Senin, 23 Maret 2015

Lelaki Abu-abu




Banyak yang mengatakan bahwa perbendaan itu indah, sayangnya masih banyak orang yang tidak bisa menerima perbedaan. Hidup dalam kotak-kotak yang diciptakan sendiri oleh manusia. Hidup dalam pengkotakan berdasarkan iman yang hanya bertujuan pada satu Tuhan. Hidup dalam segala hal yang masih dianggap tabu dan tidak biasa. Hidup dalam perbedaan. Tidak mudah menjadi berbeda, dan tidak mudah juga menerima perbedaan.

Di sebuah sore, aku berjalan sendirian menyusuri sebuah jalan kecil di pinggir danau, sekitar pukul 16.00 hari itu hari sabtu. Aku menikmati cuaca hari itu yang terasa sangat nyaman, tidak panas, cenderung dingin, langit memang terlihat gelap, tapi tak ada tanda akan hujan saat itu. Banyak orang di sekelilingku mereka duduk-duduk, bermain, bercengkrama, bercakap-cakap, ya mereka melakukan aktivitasnya masing-masing. Sebuah kamera di tanganku, ya aku ingin merekam suasana yenag terjadi hari itu. Aku menatap ke sebuah bangku panjang di bawah sebuah pohon, terlihat seorang lelaki muda, usianya mungkin lebih tua tiga sampai empat tahun dariku, berbaju abu-abu. Kulitnya putih, bibirnya merah, lelaki ini sepertinya bukan perokok, sebuah kacamata terlihat tertahan oleh hidung mancungnya. Sebuah buku menjadi pusat perhatiannya saat itu, dan sebuah headset berwarna putih menempel di telinganya, dia sepertinya sangat menikmati apa yang dia lakukan saat itu. Aku mengambil beberapa fotonya. Mencoba menyimpan pemandangan di depanku ini, dia tak menyadari, sudah banyak gambar yang aku ambil. Tiba-tiba kepalanya menoleh ke arahku dan tersenyum, ahh, aku salah sepertinya dia tau bahwa tadi aku memotretnya.
Entah keberanian seperti apa yag mendorongku untuk bisa sampai kesana, aku sekarang berada di depannya, memotretnya lansung di depannya.
“gak capek apa motert terus dari tadi” suara itu terdengar darinya.
Wajahku sepertinya sudah memerah saat itu.
“saya, alvin” ucapnya.
Aku masih terpaku saat itu. Dia memeperkenalkan dirinya. Aku terdiam. Entahlah tak ada kata yang mamapu terucap dari bbibirku.
“kamu siapa? Nama kamu?” ucapnya lagi.
“ saya, abel “ ucapku sedikit gugup.
“kamu suka fotografi?” dia berucap tapi matanya masih memandnagi buku yang ada ditangannya.
“lumayan suka, saya memang suka mengabadikan moment-moment atau objek yang menurut saya menarik”
“apa saya termasuk objek menarik?” ahh, pertanyaan itu membuat aku malu untuk menjawab. Dia menebaknya dengan sangat tepat.
“ya” ucapku pelan, wajahku rasanya sudah panas menahan malu. Tetapi lelaki itu hanya tersenyum. Senyuman itu manis sekali.
Dia menutup buku yang sedari tadi dibacanya, dia meulai memandang ke arhku yang sedari tadi maish terus berdiri di hadapannya.
“gak capek berdiri terus dari tadi? Ini bangkunya masih kosong duduk aja, lagian ini bangku buat umumkan, saya gak bisa ngelarang siapapun yang mau duduk disini”
Ya, secara tidak langsung dia memintaku duduk di sebelahnya, bisa dikatakan seperti itu bukan?
“ kamu sendiriran ?” tanyanya lembut, amatanya memandang lurus ke dananu di depan kami yang berjarak sekitar 2 meter.
“gak kok, sama kamu kan disini” ucapku sediki melawak.
Dia tersenyum  singkat mendengar jawabangku.
“maksudnya kamu datang kesini sendiri?” dia mengulangi pertanyaannya lagi, sedikit memeprjelas.
“iyaa”
“kenapa gak ngajak teman?”
“teman-teman saya semuanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing”
Dia mengangguk pelan.
“kamu sendiri juga?’” aku balik bertanya padanya.
“yaa. Lebih tepatnya Saya sedang ingin sendiri sebenarnya”
“apa saya mengganggu?” tanyaku meras tak enak.
“tidak kamu tidak menganggu. Saya juga sudah mulai bosan sedari tadi tidak ada teman bicara. Hanya bisa memabaca buku, mendengarkan lagu dan memamndagi sekitar sini oramg-orang yang terlihat bahagia dengan kehidupannya. Kalau boleh tau usiamu berapa?”
“saya? 24tahun. Kamu?”
“saya, 27 tahun”
“ohh, Kamu sudah menikah?”
“belum ada yang cocok. jawabnya
“ kamu tidak punya Pacar? Tunangan?” tanyaku lagi, entah mengapa aku menanyakan hal itu.
“ Kami baru saja putus”
“kenapa?” tanyaku penasaran
 “ada hal di antara kami yang tidak akan bisa disatukan”
“tapi kamu masih sayang kan sama dia. Kalu menurut saya rasa sayang itu harus diperjunagkan, walaupun nantinya itu akan jadi sia-sia setidaknya kamu pernah berjuang untuk itu. Kalua kamu memang benar-benar sayang harus ada yang diperjuangkan sekalaipun dia tidak lagi meilhat kamu, Kmau tidak akan bisa memmbaca hati seseorang. Kamu jga tidak akan bisa menebak apa yang terjadi, setidaknya kalau kamu berjuang untuk memeperthankannya, untuk memperjuangkannya, walaupun nanti itu tidak berhasil, kamu tidak menyesal karena hanya melepaskannya begitu saja, setidaknya kamu pernah punya perjuangan untuk dia.”
“tapi, sama seperti yang kamu katakan tadi kita tidak bisa menebak dan membaca hati dan perasaan seseorang. Saya kalau boleh jujur hanya takut terluka lebih dalam lagi makanya saya memilih berhenti. Makanya saya memilih untuk tidak lagi melanjutkan. Terlalu baya perbedaan di antara kami apalagi itu adalh hal-hal yang mendasar
“kalau boleh tau sudah brapa lama kalian bersama?”
“3 tahun lamanya saya sellau ada buat dia menemani setiapa harinya berusaha melakukan yang terbaik utnuk bisa membuatnya tersenyum.”
 “ 3 tahun? Kenapa semudah itu kamu mengakhirinya?
“sebenarnya, Bukan saya yang mengakhirinya tapi dia. Saya sayang sama dia tapi saya tidak mau mmperjuangkannya karena saya takut pada akhirnya jika dia terus bersama saya dia akan terluka, dia akan kecewa dia akan sedih, kami sama-sama akan terluka untuk hal yang sebenarnya menurut kami tidak salah, hanya saja lingkungan yang menyalahkannya.”
“kenapa?”
“ dia yang melepaskan saya dan ada alasan yang membuat saya juga memilih untuk melepaskan dia, mungkin kami sama-sama melepaskan satu dan yang lainnnya” jawabnya.
Aku muali memerhatikan raut wajahnya, terlihat ada beban yang tertanam di sana.
“ Dia bilang pada saya, kalau dia tidak mau jika saya mengubah keimanan saya hanya karena seornag wanita, katanya Tuhan itu yang utama, jika saya bisa meninggalkan Tuhan dan agama saya untuk seorang wanita, maka akan mudah bagi saya untuk meninggalkan wanita itu juga saat saya sudah tidak menyukainya”
“jadi? Ini cinta beda agama?”
“saya berpikir bahwa mungkin sejak awal kami emmang salah, kami tahu bahwa kami hidup di negara yang masih sangta tabu dengan yang namanya pernikahan beda agama, apa lagi kedua orang tua kami sama-sama penganut agama yang kuat. Kami saja berpcaran diam-diam, sudah ketahuan, dan sejak itu kami selalu di desak untuk putus atau satu diantara yang lainnya memilih agama mana yang kami mau, orang tua saya tentu saja memaksakan agama saya, begitu juga sebaliknya”
“kalau menurut saya sendiri sebenarnya tidaka da yang salah dengan cinta beda agama, bagi saya Tuhan itu satu, agama apapun itu, tujuannya hanya satu” ucapku
“kamu benar, menurut saya juga begitu, dia juga bilang begitu, sayangnya tidak semua orang yang punya pikiran seperti itu dan saya juga sebenarnya pernah mengatakan padanya, bagaimana jika saya saja yang mengganti agama saya, saya akan mengikti keyakinanya, tapi dia menolak, ya seperti saya sudah katakan,dia punya prinsip dalam hidupnya”
“kenapa dia menolak?”
“dia bilag kalau saya pindah agama hanya karena nafsu saja, karena kecintaannya pada mausia dia tidak mau, tapi kalau saya pindah agama karena Tuhan, karena saya yang benar-benar mencintai Tuhan katanya tidak papa, jangan menghkianatai imanmu hanya karena sesuatu yang fana”
“lalu kamu benar-benar akan menyerah seperti ini?”
“saya pikir ini jalan terbaik, setidaknya jika memang Kami sudah di gariskan dalam satu cerita yang sama di masa depan nanti mungkin kami akan bersama, jika tidak mungkin ituyang terbaik, karena saya percaya Semua yang terjadi dalm hidup kita, Tuhan yang punya andil. Saya akan menunggu, menunggu saat itu tiba, saat dimana saya menemukan dia akan menjadi jodoh saya, mungkin di masa depan, entah kapan itu, apakah kami bereinkarnasi lalu dipertemukan lagi, saya hanya berharap kami memiliki iman yang sama”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar