Senin, 16 Februari 2015

Aku, kamu dan imajinasiku

Aku mungkin terlalu asik hidup dalam dunia yang aku reka sendiri setiap adegannya. Aku terlalu serimg mengabaikan dunia yang seharusnya lebih kuprioritaskan. Aku lebih senang tinggal dan menikmati kebahagiaan yang secara utuh aku miliki dalam imajinasiku. Itulah yang sering dikatakan sahabatku Raka setiap kali aku memilh untuk menjauh dari beberapa orang yang mencoba memasuki duniaku. Entah mengapa aku tidak sperti remaja lainnya yang tertarik dengan kehidupan percintaan diusia muda. Aku lebih suka hidup dalam khayalanku.

Membayangkan bahwa aku memilki semua yang aku inginkan. Membayangkan bahwa dia adalah kekasihku, dia Raka sahabatku. Sebenarnya satu di antara alasan kenapa aku memilih untuk tidak menerima siapapun mendekatiku karena sejak lama aku menaruh perasaanku pada satu orang yang paling mengerti bagaimana diriku, satu orang yang memebuatku merasa nyaman dalam segala hal, dia tahu semua baik dan buruknya sifatku, dia tahu bagaimana caranya menenangkan aku saat aku sedih dan marah, di tahu bagaimana bersikap saat aku sedang merasa senang dia tahu bagaimana menjadi seseorang yang sangat aku butuhkan saat aku dalam masalah, dia adalah orang yang selalu memberikan pelukan hangat dan bahunya saat aku merasa sudah tidak lagi mampu untuk berdiri, dia tahu segalanya dan dia memilik segalanya, termasuk perasaanku. Tapi sayang aku memang harus bisa menerima bahwa apa yang aku rasakan mungkin hanyalah sepihak dan satu yan tidak dia tahu, dia adalah pemilik hatiku.

Raka sudah memilih seorang kekasih,  mereka baru saja menjalin hubungan selama 3 bulan . Raka tidak pernah tau bagaimana sakitnya perasaanku ketika dia selalu menceritakan bagaimana dia sangat menyangi gadis yang sangat beruntung itu. Raka tidak pernah tahu bahwa aku adalah orang yang paling terluka ketika dia merasa bahagia. Aku mungkin egois. Sebagian orang mengatakan bahwa kita akan bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia. Tetapi, aku hanyalah manusia, aku tidak bisa seperti itu, hatiku tak semulia dan sebaik itu, bisa merasa bahagia saat kebahagiaan itu merenggut apa yang seharusnya menjadi kebahagiaanku. Tapi bodohnya, aku memilih untuk diam dan membiarkan semuanya menguap begitu saja meskipun  perasanku masih bertahan tidak berubah. Karena aku tulus menyayangi Raka.

Raka memang agak berubah sejak dia memiliki kekasih, waktunya tidak lagi sepenuhnya dia berikan untukku. Aku sadar aku tidak bisa mengekang dan memaksanya untuk tinggal dalam duniaku, untuk terus bersamaku, dan selalu bisa mengerti aku dan keadaanku. Aku juga harus tahu diri bahwa aku hanyalah sahabatnya dan seorang wanita yang mencintainya secara diam-diam. Aku memang tidak pernah menunjukan bagaimana perasaanku padanya. Kami selalu bersikap biasa, sejak 6 tahun lalu saat aku pertama kali mengenalnya di SMA.
Kami sekarang sama-sama kuliah dan sudah memasuki tahun ketiga, semester 6. Raka bercerita padaku bahwa dia jatuh cinta pada gadis yang sangat beruntung itu sejak pandangan pertama, katanya gadis itu membuatnya merasa deg-degan, Raka selalu tersenyum setiap kali melihat senyumannya, dan katanya lagi saat sudah menggenggam erat tangan gadis itu dia tidak lagi mau melepaskannya.

Aku bodoh entah mengapa perasaan ini bisa muncul kepadanya sekitar 2 tahun yang lalu aku mulai benar-benar mencintainya. Ketika dia menjadi orang yang benar-benar memedulikanku saat yang lainnya tidak, dia adalah orang yang selalu ada saat aku merasa sendiri setelah, papa dan mama memiih untuk berpisah dan pada akhirnya mama meninggal dan papa tidak bersamaku, papa sekarang sudah hidup dengan keluarga barunya, yang di lakukan adalah menafkahiku tiap bulan dan membayarkan biaya kuliahku.  Raka bilang kalau segala hal dalam hidup ada lasannya termasuk perpisahan papa dan mama. Dan mungkin perasaan cinta ini pun ada alasannya, kenapa bisa menjatuhkan pilihan pada dirinya.

Aku dan Raka tinggal tower apartemen yang sama, kamarnya di sebelah kamarku itu megapa kami tetap dekat. Ya meskipun kami mulai berada dalam jarak sebagai seorang teman tapi Raka, perhatiannya tidak pernah berubah. Dulu, dia selalu ada untuk setiap masalah yang aku alami. Raka selalu datang saat aku membutuhkan. Bahkan hari itu pukul 02.00 saat aku mengirim pesan padanya untuk menemaniku keluar mencari makan 5 menit kemudian dia sudah ada di depan pintu kamarku. Aku menyukai semua yang Raka lakukan, dia selalu ada. Mungkin benar kata orang bahwa yang spesial kalah dengan yang selalu ada. Sayangnya dia ada hanya sebagai sahabat. Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaan Raka yang sebenarnya. Yang aku tahu adalah bahwa dia selalu ada untukku dalam setiap hal yang aku alami. Namun, sebuah keadaan yang memang harus aku pahami bahwa tidak ada laki-laki dan perempuan yang bersahabat yang hanya akan menjadi bersahabat. Pepatah jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino, ya, aku mencintainya karena terbiasa. Dia membuat aku merasa sangat nyaman. Aku menyukai semua perlakuaanya, mungkin bagi mereka yang tidak taahu mereka bisa saja menganggap bahwa kami adalah sepasang kekasih. Karena setiap kali kami pergi keluar Raka selalu menggenggam tanganku. Raka melakukan itu setiap kali aku sedih.
Namun, sejak memiliki kekasih dia sudah tidak pernah lagi mengenggam tanganku saat aku mengajaknya keuar. Waktunya jauh lebih banyak bersama kekasihnya, mungkin kalau bisa dibagi dalam jumlah persen 30% saja yang tersissa untukku. Raka semakin jauh dan semakin jauh, bahkan kini aku tidak lagi mampu menjangkaunya. Dia masih memperhatikanku namun hanya alakadarnya saja, hanya sekadar basa basi. Dia akan cepat merespon jika aku membuat satus atau memposting hal yang berbau sedih, dia qkan bertanya kenapa, lalu berusaha menenagkanku, lalu dia pergi lagi. Baginya mungkin aku bukanlah prioritas, ya, mungkin memang bukan prioritas sejak dahulu. Apa dia hanya merasa kasihan saja? Entahlah, bisa iya bisa tidak.

Hari itu aku menghubungi Raka, aku mengatakan padanya bahwa aku butuh nasihat. Aku ingin curhat. Raka bilang, dia tidak bisa karena dia harus mengantar pacarnya untuk mengikuti casting di sebuah agensi model. Dan aku mulai benar-benar menyadari bahwa, Raka sudah bukan yang dulu lagi. Raka bilang nanti dia hubungi aku lagi. Apa aku sudah tidak berarti lagi?
Beberapa hari kemudian raka tiba-tiba muncul di depan pintu apartemenku. Dia memasang senyum biasa seperti tidak ada apa-apa, padahal semuanya sudah tidak lagi sama.
“kamu mau curhat apa?” Tanyanya ketika dia duduk.
Aku berusaha menyikapinya secara biasa, meskipun rasanya sakit. Aku menceritakan pada Raka bahwa aku mneyukai seorang laki-laki sudah lama, dia membuatku nyaman dan memilki segalanya yang membuatku merasa bahwa hidupku bukanlah sebuah kesalahan.
Raka bertanya dia siapa. Aku hanya berkata bahwa dia adalah seseorang.
“jadi menurut kamu bagaimana? apa aku harus bilang sama dia, atau tetap seperti ini saja? Sayangnya dia sudah punya pacar, aku tidak ingin merusak kebahagiaannya” tanyaku padanya.
“sebenarnya semua terserah kamu, apa yang memebuat kamu nyaman, apa yang memebuat kamu bahagia maka lalukanlah, tapi jika kamu takut terluka  atau melukainya, kenapa tidak tetap menjadi seseorang yang mencintainya dengan diam-diam saja? Toh pada akhirnya kalau jodoh tidak akan kemana.”

Dia mengembalikan semuanya padaku. Katanya aku yang harus memutuskan karena aku yang menjalaninya. Dan batinku seolah bertengkar hebat saat itu, rasanya aku ingin memnagis, rasanya juga aku ingin berteriak saja saat itu dan megatakan bahwa orang itu adalah dia, mengapa di atidak juga menegerti dan merasaknnya, apa selama ini semunya hanya bisa saja, apa dia tidak pernah melihatku sebagai wanita?

Seketika aku membenci saat itu, saat dimana aku dihadapkan dengan pilihan, sayangnya aku tidak bisa memilih satu di antaranya, semuanya membuatku terluka. Hingga akhirnya. Aku memutuskan untuk diam saja, tetap diam, dan terus diam. Kembali lagi ke dalam imajinasiku. Setidaknya dia miliku dalam imajinasiku. Setidaknya begitu sampai nanti batas waktu yang aku tidak pernah tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar