Senin, 09 Maret 2015

Aku, Kamu dan Imajinasimu

Kamu mungkin terlalu asik hidup dalam dunia yang kamu reka sendiri setiap adegannya. Kamu terlalu serimg mengabaikan dunia yang seharusnya lebih kamu prioritaskan. Kamu  lebih senang tinggal dan menikmati kebahagiaan yang secara utuh kamu miliki dalam imajinasimu.

Kata-kata itu adalah hal yang paling sering aku ucapkan padanya, namanya Luna. Luna adalah seorang gadis yang sangat baik namun dia misterius luna lebih suka menyimpan segala masalahnya sendiri, dia juga lebih suka sendirian baginya sangat nyaman daripada harus berada dalam kumpulan, komunitas atau kerumunan orang, dia juga tidak suka menceritakan pada orang lain, maklumlah Luna adalah seorang introvert. Bisa memasuki kehidupan seorang introvert itu tidak mudah, dan aku sudah menemaninya selama 6 tahun sebagai sahabat. Sejak awal mengenalnya aku sudah sangat tertarik denan dirinya karena banyak orang mengatakan Luna adalah orang yang sangat susah untuk di jangkau.

Luna tidak punya teman dekat, dia berteman dengan semua orang tapi tidak ada yang dia anggap sahabat, namun itu dulu ketika pertama kali kami bertemu.Aku berusaha memasuki keisupannya, menyelami setiap imajinasi yang lebih dia fokuskan, aku mencoba untuk membuka celah dimana bisa menempatkan diri sebagai seseorang yang bisa membuatnya nyaman untuk bercerita masalhanya, aku berusaha untuk bisa membuatnya nyaman bersamaku, selalu ada untuknya, menjadi orang yang paling mengerti keadaannya apalagi ketika perpisahan kedua orang tuanya, Luna sangat terpuruk saat itu.

Aku suka menggenggam tangan Luna ketika dia sednag bersedih setidaknya itu caraku menguatkannya tanpa harus berkata panjang lebar dan Luna sudah mengerti dengan semuanya. Namun semua berubah ketika aku menyadari bahwa aku menyukainya, aku takut melukainya, aku takut membuat keadaan memburuk. Aku tahu bahwa tidak akan ada perempuan dan laki-laki yang hanya bisa bersahabat saja. Tidak akan ada. Akan ada perasaan lain yang muncul, lebih dari sekedar sayang sebagai sahabat. Aku takut bila akhirnya hubungan itu berakhir dan kami tidak lagi bisa menjadi seperti dulu. Karena sebuah kedaan yang tidak bisa terelakkan.

Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku mereka sebuah kkejadian bahwa aku memiliki seorang kekasih. aku mengatakan itu pada Luna dan selalu menceritakan padanya tenatng sosok itu, karena kau takut bahwa Luna juga menyukaiku. Ini bukan sebuah kepercayaan diri yang berlebihan ini tidak lebih hanya dari sebuah kedaan realistis karena aku juga merasakan hal yang sama.

Aku berusaha menjuhkan diri darinya. Dulu hampir seluruh waktuku kuhabiskan dengannya, namun kini aku sedikit mnejaga jarak dan membuat kedaan seperti aku tidak lagi terlalu peduli padanya, semua aku lakukan agar dia tidak pernah tahu bahwa aku akan segera pergi. Penyakit yang baru aku ketahui 6 bulan belakangan ini membuatku seakan tak berdaya atas keadaan. Ketika aku mencintai seseorang namun tidak bisa membawanya ke dalam duniaku karena aku takut dia akan terluka. Aku berusaha membuat Luna membenciku dengan caraku sendiri.

Hari itu Luna menghubungiku dan menanyakan apakah aku bisa menemuinya, katanya dia sedang butuh nasihat dan ingin curhat. Jujur saja sebenarnya saat itu aku ingin bisa ada di sampingnya seketika. Namun, sebuah alasan kureka utnuk membuatnya merasa tidak dipedulikan. Aku mengatakn mengantar pacarku mengikuti casting di sebuah agensi model, itu tidak benar. Saat itu aku sedang di rumah sakit dan akan melakukan cek up atas penyakitku, namun akhirnya kau dirawat beberapa hari.

Setelah itu aku datanng menemuinya, menanyakan apa yang ingin dia ceritakan, aku datang seola tidak mengerti perasaannya yang merasa terabaikan semuanya sengaja aku lakukan. Luna berkata dia menyukai seseorang namun orang itu sudah memiliki pacar, jadi dia harus apa, mengatakannya atau tetap menjadi seorang pengagum yang mencintinya dengan diam-diam? Aku tahu siapa orang itu, dia adalah aku. Bukannya bermaksud lancang, aku pernah membaca isi diarynya, yaa dia masih menggunakan diary. Dan dia menuliska namaku, sejak saat itulah aku mulai merasa tidak nyama dengan kedaan itu aku takut dia mencintaiku terlalu dalam hingga nanti saat aku benar-benar pergi, dia akan kembali terpuruk. Aku takut tidka ada yang bisa membuatnya kembali bangkit, aku takut itu karena luna tidak mudah dekat dengan orang, dia tidak akan menceritakan apa yang menjadi masalh pribadinya, baginya masalahnya-masalhnya bahkan dengan diriku, masih banyak hal yang dia pilih untuk ditutupi.

Aku tau saat itu aku menyakitinya, dia tidak mendapat jawaban apapun karena aku mengembalikan kedaan padanya, aku menyuruhnya memilih dan aku berkata bahwa jodoh tidak akan kemana. Ya,Jodoh tidak akan kemana, mungkin aku bukan jodohnya. Dan aku mungkin akan jadi seseorang yang hanya bisa mencintainya tanpa pernah mengatakan meskipun aku tau perasaan kami sama, aku hanya tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi, aku tidak ingin itu terjadi.
Secara pelan-pelan aku memilih untuk menjauhinya, mencoba membuat dia merasa dia tidak lagi memerlukan aku yang kini sudah memiliki orang lain yang lebih penting. Membuat Luna perlahan memilih untuk pergi dari kehidupanku dan tidak lagi bergantung padaku. Aku hanya ingin Luna bahagia nantinya. Meskipun dengan cara menyakiti perasaannya terlebih dahulu. Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan. Maaf Luna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar