Rabu, 14 Mei 2014

Cerpen - Pemilik Hati ( Bagian Pertama)

Bayangkan jika karakter di cerpen ini adalah >> (Putra: Billy Davidson, Luna: Jessica Mila, Reza: Esa Sigit , Dita: Nina Zatulini, Mona: Febiola Novita)



Aku duduk sendiri di sebuah bangku di bawah pohon di taman kampusku, memandangi seorang lelaki yang terlihat sangat menyenagkan untukku. Lelaki itu pemilik senyuman yang sangta aku sukai, dia putra. Seseorang yang telah menemni hatiku 1 tahun belakangan ini.Aku suka dia dan segala usahanya dulu. Lela ki ini favoritku. Lucu, saat harus mengingat bagaimana perjuangannya untuk bisa merebut hatiku. Awalnya saat kami pertama kali saling mengenal semua biasa saja. Tapi entah mengapa aku merasa dia menjadi menarik dan dia menyenangkan. Tapi hanya untuk sebatas teman. Saat itu aku baru saja putus dari kekasihku yang sudah 2 tahun berpacaran. Semua terasa berat untuk bisa dekat lagi dengan yang baru. Karena aku masih berharap dia kembali. Putra masuk ke dalam kehidupanku sebagai teman. Teman yang sangat baik. Dia perhatian dan aku suka dia yang peduli tapi tidak keterlaluan semua terasa pas saat kami bersama. 

Pertemuan pertama......
2011. Aku berjalan memasuki lingkunganku yang baru sebuah universitas. Aku memilih jurusan Desain Komunikasi Visual disebuah universitas swasta di Bandung. Aku tidak mengenal siapapun di sana. Aku baru saja pindah ke bandung sekitar 2 bulan saaat itu. Aku pindah dari Pontianak karena ayah juga berpindah kerja. Tapi ayah tidak pindah ke bandung Ayah dipindah tugaskan ke Palembang sementara aku memilih untuk tinggal di bandung saja di rumah nenek. Ya aku bersykur karena punya nenek dan kakek yang sangta baik. Sejak aku di tinggal oleh ayah dan ibu yang juga ikut menemani ayah betugas di palembang merekalah yang mengurusku termasuk saat aku memasuki universitas dan satu lagi yang sangat membantu adalah saudara sepupupku Reza. Reza juga berkuliah di tempat yang sama denganku sayangnya dia berbeda program dan juga angkatan denganku Reza 2 tahun lebih dulu berkuliah dan mengmabil program studi Ilmu komunikasi.
Ketika memasuki kampus tujuan utama yang aku cari adalah Reza karena hanya dia yang aku tau. Aku terus saja menghubungi Reza saat itu tapi handphonennya tidak aktif, karena itu aku memutuskan untuk mencari reza saja ke kelasnya. Aku tidak tahu di mana tepatnya ruangan kelas reza yang aku tau kelas bagian prodi ilmu komunikasi. Dengan perasaan yang agak canggung aku berjalan ke sana. Yang aku tahu adalah mereka yang terus saja memerhatikan aku sedari tadi, entah ada yang aneh dariku aku juga tidak mengerti. Yang jelas aku tidak menggunakan  pakaian ospek karena ospek kampus baru akan dimulai besok dan hari ini adalah sosialisasi tentang apa saja yang harus dibawa.

Dalam perjalananku ke kelas seseorang menarik perhatianku, lelaki itu bermata agak sipit degan rambut agak gondrong dan sebuah headset di telinganya, dia terlihat menggoyangkan tubuhnya menikmati alunan nada yang dia dengar. Dia duduk sendirian Dan akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada orang itu kerana di sana banyak yang bergerombol aku terlalu malu untuk bertanya pada banyak orang. Aku berjalan ke arahnya dan akhirnya berdiri tepat di depannya.
“Permisi” ucap ku singkat.
Dia segera membuka headset di telinganya. Dan berkata “iya, ada apa ya?”
“saya mau tanya mas kenal sama Daniel Reza Sutopo?”
“Reza? Iya saya kenal. Ada apa ya?”
“Mas, ada liat reza gak? Saya dari tadi nelpon dia gak diangkat”
“kalau boleh tau kamu siapa?”
Tak sempat aku menjawab tiba-tiba dari arah belakang aku merasakan seseorang merangkulku dan dia adalah reza.
“hai put, hai Lun” ucap reza menyapa kami berdua.
“ kok lo tau ini gue sih za” tanyaku heran karena Reza bisa mengenaliku dari belakang.
“oh hahha, gue keal tas lo dan di tas lo ada gantungannya nama lo. Btw kok lo kesini? Bukannya lo ada sosialisasi buat ospek besok ya?”
“oh itu setngah jam-an lagi baru mulai dan gue ada perlu sama lo, lo tadi pagi pergi duluan sih”
“oh iyaa. Perlu apa?”
“Lo balik jam berapa?”
“ jam 3 kayaknya?”
“ohh ok, gue mau minta temenin nyari kado sama pesan ku buat ulang tahun pernikahan oma sama opa”
“oh iyaaa, nah lo balik jam berapa?
" gue 2.30 mungkin udah balik”
“ok jadi lo nungguin gue kan? Lo tadi pagi pergi pakai apa?’
“iyaa lah. tadi pagi diantar sama pak darmo”
“ok.”
“nanti gue kabarin ya gue nunggunya dimana dan gue harus pergi akrena 10 menit lagi masuk”
“ok”
Dan aku melangkah pergi menjauhi Reza dan lelaki yang dipanggil reza put itu.
                                                            ***
Aku menunnggu disebuah bangku panjang kira-kira cukup untuk diduduki 3 sampai 4 orang. Dengan sebuah buku ditangan. Ya itu Novel yang sedang ingin aku selesaikan untuk membacanya. Seseorang duduk di sebelahku tapi aku tidak melihat wajahnya.
“Baca apa?” ucapnya memulai pembicaraan.
Aku menoleh utnuk memastikan siapa yang sedang duduk danbaru saja bertanya padaku itu. Dan aku menemukan wajah lelaki itu adalah dia yang tadi di panggil reza deengan sebutan put.
“oh ini novelnya Dewi Lestari Supernova episode petir. Novel lama sih terbitnya 2004 gitu” jawabanku pada pertanyaannya tadi.
‘oh suka baca novel sains fiction gini yaa, berarti udah baca supernova yang episode, ksatria, puteri dan bintang jatuh sama yang akar?”
“iya udah. ini satu di antara genre novel yang aku suka dan katanya 2012 nanti episode partikel juga mau rilis”
“oh iya, by the way, tadi kita belum kenalan dan kamu siapanya reza?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya.
“oh iya, aku Luna, sepupunya reza. Kamu?”
“aku Putra. Bisa dibilang sahabatnya reza. Oh iya, kok aku baru pertama kali liat kamu ya?”
“maksudnya?”
“yaa, aku udah temenan 10 tahun sama reza, dan aku hampir kenal semua sepupu atau keluarganya reza kebetulan ayah sama ibu aku temenan sama ayah ibunya reza. Dan kamu aku baru pertama liat hari ini”
“oh, aku baru pindah ke bandung sekitar 2 bulan, dulu aku tinggal di pontianak ikut papa tugas, jadi separuh hidup aku sampai sekarang aku jalanin di pontianak dan ke bandung palingan Cuma buat liburan atau ngujungin oma sama opa disni, tp sekarang aku netap disini karena papa sekarng kerja di palembang dan mama ngurusin papa di sana”
“oh pantes aja”
“btw kamu kok gak masuk kelas?”
“oh, aku sama reza beda program. Aku broadcasting”
“Oh, broadcast. Seru dong, dulu sempat kepikiran sih mau ambil broadcasting tapi jadinya ambil DKV.
"Oh kamu DKV? Wah keren dong berarti kamu jago desain , jago gambar.”
“jago sih nggak tapi emang suka aja”
“kalau kamu kenapa milih broadcast?”
“dari dulu emang udah suka hal-hal yang berhubungan sama kerja di tv gitu”

Dan hari itu berlalu dengan perbincangan panjang kami tentang jurusan kuliah yang kami pilih. Entah mengapa meskipun baru saja mengenal pria ini aku merasa nyaman dengannya, sikapnya yang ramah, dia juga periang, dia lucu, tapi juga bisa di ajak serius, dia tau banyak hal, jadi untuk bertukar pikiran dengannya sangat menyenangkan, dia juga menurutku berkarakkter sama denganku, sama-sama realistis. Kami berusaha memandang semua hal yang ada selalu punya alasan. Selalu mencoba berpikir positif. Kesan pertamaku hari itu untuknya adalah, dia lelaki yang menyenangkan. Entah megapa aku bisa dengan mudahnya bercerita banyak hal dengann lelaki yang baru saj aku kenal beberapa jam yang lalau. Tapi dia baik. Ya. Dia baik.

Pertemuan kedua...
Setelah hari itu aku seminggu tidak menjumpainya, bukan hanya karena kau sibuk dengan kegiatan ospek di kampus dan awal masuk kuliah tapi yang aku tau dari celotehannya Reza, Putra adalah salah satu aktivis kampus jadi selama kegiatan ospek dia juga sibuk mengurusi junior-juniornya. Dunia perkuliahan membawaku menemu sosok-sosok baru, teman-teman baru. Aku beruntung bisa berrtemu dua orang itu, namanya Mona dan Dita. Dua sosok yang sedari awal saat kami mulai mengikuti ospek selalu berada di sampingku, kami selalu berbaris berdekatan, baik bersampingan, di belakang, dapan atau meyerong. Entahlah kenapa mungkin kami memenag di takdirkan untuk menjadi sahabat. Karena selalu berada pada tempat yang berdekatan, akhirnya kami saling berkenalan satu sama lain, bertukar no telepon hingga menjadi dekat seperti sekarang ini. Dita dan Mona lah yang selalu menemaniku selama di kampus dan di bandung  karena Dita adalah orang Jakarta dan mona orang asli bandung.
Kami bertiga pergi ke kantin setelah perkuliahan hari itu usai, perutku lapar. Mona dan Dita punya misi ingin mencari pemandangan bagus di kantin, kata mereka banyak senior cakep jadi lumayan cuci mata *dasar perempuan*.
Di sana aku menjumpai sosok itu, dia sedang duduk bersama teman-temannya, dia melihat saat aku datang , mata kamu beradu dan kami juga sama-sama tersenyum.
“Lun, siapa? Gebetan kamu ya?” tanya Dita
”dih, bukan kali. Namanya kak putra dia 2 tahun di atas kita, anak broadcasting, sahabatnya sepupu gue” ucapku menerangkan pada mereka.
“dia ngeliatin kamu terus tau dari tadi” timpal Mona.
“Kayaknya dia suka deh sama kamu” ujar diat lagi.
“apaan sih, aku aja baru kenal dia seminggu kemaren. Ngobrol aja baru sekali.”
“ kamu gak bisa nentuin orang suka sama kamu waktunya kapan Lun, bisa aja dia ngalamin love at first sight gitu sama kamu. Lagian doi cakep banget paraaah, bukannya tipe kamu yaa, sipit gitu, putih dan tinggi lagi kalo kata aku mah sempurna nih, duh senyumnya parah banget kece” ujar Mona
“hahaha, kalian bedua yaaa emang deh kalau udah liat cowok. Uadah ah pesan makanan gih. Pada makan apa?”
“aku Nasi goreng deh, minumnya air mineral aja.” Ucap dita
“aku kentang goreng, minumnya jus apel yaa” mona.
Dan aku berjalan menuju kantin langganan kami, kantin kampus ini punya banyak ibu kantin ada sekitar 6 kantin dan mejanya untuk umum. Dan aku harus berjalan melewati meja putra dan teman-temannya saat itu untuk bisa sampai ke katin kami. Aku berjalan dan tersenyum pada putra yang saat itu menyapaku.
“hi, Lun” ucapnya sambil tersenyum.
“hai kak putra” aku membalasanya sambil tersenyum dan berjalan melewati mereka. Aku menyampaikan pesanan pada ibu kantin dan tentu saja harus berjalan melewati mereka lagi. Saat berjalan melalui meja itu aku merasa tanganku seperti ada yang mengenggamnya. Hangat. Dan aku memastikan siapa yang melakukan itu dan dia adalah Putra.
“kenapa kak” ucapku sambil menarik tanganku yang digenggamnya.
“aku mau ngomong sama kamu bentar boleh nggak” ucapnya.
“ngomongin apa?”
“tentang reza”
“dia kenapa?” tanyaku lagi.
“makanya ada yang mau aku omongin tapi gak di sini. Kamu pulang dari kampus mau kemana?”
“ke rumah sih kak”
“ok, kamu pulang sama aku ya, aku antar kamu sekalian kita ngomongin masalh Reza”
Aku berpikir agak lama, entahlah lelaki ini menawarkan aku untuk pulang bersama walaupun alasannya adalah ingin membicarakan tentang reza.
“gimana?” tanyanya lagi.
“ok kak,aku abis makan ini lansung balik kok”
“ berarti kakak tungguin kamu aja ya”
Dan aku membalasanya hanya dengan tersenyum dan melanjutkan perjalanan menuju tempat Mona dan Dita.
Dan di sana terlihat Mona dan Dita sudah heboh, aku tau pasti apa yang mau mereka tanyakan.
“ehhh lun tadi itu cowok ganteng ngomong apa, parah tangan kamu dipegang ahh coba aja kalo aku” ucap Dita
“kan bener aku yakin dia pasti suka sama kamu, aku liatin banget tadi pas dia pegang tangan kamu, cara dia natap kamu itu beda dan mneurut aku cara ngomongnya lembut banget “ ucap  Mona.
“mungkin karakternya emang gitu kalik lagian tadi kenapa dia megang tangan aku mungkin karena gak ada cara lain buat berhentiin aku, soalnya dia mau ngomongin sesuatu gitu tentang sepupu aku, dan btw aku pulangnya gak sama kalian yaa. Tadi kak putra ngajakin balik bareng sekalian ngomongin masalah itu” ucapku menjelaskan pada mereka
“ah. Aku mah udah yakin kamu pasti bakalan cari alasan, alasan dan alasan yang logis buat kejadian tadi, kamu kan menganggap segala sesutu yang terjadi pasti selalu punya alasan” Ucap Mona
“ok deh luna, nah itu tuh ya ngajakin balik buat sekalian modus dan pdkt nih, kita dukung kok” ucap Dita.
                                                                        ***
Aku berjalan meninggalkan kantin bersama Putra yang memang sudah menungguku sedari tadi kami berjalan menuju mobilnya. Dia berlaku sangat baik dia membukakan pintu mobil itu dan entah mengapa aku memang mulai merasakan ada yang berbeda pada dirinya, perhatiannya tidak lagi biasa, caranya menatap juga tidak lagi biasa, cara bicarnya, bahasa tubuhnya dan tadi genggaman tangannya, ada yang berbeda dari semua itu. Ya, atau mungkin aku terlalu percaya diri atau kegeeran? Entahlah.
Mobil melaju cukup kencang dan Putra memulai pembicaraan saat itu.
“Lun, ada hal tentang reza yang mau aku bilang sama kamu, sebenarnya Reza minta kau buat gak bilang sama siapapun tapi, aku gak bisa. Aku udah lumayan lama mendam ini  sendiri dan aku pikir kamu adalah orang yang tepat buat aku kasi tau tentang hal ini, karena menurut aku kamu bisa jaga rahasia dan kamu orangnya bijaksana”
“tentang apa?” tanyau penasaran.
“setahun yang lalu, aku ngantarin reza ke rumah sakit pas dia pingsan waktu itu lagi main basket. Dan di sana dia di periksa, dokter diagnosa kalau Reza mengidap Leukemia”
Tubuhku terasa lemas saat itu, air mataku spontan menetes, entahlah aku tak bisa mengatakan apapun. Putra tau itu dan dia memilih untuk tidak berbicara lagi sementara waktu.
“udah berapa lam kak? Dai gak pernah cerita apapun sama aku.”
“dia emang gak mau cerita katanya. Itupun aku tau karena aku yang ngantarin dia ke rumah sakit dan dia minta aku buat gak bilang sama siapapun. Kamu tau kan kalau mama papanya Reza juga 3 tahun terakhir nggak tinggal di Bandung. Nggak ada yang sadar sama keadaan dia walaupun menurut aku di berubah, terakhir yang aku tau udah stadium 3, aku selalu minta dia kemo dan tinggal di rumah sakit aja biar sakitnya bisa di minimalisasi tapi dia gak pernah mau, dia malah milih buat berobat jalan aja”
“Jadi aku harus gimana kak, aku gak mau kehilangan reza, dia sepupu yang sangat baik kak buat aku, dia udah kayak abang kandung aku sendiri”
“Kalau menurut aku, kamu tolong minta rez buat kemo aja, biar sel-sel kankernya bisa dikurangin. Kalau dia Cuma minum obat aja aku takutnya itu gak bakalan bisa buat dia sembuh. Aku sayang sama Reza, dia sahabat aku yang sangat-sangat baik. Buat aku dia juga udah kayak saudara. Kamu mau kan Lun bujuk Reza. Aku udah gak tau lagi gimana caranya, aku percaya kalau kamu minimal dia mau dengerin, kalau aku dia udah bosan dan aku juga udah bosan dengar semua alasan penolakan dia.” Ucapnya sambil menggengan tanganku,wajah itu aku melihat ketulusan yang sangat, sangat tulus. Ya, dia sahabat yang baik, sangat baik, dan menurutku di pria yang baik.


To be continue...

Minggu, 11 Mei 2014

Because I Miss You – Jung Yong Hwa (C.N.Blue)

lagi suka banget sama lagu ini, OST.nya Heart String . Udah lama sih ini filmnya tahun 2011 tapi parah enak banget.



 neul ttokgateun haneure neul gateun haru
geudaega eomneun geot malgoneun dallajin ge eomneunde

nan utgoman sipeunde da ijeun deusi
amuil anindeut geureoke useumyeon salgopeunde

geuriwo geuriwoseo
geudaega geuriwoseo
maeil nan honjaseoman
geudaereul bureugo bulleobwayo

bogopa bogopaseo
geudaega bogopaseo
ije nan seupgwancheoreom
geudae ireumman bureuneyo
oneuldo

nan bonaenjul aratjyo da namgimeobsi
anijyo anijyo nan ajik
geudaereul mot bonaetjyo

geuriwo geuriwoseo
geudaega geuriwoseo
maeil nan honjaseoman
geudaereul bureugo bulleobwayo

bogopa bogopaseo
geudaega bogopaseo
ije nan seupgwancheoreom
geudae ireumman bureuneyo
oneuldo

haruharuga jugeul geotman gateunde
eotteoke haeya haeyo

saranghae saranghaeyo
geudaereul saranghaeyo
maljocha motagoseo
geudaereul geureoke bonaenneyo

mianhae mianhaeyo
naemari deullinayo
dwineuseun nae gobaegeul
geudaen deureul su isseulkkayo
saranghaeyo

Kamis, 01 Mei 2014

Yovie & Nuno - Sakit Hati

Hai, ini lirik lagu barunya yovie nuno judulnya Sakit hati. parah ini lagu galau banget.


Ku tahu engkau pasti tahu
Betapa hancurnya aku
Bunga yang dulu begitu indah
Perginya entah kemana

Aku sakit aku sakit hati
Kau terbangkan ku ke awan
Lalu jatuhkan ke dasar jurang
Aku sakit dan ku tak mengerti
Kau berikan mimpi indah
Namun kenyataan tak seindah mimpi
Sadar kini cinta tak berbalas

Dulu ku tak pernah menduga kau
Memberi harapan palsu
Gemgam tangan dan senyuman itu
Seolah memikat hati

Aku sakit aku sakit hati
Kau terbangkan ku ke awan
Lalu jatuhkan ke dasar jurang
Aku sakit dan ku tak mengerti
Kau berikan mimpi indah
Namun kenyataan tak seindah mimpi
Sadar kini cinta tak berbalas

Sendiri lagi, sendiri aku
Sendiri aku lagi
Dimanakah cintamu
Yang selama ini untukku

Aku sakit aku sakit hati

Aku sakit aku sakit hati
Kau terbangkan ku ke awan
Lalu jatuhkan ke dasar jurang
Aku sakit dan ku tak mengerti
Kau berikan mimpi indah
Namun kenyataan tak seindah mimpi
Sadar kini cinta tak berbalas

Ku tahu engkau pasti tahu
Betapa hancurnya aku