Selasa, 02 Desember 2014

Musim panas selalu ada


Oleh Asna Sri Hartati

Masalah keluarga yang begitu pelik membuatku lelah menjalani kehidupan, banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Aku lelah dengan segala keadaan yang selalu membuatku merasa bahwa Tuhan itu tidak adil, kenapa dia menciptakan aku dalam kehidupan yang sangat kelam dan menyakitkan, aku sepertinya tidak pernah merasakan bahagia. Entahlah aku sering berpikir seperti itu hingga suatu hari, aku bertemu seorang wanita tua, wanita ini bekerja sebgai pembersih taman, aku bertemu  dengannya hari itu, hari minggu, pukul lima pagi saat aku memilih untuk pergi saja karena di rumah di pukul yang masih sepagi itu, ayah dan ibu sudah bertengkar karena ayah lagi-lagi pulang pagi.banyak yang berlari pagi, tapi aku memilih utnuk duduk saja sambil menangis. Wanita itu sepertinya mengamatiku sedari tadi, hingga akhirnya aku merasakan bahwa di telah duduk di sampingku.
“kamu kenapa nak, kok pagi-pagi begini duduk sendirian dan sudah menangis?” tanyanya.
“saya capek buk sama hidup, Tuhan itu gak adil kenapa kasih masalah yang datangnya bertubi-tubi, saya capek buk sama semua masalah yang ada dalam keluarga saya, saya kayaknya gak diciptain buat bahagia”
“ Tuhan itu adil nak, dia menciptakan manusia sesuai rencananya. Banyak hal yang kita harapkan tapi terjadi tidak sesuai harapan, banyak nak, banyak, karena Tuhan itu tau  mana yang terbaik buat kita, kita ciptaannya. “
“saya tau buk, tapi saya capek buk, selalu berada dalm posisi seperi ini, kenapa harus saya kenapa harus keluarga saya, rasanya kepala saya mau pecah jika harus memikirkan hal-hal yang seperti ini setiap harinya, lama-lama saya bisa gila setiap hari selalu mendengar suara pertengkaran di rumah, marah-marah, tangisan, alat-alat rumah yang pecah dan berhamburan, belum lagi ketidakpedulian mereka pada saya dan saudar saya yang sekarang sedang rehab buk, saya capek. Saya ingin keluarga saya kembali ke masa kecil saya, dimana saya gak tau apa itu masalah, dimana saya bisa menangis dan merengek sesuka hati agar apa yang saya mau di penuhi oleh orang tua saya, masa-masa saat kedua orang tua saya masih memanggil satu dengan lainnya dengan panggilan sayang, saat saya masih bisa bermain sepeda bersama saudara saya di jalan depan rumah, meminta batuan mama mengikat rambut dan memilihkan baju, di antar kesekolahan, liburan bersama dan masa-masa indah lainnya, saya lelah bu dengan masalah yang sudah berlarut-larut ini tanpa ujung, tanpa ada penyelesaina, saya mau semua kembali seperti dulu”
“nak, Ada saatnya dalam kehidupan kita, kita memang akan merasa sedih, kita merasa masalah yang berlebihan, masalah yang datang bertubi-tubi tidak ada habisnya, dan kita merasa tidak akan pernah ada penyelesaian untuk masalah-masalah itu. Saat kita ingin kembali ke masa masa bahagia yang pernah kita rasakan dulu.  Dulu ibu juga pernah merasa begitu, tapi seiring waktu berjalan ibu tau, banyak hal tentang kehidupan yang tidak akan pernah bisa ditebak oleh kita, kita hanyalah pelaku-pelaku dalam skernario yang Tuhan ciptakan. Kita akan merasakan yang namanya di atas yang namanya di bawah, tidak akan ada bahagia yang selamanya, karena kamu gak akan merasakan bahagia tanpa ada pembandingnya kan? dari mana kita manusia akan merasakan bahagia tanpa kita pernah merasa sedih? Itu saja nak yang hrusa kamu pahami.”
“ tapi buk, kenapa harus bertubi-tubi kenapa tidak datang saat satu masalh sudah selesai, sedangkan masalah ini datang tanpa jeda buk, saya capek”
“nak, dalm hidup yang namanya musim panas itu selalu ada”
“musim panas?”
“yaaa, musim panas, ibu sudah pernah  merasakan itu nak dan bisa saja masih akan berlanjut. Klau boleh ibuk ceritakan kepada kamu, dulu sebelum seperti sekarng ini, ibu berasal dari keluarga yang cukup berada, suami ibu adalah pangusaha di bidang property, kami  merasaknan hidup yang sangat bahagia. Tapi suatu hari usaha itu harus kami relakan termakan habis oleh api yang membuatnya tak bersisa, anak-anak ibu mati dalam kebakaran itu, dan kami terjerat hutang yang sangat banyak”
“lalu?”
“ ibu dan suami ibu berusaha mencicil hutang itu dengan uang dan harta yang tersisa dan semuanya habis. Akhirnya kami hanya bisa tinggal di komplek perumahan kumuh. Suami ibu bekerja dengan cara memulung dan penghasilan kami sehari hanyalah paling banyak 10.000. Kalau dipikir, mungkin saat itu ibu memilih untuk mengakhiri hidup saja daripada hidup terjerat masalh yang sangat berat dan pelik. Hingga pada akhirnya dua tahun kemudian suami ibu meninggal karena penyakit jantung yang sudah lama di deritanya dan sejak musibah itu dia tidak lagi pernah minum obat. Dan ibu akhirnya sendiri. Saat itu dalm pikiran ibu daripada terus hidup menyiksa diri dengan masalh yang tak kunjung berhenti dan kemisikinan juga kemalangan nasib ibu ingin bunuh diri saja, hingga saat itu hati ibu tergerak saat melihat sebuah gereja. Besoknya adalah hari minggu dan ibu pergi ke gereja. Entah apa yang mendorong ibu untuk pergi kesana karena ibu sangat jarang pergi ke gereja dulu saat kami masih berkecukupan . Hari itu seorang pendeta berkhotbah dengan tema “ musim panas selalu ada” khotbah hari itu sangat menyentuh dan ibu merasakan apa yang diceritakan oleh pendeta itu, bahwa dalam hidup yang namanya musim panas itu akan selalu ada. Saat diamana masalah datang dan kita berpikir tidak akan pernah ada penyelesaian, saat dimana kita kecewa dan merasa muak dengan kehidupan kita, saat kita merasa Tuhan tidak lagi berpihak pada kita karena memberi cobaan yang menurut kita sudah tidak lagi mampu kita jalani, saat kita merasa kehidupan kta sudah tidak lagi ada gunaanya saa-saat sulit di dalm kehidupan kita nak” Ucap ibu itu.
“tapi buk, kalau Tuhan memang baik enapa dia harus mencipatakan musim panas? Kenapa tidak musim digin saja, cukup satu musim. Bukankah kita ciptaannya kenpa kita tidak diciptakan utnuk menjadi bahagia, kenapa harus ada kesedihan di dunia ini? Kenapa? Saya benci dan muak pada kehidupan saya sendiri buk. Di usia yang masih begini saya harus hidup di tengah-tengah masalah yang bertubi-tubi”
“Nak, kamu haru s paham bahwa dalam hidup setiap hal diciptakan berpasangan. Jika ada musim panas memang harus ada musim dingin. Hidup itu harus seimbang nak, ketika kamu bahagia harus juga ada kesedihan sebagi pembandingnya. Kamu gak akan pernah tau yang namanya bahagia, kalau kamu tidak pernah merasakan yang namanya duka atau kesedihan.” Jawab ibu itu sambil mengusap air diamtaku.
“tapi bu, kenapa bertubi-tubi kenapa masalah yang datang beiringan tanpa satupun diselesaikan. Saya rasanya gak kuat bu, saya gak sekuat itu untuk bisa menerima semua ini.”
“ kita hidup diajarkan untuk bisa sabar dan siap menerima apapun, karena kita tidak pernah tau skenario kehidupan kita, apa yang sedang tuhan tulis, apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya. Percayalah nak, bahwa ada jawaban dan penyelesaian untuk setiap masalah tapi kamu harus berusaha menyelesaikannya, jika kamu hanya diam dan berpangku tangan meyaksikan masalah dalam hidup kamu semua akan berlarut-larut. Tetapi jika kamu setidaknya mencoba untuk memahami, mencoba untuk meyelesaikan masalah itu semuanya bisa selesai. Kamu tidak boleh lari dari masalah, karena Tuhan memberi masalah pada kita agar kita lebih kuat untuk bisa menjalani hidup. Anggap saja kamu beruntung karena Tuhan mempercayakan kamu untuk bisa menerima masalah dan Tuhan memebri kamu masalah karena dia percaya bahwa kamu dapat menyelesaikannya.”
Aku diam dan berusaha meresapi setiap perkataan ibu itu. Dan entah mengapa aku merasa dia benar, bahwa hidup itu memanag harus seimbang dan setiap masalah pasti ada penyelesaiannya.
“Jika hati kamu sudah lebih enakkan, kamu lebih baik pulang ke rumah. Kamu coba ajak orang tuamu bicara. Kamu kristiani?” Tnaya ibu itu
“iya bu. saya kristen?’
“ini hari minggu kan, lebih baik kamu pulang, ajak orang tuamu ke gereja, ajak mereka mendengarkan firman Tuhan, ajak mereka berdoa untuk setiap persoalan yang kalian hadapi, karena doa adalah cara yang paling manjur utnuk membuat segalanya lebih baik.”
Aku diam sebentar. Dan aku bangkit dari tempat dudukku.
“terima kasih untuk sarannya buk, terima kasih untuk semua nasihat dan pencerahannya. Saya pulang dulu” Ucapku.
Aku bergegas berjlan dengan hati yang sudha mulai tenang, setidaknya banyak hal baru tetang hidup yang aku pahami dari wanita tua itu. Bahwa Musim panas selalu ada, bahwa hidup itu harus seimbang, bahwa setiap hal dalam hidup kita selalu punya alasan, Bahwa masalah itu ada untuk diselesikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar