Minggu, 12 Oktober 2014

Pemilik Hati (bagian Ketiga (ending))


Setelah hari itu sebenarnya aku merasa agak canggung jika harus curhat pada putra apalagi aku tau tentang perasaannya, entah mengapa perasaan nyaman bersama putra itu masih sebatas kata “nyaman” saja. Entah mengapa  belum ada yang lebih, Putra membuatku nyaman tapi hatiku masih diisi oleh dia yang jauh  di sana. Gemilang. Lelaki yang memilih untuk memutuskanku karena alasan jarak. Entah mengapa aku masih belum bisa melupakannya. Aku hanya tidak ingin berbohong dan memaksakan keadaan. Aku tidak mau membohongi Putra. Lelaki ini terlalu baik, aku tidak mau menyakitinya hanya dengan menjadikannya pelampiasan rasa kecewa pada Gemi.

beberapa tahun, kami sudah bersama dan aku masih memosisikannya sebagai sahabat. Aku mencoba melupakan bahwa dia mempunyai perasaan yang lebih padaku. Aku tahu mungkin itu membuatnya merasa  sakit. Tapi aku bisa apa jika dia tidak memilih untuk pergi. Ya, kami berusaha bersikap biasa. Walaupun yang aku tau dia tidak pernah bersikap biasa saja, entah mengapa dia memberi perhatian yang cukup dan aku menyukainya, tanpa sesuatu yang berlebihan, tanpa harus membuat aku merasa risih, kadang aku merasa dia adalah pacarku.
Dan aku mulai benar-benar menyayangi Putra. Tapi aku masih tidak mau menjalin sebuah hubungan dengan sattu pacar, karena kau takut, sangat takut jika kejadian kemarin terulang lagi, aku mungkin terlalu memikirkan apa yang nantinya akan terjadi.. Aku takut jika suatu hari nanti kami pacaran, punya masalah lalu kami puus dan kami tidak lagi menegur satu dengan yang lainnya, berpura-bpura tida mengenal, saling mengumpat, menjelek-jelekan dan hal semcamnya yang sering dilakukan oleh orang sekarang. Aku sangat takut kehilangan Putra karena di membuatku merasa sangat nyaman dan sangat aman. Ya, aku takut itu terjadi dan dia pergi dari kehidupanku, tapi kadang aku mersa bersalah selalu memosisikannya seperti ini, tapi aku bisa apa. Aku benar-benar takut jika semua itu harus terjadi. Dan kalu boleh jujur aku sudah nyaman dengan sekarang.
Memang benar setiap orang butuh kejelasan tentang apapun yang dialaminya, begitu juga dengan putra, tapi belakangan putra tidak lagi memintaku menjadi kekasihnya, tapi dia selalu memperlakukanku sebagai kekasihnya. Kami menikmati bagian-bagian dimana kami bisa menjadi teman, melakukan hal-hal konyol, kami curhat tentang segala jenis masalh, dia mendengarkan semua ceritaku, mengusap air mataku, memeluk dan merangkulku kala aku menangis agar hanya dia yang bisa mendengar tangisanku. Dia memeprlakukanku dengan sangat baik sangat-sangat baik. Aku menyayanginya. Sungguh sangat menyanyanginya. Putra selalu ada saat aku membutuhkannya dan dia memiliki segalanya yang aku sukai, aku tidak bisa menemukan yang lain yang sperti dia, bahkan dulu saat bersama Gemi aku tidak pernah merasakan perasaan senyaman ini. Tidak ada yang berlebihan dia melakukan semuanya sesuai porsi. Dia sepertinya sudah sangat mengenalku, sangat-sangat mengenalku.

Hingga hari itu, mungkin hari terburuk yang pernah aku alami. Aku tidak tahu harus apa dan dunia seakan sudah berakhir. Dia pergi. Putra pergi untuk selamanya. Aku tidak sempat mngucapkan bahwa aku juga mencintainya, aku tidak sempat memberi dia kejelasan tentang perasaanku. Sebuah kecelakaan bus pariwisata dari kampus saat mereka sedang melaksanakan tour ke daerah merenggut nyawanya dan beberapa temannya. Entah mengapa, kenapa harus dia kenapa bukan yang lain, kenapa dia? Itu saja yang selalu aku pertanyakan. Padahal masih banyak yang lainnya. Bukan aku menyumpahi tapi aku hanya tidak rela dia yang pergi, aku belum smepat mengutarakan apa yang selama ini aku rasakan tentang rasa nyaman, rasa aman, dan rasa sempurna yang aku rasakan bersamamnya. Aku mencintainya, benar-benar mencintainya. Sepertinya aku tidak akan menemukan yang lebih baik darinya.
Saat pemakamannya seseorang datang menghampiriku, wajahnya sangat mirip dengan putra, bedanya adalah dia perempuan.
“kamu, luna?” Tanyanya. Aku mengangguk pelan sambil mengusap air mata.
“iya, aku luna”
“ini” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak yang cukup besar. Aku tidka tau apa isinya.
“ini apa” tanyaku.
“ini milik putra, akua menemukan ini di kolong temapt tidurnya, sepertinya akan diberikan padamu tapi masih belum sempat, mungkin saja untuk kado ulang tahun kamu” ucapnya
“dari putra” tanyaku memastikan lagi
“iya, dia sepertinya sangat sayang sama kamu. Dia tidak pernah seperti ini sbelumnya. Yang aku tahu dulu dia sering mendekati banayk perempuan, dan baru kali ini yang aku tahu bahwa dia menyukai seorang perempuan dalam waktu sangat lama. Oh iya, kenalkan aku putri, saudara kembar putra” ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya.
“luna” jawabku menyambul tangan itu.
“maaf sebelumnya, kalau aku udah lihat-lihat dan periksa isi kotak itu, karena aku ingin memastikannya. Putra tidak pernah menunjukan fotomu padaku dia memang sering curhat namun hanya lewat telepon, kebetulan orang tua kami berpisah, kami juga tinggal di kota yang berbeda dan aku tinggal bersama ayah, putra bersama ibu. Menurutku kamu beruntung dan terima kasih sudah bisa merubah putra menjadi lelkai yang sangat baik. Di sana juga ada tulisan-tulisan putra, putra suka menulis dan menurutku semua tulisan itu tentang kamu. Bagianya kamu wanita sempurna yang pernah dia temui seklaipun kamu tidak memeberinya kepastian tenag hubungan kalian tapi katanya dari semua yang terjadi dia juga tahu bahwa kamu juga menyayanginya hanya kamu merasa tkaut jika ada yang akan terjadi kamu takut putra menjauh jika kalian punya masalh sebagai pacar. Itulah yang aku baca dari sana. Apa itu benar?”
Aku diam sejenak mendengar cerita itu. Putra sangat mengenalku dia tahu apa yang terjadi dan yang aku rasakan, dia memahami kedaanku dan berusah membuatku senyaman mungkin. Air mataku tak bsa berhenti menetes, aku merasa sudah menyia-yiankan lelaki favoritku ini. Aku sudah membiarkannya pergi sebelum bisa membuatnya mendnegar tentang segala perasanku.

“Dan akau ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi karena telah manjadi wanita terbaik dan bagian  terbaik dalam akhir hidupnya karena kita tidka pernah tau kapan sebuah kehidupan akan berakhir kapan kita akan sampai pada batas waktu yang sudah ditentukan terima kasih sudah memebuatnya merasakan bahgia memiliki seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman.” Ucap putri sambil memelukku.

“aku juga ingin berterima kasih padanya karena sudah menjadi lelaki terbaik yang pernah aku kenal, karena sudah menjadi lelaki terhebat yang pernah aku tau, karena sudah membutaku merasa nyaman dengan tidak berlebihan, karena selalu ada dan selalu bisa mengerti aku, karena sudah jadi sumber bahagia dan alsan aku bisa melupakan segala masalah yang ada. Sejujurnya aku mencintainya, sangat mencintainya. Aku hanya takut mengatakan itu aku takut jika kami menjadi kekasih dan pada akhirnya harus berpisah dia kan pergi aku takut tidak lagi bisa menemukan seseorang sepertinya yang bisa memperlakukanku dengan cara yang sempurna.” Ucapku pada putri.

Dan aku berharap benar-benar berharap bahwa dimanapun Putra sekarang Putra tau tentang tentang perasaanku yang sebenarnya sekalipun aku tidak lagi bisa melihat dia, tidak lagi bisa menyentuhnya tidak lagi bisa merasakan bahagia bersamanya, setidaknya aku hanya ingin dia tahu bahwa sebenarnya selama ini perasaanya berbalas bahkan sejak awal bertemu aku sudah menyukainya, bahwa putra adalah lelaki terbaik yang pernah ada dalam kehidupanku. Lelaki terbaik yang pernah menemaniku, yang memberiku rasa nyaman dan kebahagiaan dengan cara yang sangat sempurna. Dan putralah pemilik hatiku.

-THE END-

Check juga Pemilik Hati ( bagian pertama) dan Pemilik Hati (bagian kedua) :) enjoy it


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar