Selasa, 01 September 2015

We could be in love (part 2)



Tiba-tiba aku merasakan seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Dagunya diletakkan di atas bahuku. Dari baunya aku bisa memastikan bahwa itu mika, bau parfumnya yang khas dan juga sedikit aroma rokok tercium dari mulutnya.
“ mik apaan sih peluk-peluk”
“bentar aja yaa”
“ mikk, lo kenapa sih”
Mika diam tak menjawab pertanyaanku. Aku melirik sebentar ke arahnya, dia terlihat seperti sedang menutup mata, ekspresi wajhnya terlihat kalut. Aku membiarkannya memelukku dan aku diam tak lagi bertanya apa yang terjadi, Mika sepertinya sedang merasakan sakit, entah apa itu. Aku belum pernah melihat Mika seperti ini sebelumnya, pelukkannya tidak erat, aku merasakn tubuhnya terasa lemah, dia seperti tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Mika akhirnya melapaskan pelukkan itu, wajahnya tiba-tiba berubah. Ekspresi kalut diwajahnya menghilang, mika yang tadi kembali lagi, mika saat kami datang ke taman itu. Dia menarik tanganku.
“kita balik ya shel. udah mau ujan lagi ini” Dia terus menarik tanganku hingga sampai di mobil.
Aku tak berani bertanya kenapa dia memelukku tadi, yang bisa ku yakini adalah bahwa mika saat ini sedang punya masalah besar yang masih belum siap dia ceritakan pada siapapun. Termasuk aku. Sepanjang perjalanan pulang Mika terus saja bernyanyi mengikuti setiap alunan lagu yang terdengar dari radiio. Mika yang tadi memelukku sudah tidak lagi terlihat, sekarang wajahnya terlihat cerah. Ya, Dia mudah berubah. Aku sudah tidak bisa mengerti dia sekarang. Banyak hal yang tidak bisa aku tebak darinya.
Kami sampai di panti asuhan yang biasa aku datangi, kali ini aku mengajaknya untuk mampir dan dia mau, biasanya dia punya banyak sekali alasan untuk menolak, mungkin saja mika sudah merindukan suasana panti asuhan yang menurutku akan membuatnya merasa tenang. Mika suka melihat anak kecil, kalau ke panti tempat tujuan utamanya adalah ruangan dimana anak-anak bayi. Dan benar saja ruangan pertama yang dia tuju adalah ruang bayi.
Di sana terlihat beberapa orang voulenteer yang sedang mengurus anak-anak kecil yang nasibnya malang itu, bebrapa diantara mereka dibuang oleh orang tuanya didepan panti dan ada juga bebrapa yang memang diserahkan kepanti ini. Untungnya panti ini memiliki banyak donatur dan satu diantara donatur yang cukup aktif adalah ayah Mika.
Mika memandangi seluruh ruangan itu. Baru kali ini aku menemukan ada anak laki-laki yang suka pada anak kecil, ya Mika memang berbeda, itu yang membuatnya terlihat sangat menarik apalagi saat melihat tingkah gemasnya saat melihat anak-anak kecil itu.
“kasian ya mereka yang, masih kecil udah ditinggal sama orang tuanya”
“kan tiap orang udah punya takdirnya masing-masing mika, gue percaya kalau Tuhan punya rencana yang pasti akan indah pada waktunya nanti buat hidup mereka. satu diantara contohnya adalah gue, dari kecil gue gak pernah ngerasain kasih sayang orang tua kandung gue Cuma nenek yang selalu jaga gue dan waktu nenek juga meninggal, gue dibawa kepanti ini dan ketemu sama banyak orang, gue ketemu oma yang sangat luar biasa menurut gue, gue ketemu sama anak-anak yang punya nasib sama kayak gue, tapi gue bersyukur karena ada ayah sama bunda yang mau ngadopsi gue. gue percaya itu juga rencana Tuhan, Tuhan punya alasan kenapa dia masih nempatin gue di panti ini, dan ketemu sama ayah dan bunda. Walaupun sebenarnya gue sangat menginginkan yang namanya kasih sayng dari orang yang punya hubungan darah sama gue. Tapi, tuhan udah terlanjur manggil mereka semua, dan dia kasih gue orang tua asuh yang sangat luar biasa yang nyanyangin gue udah kayak anak kandung mereka sendiri.”
Mika tersenyum mendengar jawabanku, sepertinya itu menandakan bahwa dia mengerti dan setuju dengan apa yang aku ucapkan tadi.
“eh, gue mau ketemu oma dong” ucapnya padaku.
Tapi sayangnya saat itu oma sedang tidak dipanti, seminggu terakhir oma sdang pergi keluar kota menemui keluarganya yang da di surabaya.
“yaah, oam gak ada mik, oma lagi disurabaya mungkin dua atau tiga hari lagi baru balik”

Mika mengantarku pulang ke rumah.
“ohhh, eh btw karla udah pulang belom”
“ohh iya, cari dia yok, biasanya dia kalo lagi seneng pasti ada di teras belakang rumahnya deh”
Aku dan mika berlari menuju teras belakang rumah karla  setelah meminta izin pada mamanya, dan tentu saja kami menemukan karla yang sedang duduk, dia tersenyum-senyum sendiri. Karla pasti sedang membayangkan wajah Dio. Karla memang selalu seperti itu. Anak itu kalau yang namanya sudah senang memang ekspresinya selalu seperti itu.
“gimana karl, berhasil?” tanya Mika.
“berhasil apaan sih?” ucap karla sembari menyembunyikan wajahnya yang sedang berseri-seri.
“ahh, jangan bohong karl. gue kalik yang kasih kesempatan buat lo biar bisa dekat sam Dio”
“hehhe, iyaa mik iya. makasih”
“jadi?” tanyaku
“jadi apanya?
“yaa progressnya gimana?” sambung mika
“ Yaa gitu deh. Dia baik pokoknya, gak salah sih gue”
Ya, karla sepertinya semakin menyukai Dio, matanya menggambarkan bahwa dia sangat sengan hari ini. Dan mika memutuskan pulang karena hari sudah mulai gelap.

***
Besoknya Aku tidak menemukan Mika di sekolah, hari ini dia tidak masuk lagi. Dia tidak mengabariku, tidak ada yang tau kabarnya. Mika menjadi semakin misterius, dia terlalu sering meghilang tanpa kabar lalu mncul begitu saja, dia terlalu menutup diri. Aku tidak bisa mengerti Mika. Hari ini di sekolah aku menemani Karla di kantin, Dia semakin dekat dengan Dio. Aku merasa hanya seperti obat nyamuk saja jika sudah ada mereka berdua walaupun kadang-kadang Dio mengajakku berbicara. Biasanya ada Mika yang bersama kami. Aku khawatir, aku mencoba menelpon ke hanphonenya tapi tak diangkat, akhirnya aku putuskan menelpon kerumahnya. masih juga tak ada yang mengangkat. Aku semakin khawatir. Jadi aku putuskan sepulang sekolah aku akan kerumah Mika . Aku meminta karla mengantarku. saat sampai di depan rumah itu, rumah itu  terlihat sepi, tidak ada aktivitas, yang aku temui hanya seorang satpam, yang sudah cukup mengenalku.
“misi pak”
“eh, non Shella. ada apa non?”
“Mika mana pak?”
“den Mika, den Mika sedang keluar kota non sama Ibu”
“ohh, sejak kapan pak?
“kemaren malam Non”
“kalau boleh tau, pulangnya kapan?”
“saya gak tau Non. kenapa Non Shella gak menghubungi mas Mika ke Hanphonenya saja?”
“saya sudah nelpon dan SMS pak, tapi gak ada jawaban sama sekali”
“ohh, gak masuk non?”
‘gak lah pak, gak ada Mika nya. kalau gitu saya pulang dulu ya pak. kalu Mika pulang bilangin saya nyariin”
Dan aku memutuskan pulang karna aku tidak bisa menemui Mika di rumahnya, dalam perjalanan pualng di sebuah Mini market aku melihat seorang wanita yang sepertinya aku Kenali. Wanita itu adalah ibunya Mika, tapi dia tidak bersama Mika. aku melihat ibu Mika keluar dari Mini merket itu dengan menenteng beberapa kantong belanjaan lalu masuk mobil. Pertanyaan muncul dibenakku. Cepat sekali mereka pulang dari luar kota padahal baru berangkat malam kemarin, lalu mana Mika? Aku tak melihat Mika disana. Entahlah aku tidak mengerti.
Di rumah aku masih terus berusaha menghubungi Mika di telepon yang ke 10 dan 5 SMS yang aku kirim akhirnya aku melihat sebuah panggilan masuk, tertera Nama “Mikael Jonathan” aku segera mengangkat telepon itu, orang inilah yan membuat aku khawaitr seharian ini.
“lo dimana sih mik, kenapa gak masuk sekolah, kenapa gak ngabarin gue, kenapa gak angkat telepon gue, kenapa gak balas sms gue, kenapa ngilang gitu aja, kenaap”
aku langsung menjejarinya dnegan sejumlah pertanyaan, akau sangat khawatir pada Mika.
“udah?” hanya itu jawabannya atas banyak pertanyaan yang aku lontarkan.
“gue gak papa kok, shel, jangan khawatirin gue, gue baik-baik aja. Malam ini jalan ya, gue jemput jam 7 di panti”
“tapi”
Tak sempat aku megiyakan atau menilka ajakan itu. Mika sudah menutup teleponnya. Anak itu masih sama saja. Masih seenaknya. Dan Mika benar-benar datang menejemputku, untungnya aku sudah siap aku tau karakter anak itu, kalau sudah janji apalagi dia yang mengajak pasti akan dia tepati. Malam ini Mika terlihat seperti biasa, Mika dengan Jeans dan baju kaosnya serta sebuah cardigan cokelat yang aku berikan padanya, serta sepatu keds aku suka stylenya yang seperti ini. Karena dia yang seperti ini membuat aku mengenal lagi Mika yang dulu aku kenal, rambutnya yang mulai panjang terlihat berantakan, serta sebuah anting kecil tindikan di telinganya yang selalu dia pasang seusai sekolah. Aku menyukainya kali ini, Dia mika yang sama mata cokelatnya dan senyuman khasnya juga tak berubah, dan lambaian tangannya yang tetap dan akan masih sama seperti dulu. Dia memarkirkan Mobilnya diluar gerbang rumah, dia menjemputku ke teras disana jga ada mama yang sedang menemaniku mengobrol selagi aku menunggunya tadi. Mama menyambutnya dengan wajah senang. Karena cukup lama mama tak menjumpai Mika. Mika menyalamai dan mencium tangan mama.
“kalian pulangnya jangan malam-malam ya”
Ucap bunda saat aku dan Mika meminta izin untuk pergi
“siap tante gak akan malam kok, aku antar shella pulang sebelum jam malam rumah deh” mama tersenyum mendnengar jawaban Mika. “jagaa shella ya Mika, awas kalu dia kenapa-napa tante cubit kamu”
“tenang aja tante, kapan sih Mika gak jagain shella” ucap Mika lagi meyakinkan mama
“yaa udah bunda, shella sama mika pergi dulu ya”
Aku dan mika pun pergi. Mika mengajakku pergi ke taman itu lagi, taman kami. Aku sebelumnya belum pernah pergi ke taman itu malam-malam, dan aku tak tau suasana disana akan seperti apa jika malam hari. Kami tiba di sana, taman itu ternyata terlihat indah pada malam hari, lampu-lampu terlihat menyinari sekeliling taman itu. Terlihat juga ada beberapa orang yang pacaran sedang berada di sana. aku tak tau mengapa Mika mengajakku kesini mala-malam begini. Kami menuju bangku panjang itu.
“duduk” katanya
“mau ngapain mik, kesini malam-malam. gue pertama kali kesini malam-malam.”
“gak ngapa-ngapain kok shell, gue Cuma pengen ngajak lo mandangin bintang dari sini, lo gak pernah tau kan tempat ini bagus banget buat liatin bintang” ucapnya sambil menegadahkan kepalanya kelangit.
Malam ini bintang terlihat sangat banyak dilangit. Aku memandangi wajah Mika terlihat raut sedih di wajahnya. Entahlah aku tak mengerti apa alasannya. Aku ingin betanya namun aku tak berani, aku berharap dia mau mengatakan itu padaku.
Mika menarik tanganku agar aku duduk lalu dia membaringkan kepalanya di pangkuanku.
“Mik apaan sih, gak enak diliat orang”
“udah ah, jangan peduliin orang, peduliin aja diri kita sendiri. Gue capek, jadi gue numbang baring bentar aja”
Mika memejamkan matanya, wajahnya terlihat damai, kalau sednag seperti ini wajah mika sangta polos sepertinya.
“gue mau cerita sama lo” ucapnya sambil terpenajm.
Sementara itu aku terus mempermainkan rambut mika yang menutupi bagian atas mukanya.
“lo denger gak sih gue mau cerita” ucapnya sambil menagkap tanganku yang tak henti bergerak mengacak-acak rambutnya.
“iyaa denger, mau cerita apa”
Aku berhenti mempermainkan rambutnya, dan sekarang aku menatap jelas wajahnya dan kedua bola matanya yang berada tepat didepanku, kami berpandangan cukup lama.
“ menurut lo gimana kalo ada seorang sahabat yang suka sama sahabatnya”
“ kenapa emangnya?”
“ dih, gue kan nanya pendapat lo kenapa malah lo yang nanya lagi. jawab dulu”
“iya,iyaa”
“ kalu menurut gue sih, kalau ada seseorang yang suka sama sahabatnya itu biasa sih, kita kan gak tau gimana perasaan seseorang, siapapun itu kalau orang itu bisa ngebuat seseorang itu ngerasa nyaman gue yakin dia gak akan mandang orang itu siapa, dia pasti akan suka”
“lalu?”
“ apanya yang lalu?”
“ ya lalu gimana apa orang itu harus diam aja dan negbiarin perasaannya tumbuh makin dalam, dan gak bilang sama sahabatnya, atau bilang dengan resiko nanti meraka jadi jauh”
“ yaa, ini friendzone, seseorang yang ngerasa nyaman sama orang lain tapi terjebak dalam situasi orang itu adalah sahabatnya, dan dia bingung harus gimana, mau ngungkapin atau biarin gitu aja, yaa dengan resiko masing masing. kalu gue sih, gue gak bisa yang kasi pendapat banyak yaa, ini sebenarnya balik lagi sama diri orangnya masing-masing. Semua yang ada dalam hidup kita itu punya resikonya sendiri, kalo lo kayak gini lo bakalan gini, tapi kalo lo gak kaakk gini, lo bakaln gini. yaa, kalau gue sih gue pilh keputusan terbaik yang akan jadi baik buat semua pihak”
“ohh, keputusan terbaik yaa? tapii apa lo gak nngasi jwaban yang nyelesain masalah ah, malh bikin makin bingung”
“emangnya siapa sih mik yang lo tanyain itu”
“bukan siapa-siapa”
“jangan-jangan itu gue, yaa jangan bilang lo jatuh cinta sama gue?”
“otakk lo, kayaknya lo pengen banget gue suka sama lo”
“ngaku deh”
“kaloo iya kenapa, kalo nggak juga kenapa?”
Mika tiba-tiba bangun, dam duduk lalu berdiri dan lari.
“gue mau pipis dulu” ucapnya sambil berlari.
Mika berlari ke arah belakang sangat cepat, sampai aku sudah tidak bisa lagi mengamatinya. Aku masih saja memikirkan apa yang mika katakan tadi, friendzone, entah siapa yang mika maksud.
Mika kembali lagi, dan dia kembali berbaring lagi dipangkuanku, Mika memejamkan matanya cukup lama, aku melihat seperti ada kegundahan dimatanya, aku tak tau apa yang terjadi, aku tak berani menanyakannya, biarkan saja hanya dia yang tau, karena aku tau Mika dia kalau punya masalah dan memang ingin memberitahu padaku, dia pasti sudah bilang, tapi jika dia memeg hanya ingin menyimpan maslahnya sendiri, dia akan simpan itu sendiri.
 “ lo lapar?” ucapnya-tiba-tiba setelah cukup lama kami diam.
Sepertinya dia mendengar suara perutku yang terus saja berbunyi, aku memang lapar karena saat pergi tadi aku tidak makan aku pikir mika akan mengajakku makan, makanya aku sengaja tidak maka.
Aku hanya tersenyum pertanda mengiyakan pertanyaannya tadi.
“yaa udah kita cari makan” ucapnya.

Kami pergi mencari makan disebuah cafe yang tak jauh dari tempat kami tadi. Cafe ini punya acara live musiknya. Aku dan mika duduk di meja pojok dekat jendela. Terlihat seorang laki-laki dan perempuan sedang duduk di kursi dipanggung sepertinya mereka akan menyanyi. Tak lam trdengar alunan sebuah nada yang cukup aku kenali. Lagu yang aku kenali.


Be still my heart



Lately its mind is on it's own
It would go far and wide
Just to be near you
Even the stars
Shine a bit bright I've noticed
When you're close to me
Still it remains a mystery

Anyone who seen us
Knows what's going on between us
It doesn't take
a genius
To read between the lines Brad: ohh
And it's not just wishful thinking
Or only me who'
s dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love

I ask myself why
I sleep like a
baby through the night
Maybe it helps to know
you'll be there tomorrow

Don'
t open my eyes Ohhh
I'll wake from the spell I'
m under
Makes me wonder how Tell me how
I could live without you now

And what about the laughter
The happy ever after
Like voices of sweet angels
Calling out our names
And it's not just wishful thinking
Or only me
who's dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love
All my life
I have dreamed of this
But
I could not see your face

Don't ask why two such distant stars
Can fall right into place

Oh, it doesn't take
a genius
To know what these are symptoms of
We could be Lea: ohh
We could be, we could be in love

Could be in
We could be in love



sebuah lagu dari  Lea Salonga ft Brad Kane -We Could Be In Love. Aku sangat suka lagu ini, Nuansa akustik dan romantis snagta terasa disana. Lagu ini sebenarnya adalah lagu favorit aku dan mika.
“Mik, lagu kita nih” ucapku
“ohh iya,udah lama kita gak nyanyiin lagu ini bareng shell” ucapnya sambl sibuk dengan gadget di tangannya.
“iyee, gue udah jarang liat lo main gitar”
Kami mendengarkan lagu itu dengan serius, ada kerinduan dalam diriku tentang lagu ini. Aku merindukan suasana dulu saat Mika masih sama, Mika ketika SMP mika yang terbuka, mika yang ceria, mika yang akan terus mengeksplor kemampuannya.
“gue kangen dulu deh mik?”
“kangen dulu” ekspresi wajah mika berubah seperti sedang memeprtanyaankan ucapanku tadi, nada suaranya juga.
“iya, jaman SMP dulu. Waktu kita masih sering cerita dan terbuka satu sama lain. geu kangen”
“ sekarang kan masih”
“tapi udah gak kayak dulu. ada yang berubah”
Mika diam sepertinya dia merasa dan sadar tentang apa yang aku katakan, dia yang berubah, dia yang berbeda. Mika mengubah topik prmbicaraan kami, banyak hal yang kami bhas selama makan. Mika mengantarku pulnag seperti janjinya, sebelum jam rumahku pukul 21.30. Selama di mobil kami diam, tak banyakk bicara.


Hari ini mika sekolah, aku menemuinya berdiri menungguku ditempat parkir, pagi ini aku tidak bersama karla katanya tadi pagi dia dijemput, tapi tidak tau siapa, jadi aki diantar oleh supir di rumah Kami berjalan bersama menuju kelas kami yang bersebelahan. Terlihat beberapa pasang mata mengamati kami, karena Mika menggenggam tanganku. Wajahnya tersenyum senang. kami sampai di kelas.

“bye sayang ucapnya” sebelum melanjutkan perjalanan ke kelas nya yang berada tepat disebelah kelaku.
Anak-anak yang lain sudah tau seperti apa aku dan Mika jadi mereka biasa saja walaupun masih ada beberapa yang sering meledekku. Namu aku juga sudah biasa, aku tidak bisa membuat mika merubah sikapnya yang seenakknya menaggilku syang. Utung saja aku tidak punya pacar. Walaupun aku menyukai seseorang. Ya Dio yang juga disukai karla, aku masih suka melihatnya walaupun hanya dari kejuhan dan walaupun aku juga membantu mendekatkannya dengan orang lain. Untukku itu cukup, setidaknya aku bisa tetap memeprtahankan dua hal, sahabat an rasa sayangku walaupun sakit. Aku harap dia akan bahagia bersama karla.

Satu Minggu berlalu aku pikir karla sudah jadian dengan Dio karean setiap malam pagi, siang sore pasti ada yang menelponnya. sepertinya handphonennya tidak pernah berhenti berbunyi, dia sering tidak aa di panti, kalau pagi dia sering dijemput. Karla sekarang jarang bercerita padaku setiap aku tanya bagaimana hubungannya dengan Dio dia hanya tersenyum aja. Aku menyimpulkan itu adalah isyarat bahwa mereka sudah jadian. Belakangan karla agak jauh dariku, kami jarang pergi bersama kesekolah lagi, dia sering pergi duluan karena ada beberapa urusan dan tak jarang dia dijemput oleh seseorang. Sementara aku yang masih belum berani menyetir mobil di jalan raya selalu dianta supir atau kalau sempat biasanya ayah yang mengantar atau dijemput oleh Mika. Di rumahpun walaupun rumah kami bersebelahan aku sudah jarang mengobrol dengan karala, karena aktvitas sekolah yang belakangan semakn padat, apalagi karla yang ikut ekstrakulikuler basket, dia biasanya pulang kerumah sangat sore bahkan karena sehabis sekolah selau menghabiskan waktu untuk latihan.  Karena sebentar lagi akan ada pertandingan kejuaraan antar sekolah se-Bandung. ya aku merasajauh dari sahabatku iyu kadang-kadang saat dia ingin ngobrol aku yang tidak sempat, tugas sekolah sangat menyita waktuku jadi kami sekarang kurang punya waktu brsama, dan cerita. Kadang-kadang bertemmu disekolahpun itu hanya duduk-duduk dikantin saja sebelum teman-teman krla atau teman-temanku yang lain datang mengampiri kami.
Aku duduk Di teras depan kelas, sekolah sebenarnya sudah usai namun sore ini aku sengaja menemani karla latihan , karena dia meminta aku menunggunya. Aku mengamati karla dan teman-temannya sednag latihan basket. karla terlihat sangat hebat memainkan permainan itu, kulit puithnya terlihat semakin eksotis karena dia sering menghabiskan waktu dibawah sinar matahari. Aku memegang minuman karla yang tadi sebelum mulai latihan dia titipkan padaku. Karla memang berbakat dibidang olahraga, SMP dulu dia juga merupakan atlet di sekolah.
Seseorang menghampiriku saat aku duduk, dan dia adalah Dio. Dio menemaniku duduk saat ini, entahlah hatiku msih saj tidak karuan saat bertemu orang ini.
“belum pulang shell?” tanyanya
“lagi nungguin karla di”
“oh. dia jago ya main basketnya”
“dia emnag bakat kalau olahraga”
“oh iya, kok lo gak sama karla?”
“maksudnya?”
“ya, tumben aja karla sore ini minta tungguin biasanya dia selalu ada yang antarjemput. Lo kan?”
“gue?” wajah dio terlihat bingung mendegar pertanyaanku tadi.
“iya. kan lo dekat sama karla. udah jadian kan lo berdua?”
“hah?” dio kaget dan ulutnya terbuka.
“ngaku aja di? kan gue sama Mika dekatin lo berdua”
“Ohh.” Dio hanya tersenyum. dia tidak menjwab pertanyaanku.
“pertanyaan gue dijawab dong di?” desakku padanya
“lo akan nemuin sendiri jawabnnya. Tanya karla ajalah”
“dia gak pernah ma jawab, dia Cuma senyum-senyum aja, angan buat usaha gue sama Mika sia-sia dong”
“Lo akan nemuin jawabannya sendiri kok Shell” ucapnay mengusap lembut kepalaku. lalu dia pergi.
“ Di, mau kemana?”
“balik”
Dan dio berjalan meninggalkan aku yang masih diselimuti rasa penasaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar