Jumat, 18 Desember 2015

KATA IBU: Tentang Ayahku



Ada yang ingin aku ceritakan pada kalian tentang seseorang yang sangat aku cintai, mungkin kalian juga akan mencintainya seperti aku dan ibuku setelah mendengar cerita singkat ini, cerita ini kudengar dari ibu, ya aku ingin menceritakan tentang ayahku. Ayahku, namanya Gusti Wahyudi, sekarang usianya seharusnya sudah 47 tahun. Ah, andai aku hidup di masa itu mungkin sama seperti ibu aku juga akan jatuh cinta padanya. Sekarang karena akan kuceritakan pada kalian tentangnya.
Kata ibu dulu dia pertama kali bertemu ayah saat mereka sama-sama di sekolah, saat itu masih SMP usia mereka baru menginjak 13 tahun dan di kelas 1 SMP. Ibu bilang ayah dulu tidak seperti sekarang, dia sangat dekil dan jorok, dia bau dan tidak terurus. Kalau boleh aku bilang ayahku sangat tampan, tingginya 180cm dan ibu sangat menyukai mata cokelatnya yang kini menurun padaku, juga rambut keritingnya yang dia biarkan sedikit gondrong, sayangnya rambut itu tidak menurun padaku, ya aku berbagi dari ayah dan ibu.
Ayah dulu katanya sangat nakal, bahkan dia sangat sering dipanggil ke kantor guru BP karena masalah-masalah yang dia buat, dulu ibu bilang dia tidak pernah mengira bagaimana dia bisa jatuh cinta pada orang seperti ayah yang jelas-jelas bukan tipenya. Tapi kata ibu, aku juga akan mencintai ayah jika aku hidup di masa itu, dan tahu bagaiamana perjuangan ayah untuk bisa mendapatkan hatinya.
Dulu, tidak seperti sekarang saat handphone belum terkenal ayah selalu meminta perhatian ibu dengan surat-surat yang dikirimkannya dengan segala puisi cinta di dalamnya, ya Ibu bilang ayah sangat pintar membuat puisi, meskipun masih anak belasan tahun. Ibu bilang ada moment dimana ayah membuatnya sangat terkesan, ayah memang nakal tapi dia juga sangat berbakat.
Ayah dan ibu bersekolah di SMA yang sama lagi, entah kebetulan atau apa, atau mungkin ayah yang mengikuti ibu atau memang mereka memang jodoh. Dari SMP ayah tidak pernah berhenti mengejar ibu hanya saja kata ibu saat SMP ibu masih jual mahal, juga saat SMP mereka masih anak kecil dan ibu juga tidak diperbolehkan untuk pacaran oleh kakek dan nenekku.
Ibu bilang di SMA ayah sempat populer dengan bandnya. Ya, ayah anak band saat itu. Ibu bilang ayah pernah dengan terang-terangan mengatakan saat tampil di atas panggung, tentang perasaannya pada ibu dan menyanyikan sebuah lagu untuk mengungkapkan perasaanya. Aku bisa membayangkannya. Dan sejak saat itu semua orang satu sekolah tahu bahwa ayah menyukai ibu.
Kata ibu dia sempat marah pada ayah karena membuatnya malu. Tapi tidak lama. Kata ibu akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Kata ibu ayah sangat gigih untuk mendapatkan hati ibu. Bahkan ayah sampai datang ke rumah beretmu kakek untuk meminta izin menjadi pacar ibu. Ada-ada saja ayahku.
Kata ibu ayah sangat romantis dan tahu bagaimana membuat ibu selalu tersenyum dan merasa deg-degan  ketika bersama ayah. Kata ibu ayah dulu sering mengiriminya bunga, setiap hari ke rumah. Bukan hanya itu saja ayah sempat merekam sebuah lagu dengan judul nama ibu “Riana”.Ah aku membayangkan bagaimana jika ada orang seperti ayah mungkin aku tidak akan bisa melepaskannya.
Akhirnya ibu dan ayah menikah ketika mereka beberapa tahun lulus dari sma, ibu saat itu sedang kuliah sementara ayah sudah menjadi anggota TNI.
Tapi sejujurnya aku tidak pernah bertemu ayahku, aku hanya mendengar cerita dari ibu. Kata ibu ayah sangat tampan ketika menggunakan seragam kebanggaannya itu. Aku tidak pernah melihat ayah, yang kutahu hanya wajah ayah 15 tahun yang lalu dalam sebingkai foto pernikahan mereka yang tidak pernah ibu lepaskan dari pajangan ruang tamu. Kata ibu agar orang tahu itu ayahku dan suami ibu.
Ayah pergi meninggalkan aku dan ibu ketika aku masih dalam kandungan saat itu. Usia kandungan ibu 6 bulan. Ayah pergi sebagai utusan negara di peperangan,namun sayangnya ayah gugur di medan perang 1 bulan sebelum kelahiranku ke dunia ini. Kata ibu dia tidak pernah membayangkan hal itu terjadi sebelumnya. Mereka belum lama menikah bahkan aku saja belum terlahir ke dunia. Namun sebelum pergi ayah sangat sering mengusap perut ibu kata ibu ayah pernah bilang begini ketika mengusap perutnya
“kamu harus sukses ya nak nanti, kamu harus jaga ibu kamu, kamu harus jadi orang yang hebat”
Ibu juga bilang kalau ayah pernah berkata begini
“kamu harus sayang sama  ibu kamu, jangan jahat, jangan nakal, kamu harus jadi anak yang baik dan menurut pada orang tua, jaga ibu kamu, jaga nama baik keluarga, ayah akan sayang kamu dan selalu menjaga dan mendoakan kamu di manapun kamu berada”.
Kata ibu ayah orang yang sangat baik dan taat agama ayah tidak pernah lupa berdoa dan mendoakan keluarga kami. Ah, ayahku itu orang hebat kata ibu, selain sempat populer dnegan bandnya di SMA, ayah juga ternyata pintar dari segi akademis, ayah selalu mendapatkan rangking pertama di kelasnya. Ayah masuk sebagai pasukan militer karena kakekku juga berasal dari sana. Jadi untuk meneruskan keluarga ayah menjadi pasukan militer.
Ayah tidak pernah melihatku terlahir kedunia, ayah tidak pernah tahu bahwa aku terlahir sebagai perempuan bukan laki-laki seperti yang dia harapkan. Kata ibu ayah sempat memilihkan bebrapa nama untukku dan nama itu semuanya nama anak laki-laki karena ayah snagat menginginkan anak pertamanya laki-laki.
Ah ayah, maaf jika aku terlahir sebagai perempuan tapi, seperti pesanmu aku akan sayang pada ibu, aku akan jadi anak baik, aku akan sukses, aku akan menuurut pada ibu, aku akan menjaga ibu, aku akan menjaga nama baik keluarga, aku akan selalu menyayangi ayah, dan aku juga akan selalu mendoakan ayah, dimanapun ayah berada,aku akan selalu mencintai ayah.




Oleh:
Asna Sri Hartati, 21 Tahun, Lahir di Nanga Pinoh, 27 Agustus 1994. Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak 2012. Suka menulis, menggambar, membaca, dan pecinta hal-hal yang berhubungan dengan korea. Blog: www.asnasrihartati.blogspot.com. Instagram: @Asnasri, Twitter: @asnaasri, Email: Asnasrihartati@gmail.com

Rabu, 18 November 2015

TAMARA oleh Asna Sri Hartati


Tidak ada orang yang akan memiliki kehidupan sempurna, pasti ada celah, sekalipun itu kecil di dalam kehidupannya.
Penyendiri di antara orang-orang yang sedang bergumul. Pendiam di antara sekelompok orang yang sedang berinteraksi. Serius di tengah keadaan yang tenang. Terlihat acuh di tengah suasana yang tegang. Sosok ini berbeda,tak seperti kebanyakan orang. Namun ia bukanlah pemalu ataupun seorang yang berpenyakit ,  tetapi ia justru sedang memerhatikan. Ia senang menganalisis keadaan. Ia seorang Introvert.
Introvert adalah sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial yang terlalu acak. Introvert lebih membutuhkan sebuah teh hangat dan berkumpul bersama beberapa teman dekat saja daripada pergi ke tempat yang penuh dengan orang asing. Introvert membenci basa-basi, oleh sebab itu mereka senang dengan perbincangan yang padat dan bersifat informatif.
Tamara, digariskan untuk hidup seperti itu, menjadi seorang introvert. Tamara atau lebih sering di panggil tara bukan seorang pemalu atau anti sosial, dia hanya lebih sennag mengamati dan lebih senang sendiri daripada terlibat dalam keramaian, Tamara bukan seseorang yang mudah untuk membagi ceritanya dengan orang, tamara juga tidak mudah untuk bisa dekat dengan orang baginya, sendiri lebih baik, dia lebih suka menikmati dunianya sendiri, dia lebih suka untuk tidak melibatkan banyak orang dalam masalahnya, baginya semakin banyak yang tahu masalah itu malah akan menjadi rumit, jadi baginya menyimpan masalah sendiri itu sudah biasa.
Banyak yang menilai Tamara adalah seorang pemalu dan pendiam, di kampusnya sangat jarang menemukan tamara sedang berada dalam perkumplan bersama orang-orang, dia jauh lebih suka untuk duduk sendiri mencrai bangku kosong lalu melakukan apa yang dia sukai, dia sangat suka mendengarkan musik, membaca buku, dan juga menulis, maka tak jarang jika Tara dijumpai sedang duduk sendirian sambil mendengar musik namun sembari mengamati sekelilingnya. Tara lebih senanng untuk menjadi pengamat dari pada menjadi satu di Antara bagian orang-orang di sana.
Kadang ada ynag mengatakan tamara adalah gadis yang aneh, tamara tidak jelek, jika dinilai dari wajah dan postur tubunhyna gadis ini bisa masuk dalam ciri-ciri gadis populer pada umumnya, tubuhnya memiliki tinggi 170 cm dnegan berat badan 55kg, cukup ideal tidak kurus tidak juga gemuk, wajahnya cantik, dia meiliki lesung pipi di kedua pipinya dan juga rambut Panjang yang tergerai indah juga senuah kacamata yang selalu menempel di kedua telinganya.
Namun sayangnya dia adalah penyendiri, bagi Tara sendiri itu jauh lebih memebuatnya nayamna, setidkanya dia tidak perlu terlalu bergantung pada orang lain. Di kampusnya tara tidak memiliki teman yan di katakan sangta dketa. Dulu tara punya sahabat namun orang itu sedang menempuh pendidikan di luar negeri sehingga tara, sekarang haya sendiri saja, dia bisa berbagi informasi jika hal itu memang diperlukan, namun jangan berharap untuk bisa masuk ke dalm ruang pribadinya, dia menutup rapat hal itu dari siapapun, bahkan tidak ada yan tau dimana Tara tinggal dan bagaimana kesehariannya selain di kampus. Introvert merupakan jenis kepribadian minoritas. Orang-orang yang  jauh lebih suka menyendiri daripada terjebak dalam keramaian yang dapat menguras energi mereka.
Namun kehidupan tara mulai berubah ketika seseorang mencoba mencari celah dan memasuki kehidupannya.
Dias, lelaki ini sudah mengamati Tara sejak awal masuk kuliah. Mereka tidak saling mengenal, Traa bahkan tidak mengetahuinya, hanya dias yang suka mengamati tara dai kejauhan, mengikuti setiap gerak-geriknya, bahkan Dias tahu dimana tara tinggal, dan hal apa saja yang kan tara lalukan jika di tidak di kampus, ya kehidupan tara seolah tertata rapi, jika tidak ada hal mendesak mka halhal itulah yang menjadi keseharannya, ke kampus, toko buku, makan sendirian, lalu pulang lagi ke apartemennya namun sejak Dias muali memasuki kehidupannya semuaya seolah berubah 180 derajat.
Dias, adalah seorang lelaki tampan, yang memiliki banyak koneksi sosial, dia hidup di lingkungan yang sangat sosial, sepertinya tidak ada orang yang tidak mengenalnya, sikapnya yang ramah dan baik membuat semua orang mneyukainya, begitu juga para wanita, namun dia tidak tetarik, baginya yang menraik sejak dua tahun yang lalau adalah gadis yang selalu dia temukan sedang menyendiri dimanapun dia berada, awalnya Dias biasa saja melihat hal itu, baginya mungkin saja karena dia baru makanya dia masih belum punya teman akarab, namun hingga tahun berikutnya Dias masih sering menemukan bahwa Tara selalu sendirian dan terlihat nyaman saat sendirian dari pada harus berada dalam suatu perkumpulan atau komunitas. Saat itulah Dias menyadari bahwa Tara berbeda.
Mencari tahu segala hal tentang tara membuat Dias tahu banyak hal tentang gadis itu. Gadis yang misterius dan baginya sangat menarik. Tara bukan tipe gadis yang sombong, dia ramah pada semua orang, hanya saja sikapnya yang selalu risih jika berada dikerumunan membuatnya terlihat aneh.
Bagi dias itu menarik. Menurut Dias Tara berbeda. Kediamannya, kemisteriusannya, ketidakinginannya untuk berada dalam dunia sosial, membuat Dias lebih tertarik untuk bisa memasuki kehidupan gadis introvert itu.

To be continued...

Kamis, 05 November 2015

Aku Pergi





Kali ini aku memilih untuk tidak tinggal di sini, tidak lagi di dalam angan-anganku, tidak lagi untuk jadi bayangan di belakangmu.

Aku, kini sudah mulai mengerti, sudah mulai memahami, bahwa aku harus segera pergi dari sana. Dari angan dan asa yang mengantung tinggi. Dari harapan yang tak akan terjawab, dari luka sebelah pihak.

Aku harus berdiri dan aku harus lari, lari dari bayangan harapan itu.

Kamu tak akan pernah menjadi bagian yang kupanggil ‘kita’. Tidak akan.
 Aku, aku berhenti melangkah bersama angan akanmu di sini.

Aku, sudah memilih jalan lain. Bukan lagi ke hatimu, meski mungkin tidak akan lebih baik dari dirimu.



Senin, 26 Oktober 2015

Sepatu tua.

oleh Asna Sri Hartati


Kali ini jarak itu membentang jauh , terasa semakin jauh. Kita beralih, kita berubah, dan mungkin kini tak saling mengenal satu dan yang lainnya. Seolah  kita lelah untuk menjalin silahturahmi. Komunikasi yang terputus, terhambat keadaan dan kenyataan bahwa kita sudah tidak lagi bersama-sama, tidak akan bisa lagi bersama-sama.
Cerita-cerita yang terurai sempurna di masa itu kini hanya kenangan dan hanyalah cerita yang dapat kita kenang saja. Namun , mungkin sebagian  ingatan  di sana sudah terhapus oleh kenangan baru yang mulai terbangun.

Keadaan yang memperlihatkan bahwa kali ini keberadaanku tidak lagi sama seperti dahulu.
Saat-saat terlelah ketika kita berharap untuk bersama mungkin tidak lagi akan sama. Kita seperti sepasang sepatu tua, kita bersama tapi tidak akan  bersatu. Kita tidak akan pernah bisa berjalan beriringan, kita harus memilih mau  kau lebih dulu atau aku yang lebih dulu. Bahkan ketika waktu sudah beranjak pergi, ketika nanti masa muda tidak lagi di sini, kita jadi tua dan renta, kita tetap akan seperti sepatu, bersama tapi tidak menyatu,

Kamis, 15 Oktober 2015

We Could Be In Love (Part 3)



DUA
Hari ini ulang tahun dio aku dan Karla diundang, namun lagi kali ini aku tak pergi bersama karla. karla sudah pergi bersama orang yang biasa menejmputnya. malam iniAku menggunakan, gaun berwarna putih, dengan sepatu putih, aku mengurai rambtku yang sedikit ku keriting malam itu dan sedikit memoles wajahku. Mika yang menjemputku malam ini. Mika terlihat sedikit berbeda, mika memakia kemeja berwarna biru tua polos, celana jeans hitam dan jas hitam, dan juga sepatu keds, rambutnya yang panajng dan mulai menegriting tersisir rapi.
Dia menungguku di teras rumah, seperti biasa setelah meminta izin pada mama dan papa kami pergi.
“lo cantik malam ini” ucapnya yang terdengar lembut di telingaku. Ah entah kenapa jantungku berdetak tak karuan mendengar pujian itu.
Kami tiba di tempat pesta Dio. suasana terlihat ramai, maklum saja ini ulang tahunnya yang ke 17. Aku tidak melihat karla bersama dio, padahal dia pergi lebih dulu daripada aku. Dio berdiri menyambut tamu-tamu yang datang malam itu. Dan betapa kagetnya aku, aku melihat karla berjalan bersama seseorang yang aku kenal, Karla dan Dimas, ada apa antara mereka, apa ini jawaban pertanyaanku pada karla dan Dio. Karla ternyata bukan pacar Dio. Aku rasanya senang tapi juga heran. senang karena sepertinya kesempatan untuk mendapatkan hati dio masih terbuka untukku, tapi kenapa selama ni mereka merahasiakannya dariku?
“hai” Karla dan Dimas mendatangi aku, mika dan dio.
“karl” ucapku
“hehe, gue akan jelasin tapi gak disini ya Shell” Karla sepertinya mengerti maksudku.
Sepertinya hanya aku yang bingung di sini, yang lainnya sudah tau apa yang terjadi.
“ nikmatin pestanya ya teman-teman” ucap dio
Karla mengajakku menuju pojok tempat itu. Dia sepertinya ingin menjelaskan apa yang terjadi.
“Shell, maaf ya, selama in gue gak bilang sama lo, dan kalau lo tanya gue gak pernah jawab”
“kok bisa sih karl, bukannya?”
“ceritanya panjang. Dio ternyata suka sama orang lain shell”
“kok lo tau?”
“yaa, setelah hari tiu gue berinisiatif buat deketin dio lewat dimas, dari dimas gue tau tentang siapa yang disukain sama dio. dan gue milih mundur. Ternyata setelah itu dimas sering SMS gue dan dia perhatian sama gue, lama-lama gue dekat dan ngerasa nyaman sama dia”
“jadi usaha gue dekatin lo berdua itu sia-sia dong?”
“gak sia-sia banget kok, karena usaha lo itu, gue bisa sama dimas sekarang”
“tapi kan gak tepat sasaran karl” dengusku kesal.
“yaudahlah, gakpapa, kan kita gak bisa maksain hati orang”
“trus dio suka siapa?” tanyaku penasaran.
“yang pasti bukan gue” jawab karla singkat.
“yaudah yuk pergi” karla menarik tanganku untuk kembali lagi ke pesta itu.
***
Pesta selesai dan aku pulang bersama Mika, di mobil aku menceritakan apa yang karla ceritakan tadi padaku
“gue udah tau kok” jawab mika sambil memegang stir mobilnya.
“tau dari mana?”
“waktu itu gue pernah liat mereka berdua” jawab mika santai
“dan lo gak bilang sama gue?” nada suaraku mulai naik.
“gak maksud gak bilang kok. lagian diokan gak suka sama karla, dia sukanya sama cewek lain”
“hah, lo juga tau itu dan lo gak bilahg? karla juga bilang gitu sama gue, katanya dio suka cewek lain makanya dia mundur”
“gue juga belum lama ini kok tau”
“tapi kenapa gak cerita, lo semua sama aja ya. gak ada satupun yang bilang sama gue”
“kenapa emangnya? kalo gue bilang lo bisa dekati Dio gitu?”
“apaan sih. siapa juga yang mau dekatain Dio”
“jangan bohong, ngaku aja, gue tau kok lo suka Dio kan”
“dih, gaklah kalo gue suka ngapain gue dekatin dia sama karla”
“karna Karla itu shabat lo, dia lo gak mau bikin dia sdih dan patah hati, lo maunya dia senaag makanya lo mau waktu dia nyuruh lo batuin dekatin dia sama Dio padahal lo di situ sakit kan? padahal lo suka sama dio dari awal si Dio pindah. tapi karna karla lo lebih milih mundur. kan?”
Aku diam, darimana Mika tau semuanya, apa dia bisa membaca pikiranku, kenapa dia tahu semua yang akau rasakan dan juga alasannya apa? Ah Mika seeprtinya sangat mengenalku.
“kenapa diam shel, gue benerkan? kenapa lo baik banget sih, kenapa lo mau aja gitu bantuin sahabat lo dekat sama orag yang lo suka, padahal lo sama dia punya dunia masing-masing kan, lo gak tau apa dia mau nanti bantuin lo klao lo minta hal yang sama. Lo sadar gak belakangan lo jauh sama karla kan, tau alasannya kenapa?”
“lo gak ngerti alasannya mik, gue sayang sama karla dia sahabat gue, gue akan bahagia kalu orang yang gue sangat sayangin bahagia, perasaan kayak gitu udah cukup buat gue, gue sayang sama karla udah kayak sayang sama saudara gue Mika”
“shell, lo masih punya gue, lo masih punya keluarga shell, lo punya ayah sama bunda lo, walaupun bukan kandung tapi lo punya orang yang selalu sayang sama lo. Kali ini gue ngerti ya, tapi lain kali gue gak mau lagi liat lo berkorban buat kebahagiaan orang lain, gue tau perasaan lo pasti sakitkan waktu lo liat mereka dekat, karena belum tentu dia mau ngelakuin hal yang sama kayak apa yang lo lakuin seklaipun dia anggap lo saudara, Shella”
Perkataan Mika terus saja terngiang di pikiranku, mika benar aku tidak seharusnya berkorban perasaan seperti itu. Tapi, apa salahnya menurutku tidak ada yang salah jika aku berkorban untuk orang yang aku sayang. Ahh. sudhalah lagian Karla juga sudah punya dimas dan Dio dia menyukai orang lain.
“gue emang masih punya lo, tapi apa lo ngerasa masih punya gue?”
“maksud lo?
“ah, udahlah”
                                                                               ***
Hari ini aku ke perpustakaan untuk mencari buku, dan aku menemukan sosok yang sangat jarang aku temui di sana. Mika, entah apa yang sedang dia lakukan di perpustakaan saat ini, dia terlihat duduk sambil membaca sebuah buku, buku apa? akupun tidak tau. aku menghampiri dia yang terlihat sangat berkonsentrasi.
“Mik, lagi ngapai lo?”
“gak kok, gak ngapa-ngapain” mika langsung menutup buku yang sedang di bacanya. lalu menyimpannya ke bawah
“buku apaan mik, tumben baca buku?”
“bukan buku apa-apa kok” ucapnya segera menutup buku yang berada di tangannya
“bentar yaa gue taruh dulu bukunya” Mika berlari kecil menyimpan buku yang dia baca tadi, anak ini aneh kenapa dia tiba-tiba menyimpan buku saat aku datang?
Tak lama mika kembali lagi dia duduk di sebelahku.
“lo ngapain ke perpustakaan?” tanyanya
“gue nyari bahan buat tugas”
“nah lo? ngapain? tumben amat kayaknya gue gak pernah liat lo masuk perpustakaan deh, seumur-umur kita SMA baru kali ini nih gue liat lo disini”
“gak kok, Cuma lagi bosan aja. dan lagi pengen baca aja”
Aku meletakkan pipiku ke atas meja,dan memejamkan mataku.
CloudnTifa_zps77d6c562.jpg
“Mik” ucapku
“emmm” jawabnya
“Lo tau gak siapa yang disukain sma dio?”
“kenapa? masih ngarep? masih suka sama dia?”
Sekarang mika berposisi sama dengaku, wajah kami berhadapan.
“apa sih kan gue mau tau, soalnya karla langsung mundur gitu pas tau Dio suka sama orang lain. eh btw lo masih suka sama karla?”
“emangnya kenapa?”
“kan nanya mik”
“tau ahh” ucap mika singkap
“ihh, malesian lo mik” aku berdengus kesal mendengar jawaban Mika
Mika hanya tertawa, mungkin menurutnya ada yang lucu dari ucapanku.
“mik kenapa ketawa sih, kan gue nanya serius” ucapku, aku mengalihkan arah wajahku kesebelah kiri. tak lam Mika ternyata berpindah kearahkananku.
“marah yaa, maaf gak maksud ketawa kok”
sekarang dia meletakan dagunya ditangan sambil menatap wajahku.
“mik, apa gue salah ya berkorban kayak gitu?”
“kalo menurut gue sih lo slah”
“ahh, lo mah gitu, nyalahin aja mulu, kasi kata-kata motivasi kek atau apa mik”
Mika mengangkat kepalaku dan memegangnya, membuatnya berposisi lurus dengan kedua tangannya yang masih menempel di pipiku.
dfghjk.png
“Shell, gue mau bilang sesuatu kalo lo sayang lo bilang aja jangan dipendam, nanti bakalan sakit, gimana nanti kalo lo gak bisa bilang lo sayang, atau lo gak sempat bilang lalu dia pergi buat selamanya atau lo yang pergi dan lo sama dia gak tau perasaan kalian masing-masing” Kata-kata Mika menusuk, baru kali ini aku mendengarkan dia berkata sangat bijak, matanya juga menggambarkan ketulusan, Mika terlihat sangat dewasa hari ini. aku mengangguk pelan.
Perasaanku terasa lebih nyaman setelah mendengar ucapan Mika tadi.
Di luar ternyata hujan aku mengajak Mika ke kantin, kami duduk di pojok, aku mengeluarkan handphone, memasang headset, tiba-tiba seseorang datang duduk di sebelahku dan mengambil headset di telinga sebelah kananku. Dan dia adalah Dio, jantungku mulai bedetak tak karuan lagi. Entah kenapa Mika mengambil headset sebelah yang ada di Dio menukarnya dnegan yang ada di telingaku lalu measangnya ditelinganya, Dio melakukan hal yang sama. Dua orang ini aneh. dan aku memutuskan untuk memasngkan kedua headset itu pada mereka berdua saja.
“Nah mending kayk gini daripada lo berdua berebut, kalo gini lo berdua mesra “ ucapku sambil tertawa.
Mereka berdua melepaskan hampir bersamaan headset itu. Aku geli dengan yang mereka berdua lakukan entah ada apa dengan kedua anak itu.
“kenapa dilepas sih, kan lo berdua mau dengerin musik, gue gak papa kok gak denger daripada rebutan kan” ucapku sambil memasanganya lagi.
“dih, males kalo sama dio kan jadinya gak romantis yang” ucap mika.
“apaan sih mik?” aku menoleh pada mika.
“kenapa? gak mau dipanggil sayang nih gara-gara ada dio disini?”
Aku diam, mika gila apa dia ingin membuka rahasiaku?
“apaan sih lo berdua? jadi berantem gitu.” dio tersenyum geli. aku harap dia tidak tau apa yang terjadi.
“kenapa lo di disni di?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan
“kelas gak ada guru. Nh Mika di luar juga
“kalo mika mah, ada atau gaka ada gurunya suka-suka dia mau di luar” ucapku
“lo kenapa disini?”
“kasus yang sama, gurunya gak bisa datang Cuma kasi tugas”
Entahlah, Aku merasa nyaman berada di dekat dua orang in, terasa aman.  Dio sosok yang aku sukai, dan Mika sosok yang selama ini selalu membuatku merasa nyaman, sosok yang sudah aku anggap keluarga sendiri.
Kami bertiga duduk memandagi hujan, tiap kami sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku kembali mendengarkan headsetku kali ini aku dan dio, Mika membiarkannya.  akau suka saat seperti itu, ahh jantungku berdetak sangat kencang, romantis itu yang aku rasakan. Hujan, dan sepasang headset dengan sebuah lagu romantis yang kami dengarkan bersama. Tak lama aku merasa dio menggenggam tangan kiriku, sontak aku kaget saat itu. Tapi wajah dio terlihat santai, dia tak bicara apa-apa. Dia hanya terus saja memandangi hujan, aku melihat ada senyuman di wajahnya. Entah apa yang terjadi padanya, kenapa dia tiba-tiba menggenggam tanganku, ini kali pertama. Tanganku dingin, tentu saja, bukan karena hujan tapi saat ini aku sedang grogi karena Dio sedang menggenggamnya, Dia tersenyum ke arahku untuk memastikan apakah aku keberatan atau tidak. ah, matanya sangat mempesona. Tatapan itu, seolah menyihirku. Tapi tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah tangan yang juga memegang tangan kiriku, genggamannya agak keras, sedikit memaksa, tangan yang sangat aku kenali. Mika melakukan hal yang sama dengan dio, ah anak ini memang sangat suka mengganggu saat-saat romatisku bersama dio. Kini tanganku digenggam oleh dua orang itu. Rasanya sama, hangat. Tapi tentu saja kau jauh lebih suka dio yang memeganggnya, Mika sudah terlalu sering menggengam tanganku sesuka hatinya. Aku berusaha melepaskan tanganku dari mereka tapi genggaman mereka berdua semakin erat saja.
Semakin hari aku semakin dekat dengan dio, sekarang kemana-mana aku jauh lebih sering bertiga aku, dio dan Mika. Walapun kadang-kadang mika tidak bisa pergi bersama kami karena dia masih sama saja masih suka menghilang tanpa kabar. Tapi itu kesempatan untukku bisa jauh lebih dekat dengan dio.Aku baru tau ternyata dio juga suka musik, sama seperti dia juga mahir memainkan alat-alat musik, hari itu dia menunjukan permainan biolanya kepadaku, saat kami sedang berada di ruang musik sekolah. Ah, dia semakin mempesona saja, bukan hanya perangainya yang baik, wajahnya yang tampan. sikapnya yang sangat humble, tapi bakatnya juga. Lelaki ini sepertinya diciptakan dengan sangat sempurna.
Dio mengajakku nonton hari ini, aku sebenarnya mengajak Mika karena aku masih merasa canggung bila pergi hanya berdua bersama Dio, tapi kali ini Mika tidak bisa jadi kami pergi berdua saja. Dio yang mentraktirku menonton, sebuah film romantis. Dio ternyata tau bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan baik. Dia tidak berusaha mencuri kesempatan dengan cara mengajakku menonton film horor, seperi kebanyakan cowok yang sifatnya agak mesum. Selesai menonton dio mengajakku mendiskusikan film tadi, aku suka cara bicaranya saat sedang serius seperti ini, tertata sangat rapi, bahasa yang dia gunakan, intonasi tiap kata yang tersampaikan, dan bagaimana juga dia berusaha memintaku menyampaikan pendapatku tetntang film tadi. Dio sepertinya adalah teman bicara yang baik, dia tidak berusaha selalu mendominasi pembicaraan, dia memberikan kesempatanku untuk berbicara. Dia membuatku merasa nyaman dan dia mengagumkan.