ni mereka merahasiakannya dariku?
“hai” Karla dan Dimas mendatangi aku, mika dan dio.
“karl” ucapku
“hehe, gue akan jelasin tapi gak disini ya Shell” Karla sepertinya mengerti maksudku.
Sepertinya hanya aku yang bingung di sini, yang lainnya sudah tau apa yang terjadi.
“ nikmatin pestanya ya teman-teman” ucap dio
Karla mengajakku menuju pojok tempat itu. Dia sepertinya ingin menjelaskan apa yang terjadi.
“Shell, maaf ya, selama in gue gak bilang sama lo, dan kalau lo tanya gue gak pernah jawab”
“kok bisa sih karl, bukannya?”
“ceritanya panjang. Dio ternyata suka sama orang lain shell”
“kok lo tau?”
“yaa, setelah hari tiu gue berinisiatif buat deketin dio lewat dimas, dari dimas gue tau tentang siapa yang disukain sama dio. dan gue milih mundur. Ternyata setelah itu dimas sering SMS gue dan dia perhatian sama gue, lama-lama gue dekat dan ngerasa nyaman sama dia”
“jadi usaha gue dekatin lo berdua itu sia-sia dong?”
“gak sia-sia banget kok, karena usaha lo itu, gue bisa sama dimas sekarang”
“tapi kan gak tepat sasaran karl” dengusku kesal.
“yaudahlah, gakpapa, kan kita gak bisa maksain hati orang”
“trus dio suka siapa?” tanyaku penasaran.
“yang pasti bukan gue” jawab karla singkat.
“yaudah yuk pergi” karla menarik tanganku untuk kembali lagi ke pesta itu.
***
Pesta selesai dan aku pulang bersama Mika, di mobil aku menceritakan apa yang karla ceritakan tadi padaku
“gue udah tau kok” jawab mika sambil memegang stir mobilnya.
“tau dari mana?”
“waktu itu gue pernah liat mereka berdua” jawab mika santai
“dan lo gak bilang sama gue?” nada suaraku mulai naik.
“gak maksud gak bilang kok. lagian diokan gak suka sama karla, dia sukanya sama cewek lain”
“hah, lo juga tau itu dan lo gak bilahg? karla juga bilang gitu sama gue, katanya dio suka cewek lain makanya dia mundur”
“gue juga belum lama ini kok tau”
“tapi kenapa gak cerita, lo semua sama aja ya. gak ada satupun yang bilang sama gue”
“kenapa emangnya? kalo gue bilang lo bisa dekati Dio gitu?”
“apaan sih. siapa juga yang mau dekatain Dio”
“jangan bohong, ngaku aja, gue tau kok lo suka Dio kan”
“dih, gaklah kalo gue suka ngapain gue dekatin dia sama karla”
“karna Karla itu shabat lo, dia lo gak mau bikin dia sdih dan patah hati, lo maunya dia senaag makanya lo mau waktu dia nyuruh lo batuin dekatin dia sama Dio padahal lo di situ sakit kan? padahal lo suka sama dio dari awal si Dio pindah. tapi karna karla lo lebih milih mundur. kan?”
Aku diam, darimana Mika tau semuanya, apa dia bisa membaca pikiranku, kenapa dia tahu semua yang akau rasakan dan juga alasannya apa? Ah Mika seeprtinya sangat mengenalku.
“kenapa diam shel, gue benerkan? kenapa lo baik banget sih, kenapa lo mau aja gitu bantuin sahabat lo dekat sama orag yang lo suka, padahal lo sama dia punya dunia masing-masing kan, lo gak tau apa dia mau nanti bantuin lo klao lo minta hal yang sama. Lo sadar gak belakangan lo jauh sama karla kan, tau alasannya kenapa?”
“lo gak ngerti alasannya mik, gue sayang sama karla dia sahabat gue, gue akan bahagia kalu orang yang gue sangat sayangin bahagia, perasaan kayak gitu udah cukup buat gue, gue sayang sama karla udah kayak sayang sama saudara gue Mika”
“shell, lo masih punya gue, lo masih punya keluarga shell, lo punya ayah sama bunda lo, walaupun bukan kandung tapi lo punya orang yang selalu sayang sama lo. Kali ini gue ngerti ya, tapi lain kali gue gak mau lagi liat lo berkorban buat kebahagiaan orang lain, gue tau perasaan lo pasti sakitkan waktu lo liat mereka dekat, karena belum tentu dia mau ngelakuin hal yang sama kayak apa yang lo lakuin seklaipun dia anggap lo saudara, Shella”
Perkataan Mika terus saja terngiang di pikiranku, mika benar aku tidak seharusnya berkorban perasaan seperti itu. Tapi, apa salahnya menurutku tidak ada yang salah jika aku berkorban untuk orang yang aku sayang. Ahh. sudhalah lagian Karla juga sudah punya dimas dan Dio dia menyukai orang lain.
“gue emang masih punya lo, tapi apa lo ngerasa masih punya gue?”
“maksud lo?
“ah, udahlah”
                                                                               ***
Hari ini aku ke perpustakaan untuk mencari buku, dan aku menemukan sosok yang sangat jarang aku temui di sana. Mika, entah apa yang sedang dia lakukan di perpustakaan saat ini, dia terlihat duduk sambil membaca sebuah buku, buku apa? akupun tidak tau. aku menghampiri dia yang terlihat sangat berkonsentrasi.
“Mik, lagi ngapai lo?”
“gak kok, gak ngapa-ngapain” mika langsung menutup buku yang sedang di bacanya. lalu menyimpannya ke bawah
“buku apaan mik, tumben baca buku?”
“bukan buku apa-apa kok” ucapnya segera menutup buku yang berada di tangannya
“bentar yaa gue taruh dulu bukunya” Mika berlari kecil menyimpan buku yang dia baca tadi, anak ini aneh kenapa dia tiba-tiba menyimpan buku saat aku datang?
Tak lama mika kembali lagi dia duduk di sebelahku.
“lo ngapain ke perpustakaan?” tanyanya
“gue nyari bahan buat tugas”
“nah lo? ngapain? tumben amat kayaknya gue gak pernah liat lo masuk perpustakaan deh, seumur-umur kita SMA baru kali ini nih gue liat lo disini”
“gak kok, Cuma lagi bosan aja. dan lagi pengen baca aja”
Aku meletakkan pipiku ke atas meja,dan memejamkan mataku.
CloudnTifa_zps77d6c562.jpg
“Mik” ucapku
“emmm” jawabnya
“Lo tau gak siapa yang disukain sma dio?”
“kenapa? masih ngarep? masih suka sama dia?”
Sekarang mika berposisi sama dengaku, wajah kami berhadapan.
“apa sih kan gue mau tau, soalnya karla langsung mundur gitu pas tau Dio suka sama orang lain. eh btw lo masih suka sama karla?”
“emangnya kenapa?”
“kan nanya mik”
“tau ahh” ucap mika singkap
“ihh, malesian lo mik” aku berdengus kesal mendengar jawaban Mika
Mika hanya tertawa, mungkin menurutnya ada yang lucu dari ucapanku.
“mik kenapa ketawa sih, kan gue nanya serius” ucapku, aku mengalihkan arah wajahku kesebelah kiri. tak lam Mika ternyata berpindah kearahkananku.
“marah yaa, maaf gak maksud ketawa kok”
sekarang dia meletakan dagunya ditangan sambil menatap wajahku.
“mik, apa gue salah ya berkorban kayak gitu?”
“kalo menurut gue sih lo slah”
“ahh, lo mah gitu, nyalahin aja mulu, kasi kata-kata motivasi kek atau apa mik”
Mika mengangkat kepalaku dan memegangnya, membuatnya berposisi lurus dengan kedua tangannya yang masih menempel di pipiku.
dfghjk.png
“Shell, gue mau bilang sesuatu kalo lo sayang lo bilang aja jangan dipendam, nanti bakalan sakit, gimana nanti kalo lo gak bisa bilang lo sayang, atau lo gak sempat bilang lalu dia pergi buat selamanya atau lo yang pergi dan lo sama dia gak tau perasaan kalian masing-masing” Kata-kata Mika menusuk, baru kali ini aku mendengarkan dia berkata sangat bijak, matanya juga menggambarkan ketulusan, Mika terlihat sangat dewasa hari ini. aku mengangguk pelan.
Perasaanku terasa lebih nyaman setelah mendengar ucapan Mika tadi.
Di luar ternyata hujan aku mengajak Mika ke kantin, kami duduk di pojok, aku mengeluarkan handphone, memasang headset, tiba-tiba seseorang datang duduk di sebelahku dan mengambil headset di telinga sebelah kananku. Dan dia adalah Dio, jantungku mulai bedetak tak karuan lagi. Entah kenapa Mika mengambil headset sebelah yang ada di Dio menukarnya dnegan yang ada di telingaku lalu measangnya ditelinganya, Dio melakukan hal yang sama. Dua orang ini aneh. dan aku memutuskan untuk memasngkan kedua headset itu pada mereka berdua saja.
“Nah mending kayk gini daripada lo berdua berebut, kalo gini lo berdua mesra “ ucapku sambil tertawa.
Mereka berdua melepaskan hampir bersamaan headset itu. Aku geli dengan yang mereka berdua lakukan entah ada apa dengan kedua anak itu.
“kenapa dilepas sih, kan lo berdua mau dengerin musik, gue gak papa kok gak denger daripada rebutan kan” ucapku sambil memasanganya lagi.
“dih, males kalo sama dio kan jadinya gak romantis yang” ucap mika.
“apaan sih mik?” aku menoleh pada mika.
“kenapa? gak mau dipanggil sayang nih gara-gara ada dio disini?”
Aku diam, mika gila apa dia ingin membuka rahasiaku?
“apaan sih lo berdua? jadi berantem gitu.” dio tersenyum geli. aku harap dia tidak tau apa yang terjadi.
“kenapa lo di disni di?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan
“kelas gak ada guru. Nh Mika di luar juga
“kalo mika mah, ada atau gaka ada gurunya suka-suka dia mau di luar” ucapku
“lo kenapa disini?”
“kasus yang sama, gurunya gak bisa datang Cuma kasi tugas”
Entahlah, Aku merasa nyaman berada di dekat dua orang in, terasa aman.  Dio sosok yang aku sukai, dan Mika sosok yang selama ini selalu membuatku merasa nyaman, sosok yang sudah aku anggap keluarga sendiri.
Kami bertiga duduk memandagi hujan, tiap kami sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku kembali mendengarkan headsetku kali ini aku dan dio, Mika membiarkannya.  akau suka saat seperti itu, ahh jantungku berdetak sangat kencang, romantis itu yang aku rasakan. Hujan, dan sepasang headset dengan sebuah lagu romantis yang kami dengarkan bersama. Tak lama aku merasa dio menggenggam tangan kiriku, sontak aku kaget saat itu. Tapi wajah dio terlihat santai, dia tak bicara apa-apa. Dia hanya terus saja memandangi hujan, aku melihat ada senyuman di wajahnya. Entah apa yang terjadi padanya, kenapa dia tiba-tiba menggenggam tanganku, ini kali pertama. Tanganku dingin, tentu saja, bukan karena hujan tapi saat ini aku sedang grogi karena Dio sedang menggenggamnya, Dia tersenyum ke arahku untuk memastikan apakah aku keberatan atau tidak. ah, matanya sangat mempesona. Tatapan itu, seolah menyihirku. Tapi tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah tangan yang juga memegang tangan kiriku, genggamannya agak keras, sedikit memaksa, tangan yang sangat aku kenali. Mika melakukan hal yang sama dengan dio, ah anak ini memang sangat suka mengganggu saat-saat romatisku bersama dio. Kini tanganku digenggam oleh dua orang itu. Rasanya sama, hangat. Tapi tentu saja kau jauh lebih suka dio yang memeganggnya, Mika sudah terlalu sering menggengam tanganku sesuka hatinya. Aku berusaha melepaskan tanganku dari mereka tapi genggaman mereka berdua semakin erat saja.
Semakin hari aku semakin dekat dengan dio, sekarang kemana-mana aku jauh lebih sering bertiga aku, dio dan Mika. Walapun kadang-kadang mika tidak bisa pergi bersama kami karena dia masih sama saja masih suka menghilang tanpa kabar. Tapi itu kesempatan untukku bisa jauh lebih dekat dengan dio.Aku baru tau ternyata dio juga suka musik, sama seperti dia juga mahir memainkan alat-alat musik, hari itu dia menunjukan permainan biolanya kepadaku, saat kami sedang berada di ruang musik sekolah. Ah, dia semakin mempesona saja, bukan hanya perangainya yang baik, wajahnya yang tampan. sikapnya yang sangat humble, tapi bakatnya juga. Lelaki ini sepertinya diciptakan dengan sangat sempurna.
Dio mengajakku nonton hari ini, aku sebenarnya mengajak Mika karena aku masih merasa canggung bila pergi hanya berdua bersama Dio, tapi kali ini Mika tidak bisa jadi kami pergi berdua saja. Dio yang mentraktirku menonton, sebuah film romantis. Dio ternyata tau bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan baik. Dia tidak berusaha mencuri kesempatan dengan cara mengajakku menonton film horor, seperi kebanyakan cowok yang sifatnya agak mesum. Selesai menonton dio mengajakku mendiskusikan film tadi, aku suka cara bicaranya saat sedang serius seperti ini, tertata sangat rapi, bahasa yang dia gunakan, intonasi tiap kata yang tersampaikan, dan bagaimana juga dia berusaha memintaku menyampaikan pendapatku tetntang film tadi. Dio sepertinya adalah teman bicara yang baik, dia tidak berusaha selalu mendominasi pembicaraan, dia memberikan kesempatanku untuk berbicara. Dia membuatku merasa nyaman dan dia mengagumkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar