Minggu, 03 Mei 2015

de mémoire: Tentang Kita



Kembali ke kota ini membuat aku mengingat semua kenangan tentang dia, sudah cukup lama kami tak besua, sudah lebih dari lima tahun. Entah apa kabarnya sekarang? Mungkin dia sudah menikah, memiliki anak dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Aku harap begitu. Tapi, apakah dia tambah tampan? Kurus? Ataukah gemuk seperti kebanyakan pria yang setelah menjadi bapak-bapak biasanya akan gemuk dan perutnya buncit. Ahhh, aku geli jika harus membayangkan jika dia menjadi gemuk dan buncit.

Setelah menyelesaikan perkuliahanku selama tiga tahun 7 bulan aku memutuskan untuk kembali ke kampung halamanku yang jaraknya jika naik bus dari kota tempat aku kuliah memakan waktu sekitar 10 hingga-12 jam. Namun aku hanya bertahan selama 2 tahun di sana, aku diajak oleh temanku sewaktu kuliah untuk mencoba perintungan di bali, kebetulan aku aku bekerja di sebuah perusahaan interior desain.  Setahun di bali semuanya menyenangkan, aku dan dia memutuskan mencoba membuka usaha untuk mengisi waktu kosong setelh kami menghabiskan waktu kosong setelah  kami bekerja, kamik membuka sebuah kedai Cappucino. Dan aku bersyukur dalam waktu dua tahun usaha itu berkembang cukup baik dan kami sudah mmebukan dua cabang lainnya meskipun masih di kota yang sama. Hingga akhirnya, pada tahun ketiga di bali aku berinisiatif untuk kembali, tujuan utamaku sebenarnya inigi kembali ke kampung halamanku, dan mengajak kedua orangtuaku untuk tinggal bersamaku di bali. Karena aku suda berjanji pada mereka, jka kau sukses aku akan memebawa mereka bersamaku. Dan, aku memilih singgah sebentar di kota ini untuk 2 hari selain juga ingin bertemeu dengan beberapa teman lama, aku juga sebenarnya ingin bertemu dengannya.

Ini mungkin bukan tentang cerita cinta yang bahagia, ini hanya seberkas kisah antara aku dan dia, yaa kami dulu, Aku ingat ketika pertama kali aku melihatnya, yaa aku yang lebih dahulu melihatnya. Saat itu, aku sudah memasuki perkuliahan pada semester kedua. Awalnya tidak ada yang spesial hanya saja, parasnya menarik perhatianaku, aku suka melihatnya apalagi lesung pipinya, aku suka saat dia tersenyum. Itu saja. Kami tidak saling mengenal. Kami hanya terlalu sering berpapasan atau bertatap muka dan hanya tahu satu dan yang lainnya tepatnya hanya kesan “aku sering bertemu dnegan orang ini, wajahnya tidak asing” seperti itu.

Namun, kisah itu berubah saat kami dilibatkan dalam suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh kampus, kami panitia dibidang yang sama. Dokumentasi. Ya, aku memang menyukai fotografi karena itulah, ketika kegiatan itu direncanakan aku menawarkan diri untuk bergabung pada panitia dokumentasi. Aku tidak pernah tahu bahwa dia juga berada di bidang ynag sama. Dan saat itu aku mengenalnya. 


Namanya Awan, Ananda Raditia Rahwana lebih tepatnya. Lahir 2 Agustus 1992. Program studi Desain Komunikasi Visual. Angkatan 2010. Ketua bidang dokumentasi. Ya, dia yang menjadi koordianator pada panitia bidang dokumnetasi. Kegiatan itu dilakukan satu bulan lagi setelah pembentukan panitia. Setiap bidang diarahkan untuk melakukan bimbingan terhadap para panitia yang berasal dari mahasiswa baru. Dan saat itulah semuanya dimulai.
Hari itu, kmai melalukan rapat di dalam aula music. Jumlah panitia dokumentasi sekitar 10 orang, setiap orang diberi tugas untuk mendokumentasikan acara-acara tertentu sesuai pembagian. Dan setiap mahasiswa baru yang ikut akan di bagi dalam kelompok bersama panitia yang berasal dari para senior. Dan aku  berada dalam satu kelmpok dengan dia Awan. Semua biasa saja awalnya, kami hanya sedikit canggung Karena memang tidak saling mengenal, hanya saja merasa tidak asing dengan wajah masing-masing. Masing-masing kelompok diharuskan melakukan pelatihan selama satu minggu, jadi selama satu minggu kami harus mencari objek fotografi dan memastikannya bagus, memang cukup Ribet menurutku. Sebelumnya aku tidak pernah berada dikepanitiaan yang harus seperti ini, namun hal ini dilakukan untuk membuat semua keadaan terlihat sempurna , apalagi doumentasi sangat penting untuk mengabadikan setiap kegiatan dan acara yang akan dilakukan yang merupakan event terbesar dari kampus kami.


Kamis, 22 April 2013. Pukul 15:00.
Hari itu hari pertama aku dan Awan melakukan pelatihan, menurut perjanjian yang sudah kami buat, kami akan bertemu di taman belakang kampus. Di situlah lokasi pertama yang akan kami gunakan untuk melatih kemampuan fotografi kami. Namun, sejak pagi langit terlihat mendung, meskipun tidak kunjung hujan namun langit terlihat sangat gelap. Seusai perkuliahan hari itu aku langsung menuju lapangan tersebut dan aku menemukan Awan sudah berada di sana, dia terlihat sedang megambil beberapa gambar dengan kameranya.
Aku berhenti sebentar dan memilih untuk mengamati moment itu, juga mengambil gambarnya diam-diam. Aku terlalu agresif, impulsif? entahlah mungkin iya. Aku hanya mengaguminya dan senang memandanginya seperti ini. Apalagi ketika lesung pipi, di kedua belah pipinya mulai keliahatan, aku juga ikut tersenyum itu yang paling aku sukai darinya. Setelah menunggu beberapa menit aku melangkah menuju tempatnya, dia menoleh dan tersenyum. Itu awal aku dan dia saling mengenal satu dengan yang lainnya.
Kegiatan hari itu berlangsung sangta menyenangkan, dia membuat suasana menjadi tidak canggung, di sangta baik dan banyak bercerita. Tapi sayangnya cuaca hari itu tidak mendukung 45 menit setelah kami mulai mengambil gambar hujan turun dan kami terpaksa harus berhenti, kami mencari tempat beteduh. Orang-orang mulai berdatangan dan memenuhi sesak tempat itu, mencari cara agar tidak kehujanan, aku juga dia. Kembali, di tengah keramaian itu kami dia memulai perbincangan. Tema yang diangkat kali ini adalah hujan sesuai apa yang terjadi saat itu.
“Punya kenangan tentang hujan?”
“Apa yaa? Kebasahan’ jawabku singkat.
“Bukan kenangan seperti itu, yang berhubungan sama cinta?”
“ Tidak. Tidak ada yang spesial tentang hujan, yang aku ingat hujan selalalumembuat orang-orang basah seperti saat ini dan menghentikan kesibukan atau orang-ornag yang bertujuan pergi ke suatu tempat untuk bebrapa saat”
“ Aku punya kenagan tentang hujan”
“apa?’ tanyaku penasaran
“Bisa terkurung bersama bebrapa orang yang tidak dikenal di suatu tempat yang asing, melihat bagaimana tingkah polah mereka menaggapi hujan dan mengenal seseorang yang spesial saat hujan.”
Saat katakata itu kelaur entah mengapa seperti ada sesuatu yang menusuk ke dalam jantungku, rasanya sesak, sangat sesak, padhal dia hanya berkata seseorang, seseorang yang spesial, entah siapa orang itu, dan apa urusanku merasakan rasa sesak yang teramat menyiksa seperti itu, dia bukan siapa-siapa kami baru saja mengenal, tapi apakah aku sudah menaruh rasa yang lebih dari sekedar suka memandanginya? Ya, aku mengamatinya selama bertahun-tahun hanya mengamati sebatas itu sebenarnya, tapi, mungkin aku salah semuanya lebih dari sebuah ketertarikan, mungkin ini sudah berhubungan dengan perasaanku.
“Seseorang yang spesial?” aku memberanikan diri bertanya, siapa orang itu.
“Bagian dari masa lalu sebenarnya tapi, yang paling membekas di hati” jawabnya sembari tersenyum, dia sepertinya sedang mengingat moment itu, dan membayangkan orang yang beruntung itu.


BERSAMBUNG...........


Tidak ada komentar:

Posting Komentar