Rabu, 18 Juni 2014

Pemilik Hati (Bagian kedua)

Aku sampai di rumah, dan aku lihat di sana ada Reza bersama oma dan opa entah apa yang mereka bicarakan tapi aku memastikan mereka sedang membahas hal-hal yang mneyenangkan karena mereka terlihat tertawa. Tapi, mungkin benar yang orang katakan kadang saat kita tau keadaan seseorang sedang sedih, ataupun menderita ada rasa simpati dan kasihan yang muncul dari diri kita. Aku tidak munafik entah mengapa saat melihat Reza, yang aku bayangkan adalah Reza yang sedang sakit. Aku tidak bisa memikirkan hal yang lain jika melihatnya, aku selalu mencoba untuk membuang pikiran itu tapi tidak bisa. Aku hanya takut jika Reza tau aku sudah tau dia tidak lagi mau menerima perbuatan baik yang aku lakukan walaupun itu sebenarnya tulus. Namun hari itu 4 hari setelah putra memberitahuku tentang keadaan Reza aku memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu padanya. Hari itu kami sedang duduk berdua di loteng rumah oma, memandangi langit yang malam itu terlihat bersinar terang dengan bintang dan bulan. Reza duduk bersandar pada kedua tangannya yang dia letakkan di lantai dan aku duduk di sebelahnya.
“za” ucapku tanpa melihat ke arahnya.
“yess, lun?” dia menjawab dan memandangku
“ada yang mau lo ceritain gak sam gue?”
“cerita? Cerita apa?”
“gue yakin ada hal yang lo sembunyiin dari gue”
“apaan sih luna gue gak ngerti yang lo maksdud” ucapnya sambil tertawa.
“lo sakit kanker darah, leukemia? ” aku berucap sambil memandangnya.
“hah, leukemia? Sotoy lu” ucapnya. Aku melihat raut wajahnya memang sedikit berubah.
“Kenapa lo gak mau kemo aja za? Biar sel-sel kankernya bisa dikurangin”
“lo ngomong apa sih. Gue nggak ngerti tau leukemia, kemo apaan coba”
“jangan bohong za, gue udah tau kok”
Reza diam sementata waktu.
“putra ya?” nada suaranya berubah menjadi datar.
Aku tak mejawab.
“ gak papa kok gue emang gak mau kemo, menurut gue ini ema\ng udah takdir gue, kalo gue emang harus mati, ya gue bakalan mati. Di kemopun kalau Tuhan maunya gue mati ya gue pasti mati.”
“za, lo tau gue sayang sama lo udah kayak saudara kandung gue sendiri. Lu tau juga banyak orang yang sayang sama lo. Lo mau bikin mereka sedih, lo mau bikin gue sedih. “
“nah gini kenapa gue gak pernah mau orang tau keadaan gue karena mereka pasti bakalan nganggap gue mengasihankan, jadi pada kasihan, pada sok baik pada perhatian. Gara-gara gue udah mau mati.” Ucapnya dengan nada sinis.
“ ohh, di otak lo Cuma ada itu? Jadi lo nganggap gak ada orang yang tulus sayang sama lo? Otak lo ternyata cetek yaa za. Gue gak nyangka. Gue ngomong gini juga buat kebaikan lo, gue dan semua yang sayang sama lo itu peduli za, kita peduli sama keadaan lo. Lo tau kan kalo gue ini anak tunggal, dan buat gue lo udah kayak abang kandung gue sendiri. Gue gak mau za kehilangan orang yang gue sayang, selama masih bia dicegah kenapa gak dicegah, kenapa lo harus nyika diri lo dengan yang kayak gini. Kalo gini lo terlihat mengasihankan za, lo nyiksa diri lo karena pemikiran cetek lo, karena asumsi lo tentang apa yanng akan terjadi kalau orang tau lo sakit. Terserah lo za sekarang, gue Cuma mau bilang kalau gue tulus peduli dan sayang sama lo. Lo pikir aja dulu. Dan maaf kalo gue gini, kita gak usah teguran dulu sampai lo punya jawaban buat pertanyaan gue.” Dan aku pergi meninggalkan Reza yang duduk terdiam.
Setelah malam itu aku memmang memutuskan untuk tidak menegur Reza, aku membiarkannya berpikir pada pertanyyan dan permintaanku itu. Aku sering berpapasan dengannya dan aku memang sengaja memalingkan wajah darinya.
                ***
Aku semakin dekat dengan putra. Dia selalu menemaniku, dia baik, dia pendengar yang baik dan juga pemberi nasehat yang baik. Dia selalu mempertanyakan bagaimana perkembangan reza dan apakah dia mau dikemoterapi. Ya, dia selalu bertanya. Karena Reza ternyata sedang memusuhinya karena dia memberitahuku tentang keadaan Reza yang sebenarnya. Putra membuatku bahagia. Sebulan sudah kami kenal. Dia tahu bahwa aku sudah punya kekasih yang sudah kupacari selama dua tahun. Tapi perlakuannya masih tetap tidak biasa. Dia masih sangat peduli padaku walaupun dia tau aku menganggapnya biasa saja.

Tapi sebuah kenyataan ternyata harus aku terima. Gemilang kekasihku memilih untuk memutuskan hubungan kami. Alasannya dia tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Ya, 3 bulan belakangan kami memang jauh karena dia di Pontianak dan aku berada di Bandung sekarang. Aku tidak yakin sebenarnya hanya itu alasannya. Karena beberapa bulan terakhir sejak kami jauh hubungan kami memang agak renggang. Dia jarang menghubungiku dan saat aku hubungi dia juga sering tiida membalas, atau hanya me-read saja. Komunikasi kami seakan terputus. Bila aku tanyakan mengapa dia hanya menjawab dia sedang sibuk dengan urusan kuliahnya. Ya, dia memang mengambil jurusan kedokteran di sebuah universitas negeri di Pontianak. Dari situ sebenarnya aku memang sudah merasa akan ada yang berubah. Dan kenyataannya memang begitu. Entah mengpa banyak masalh yang datang. Tentang Reza dan sekarang hubungan cintaku yang harus berakhir. Aku tidak tau harus bagaimana. Mona dan Dita selalu menghiburku karena aku hanya menceritakan amsalh ini pada mereka . Aku sudah tak berteguran dengar Reza selama hampir 2 minggu. Dan Putra aku memlih untuk tidak memberitahunya dan selalu bersaikp biasa saja saat di dekatnya.

Hari itu aku sedang berada di taman kampus mencoba menyicil beberapa tugas sementara Dita dan Mona lebih memilih untuk berada diperpusatkaan. Seseorang duduk di sebelahku. Dan dia adalah Reza.
“Lun, gue udah mikirin semuanya. Apa yang lo bilang dan juga yang selama ini dibilang sama putra. Gue tau gue mungkin emng salah karena nyembunyinn ini dari semua orang Cuma karena keegoisan gue yang gak mau dikasianin sama orang. Dan gue juga tau gue salah karena gak mau dikemoterapi. Gue takut lun dikemo, sakit. Gue sadar lun sekarang kalau banyak orang yang sayang sama gue. Gue sadar kalau gini gue Cuma bakalan nyia-nyiain kehidupan gue doang, gue seharusnya masih bisa jadi orang yang berguna buat orang lain sekalipun umur gue udah gak panjang lagi. Dan gue seharusnya usaha buat sembuh bukan Cuma meratpi hidup dan ngebiarin penyakit ini ngebunuh gue. Gue udah mulai ngejalanin kemo lun seminggu terkhir. Maaf kalau gue baru bilang.”
Entahlah aku tidak bisa bicara apapun saat itu. Aku lansung memeluk erat tubuh Reza yang saat itu menggunakan kupluk di kepalanya.
“putra udah tau?” tanyaku padanya
“gue belum kasi tau dia. Lo aja yang bilang ya. Besok lo ajak dia antarin gue kemo ya.”
“siap. Gue sayang lo za.”

Dan hari itu Reza membuatku bahagia.
                ***
Aku dan putra menemani Reza kemoterapi di sebuah rumah sakit khusus kanker. Aku melihat wajahnya terlihat lelah menahan rasa sakit. Reza kemoterapi 3 kali dalam seminggu. Oma dan opa sudah tau. Orangtua Reza juga sudah tau. Kadang saat aku tidak bisa menemani Reza oma yang pergi menemani Reza atau sepupu yang lainnya. Namun usaha yang kami lakukan selama beberapabulan terakhir itu tidak cukup untuk bisa membuat Reza bertahan. Karena kanker itu ternyata sudah stadium akhir dan sudah menyebar keseluruh jaringan darah Reza, karena selama ini Reza selalu membiarkannya. Reza akhirnya meninggal pada desember 2011.

Malam natal pertama di tahun itu kami lalui tanpa Reza. Dia sudah damai disana. Biasanya saat natal kami berkumpul ramai di rumah oma sambil bertukar kado dan Reza adalah orang yang selalu paling antusias untuk bertukar kado. Tapi tahun ini sepi, reza sudah pergi.Dia  Sudah bahagia disana. Dia juga pasti berharap kami disini bahagia. Aku sedih, sejujurnya sedih. Tapi aku juga bahagia karena mungkin kematian adalah jalan terbaik untuk semuanya. Reza tidak lagi harus menderita karena penyakitnya. Dan Tuhan juga pasti sudah punya jalan yang terbaik untuk kami dan juga Reza.

2012. Ini tahun baru dan tahun pertama reza tidak akan adalagi bersama kami. Semua yang mengenal reza merasa kehilangan termasuk Putra. Putra terlihat sangat terpukul atas kejadian meninggalnya Reza. Karena mereka sudah bersahabat sangat lama. Dan aku memasuki semester kedua di perkuliahan. Semenjak Reza meninggal Putra jadi lebih sering menemaniku. Aku sadar Reza lah yang membuat kami bisa kenal dan bisa dekat. Semua kejadian itu berhubungan dengan Reza.
Hari itu. Putra mengajakku pergi ke sebuah tempat. Kami tiba disana sekitar pukul 17.00. Putra bilang dia mau menunjukkan seseutu katanya. Ternyata dia mengajakku pergi ke sebuah taman. Di sana terdapat lapangan rumput yang sangat luas, aku melihat beberapa orang yang berjalan disana. Dia menarik tanganku menuju bagian dari lapangan itu yang agak tinggi kemiringannya mungkin 10 derajat. Kami duduk disana dan emmandangi langit sore itu yang sudah mulai memerah. Dia bebaring dengan lutut yang masih ditekuk. Aku memandanginya dan dia seperti ememberi kode bahwa dia memintaku juga untuk melakukan hal yang sama. Aku beberaing di sebelahnya.
“ coba deh kamu pandangi langit sore ini. Cerah ya. Reza mungkin aja lagi liatin kita dari sana. Aku kangen sama dia” ucapku pada Putra.
“Aku juga kangen sama dia. Disana Reza mungkin sudah punya kehidupan yang jauh lebih baik. Tuhan selalau punya rencana terbaik untu setiap umatnya dan apapun yang terjadi selalu ad Tujuan dan alasan. Mungkin aja keberadaan Reza itu jalan buat kita  bisa dekat” ucapnya yang membuat aku terdiam.
“kadang kalau dipikirin aku gak pernah pengen ngalamin hal kayak gini, nemenin seseorang dalam waktu yang sangat lama yang akhirnya harus pergi. Walaupun kita tau bahwa gak akan pernah ada hal yang abadi di dunia ini. Applagi kehidupan, selalu ada ahir dari sesuatu yang berawal. Berat sebenarnya buat aku kehilangan seorang Reza, Sahabat yang sangat luar biasa. Tapi kita emang gak akan bisa ngelawan takdir Tuhan. Mungkin Reza emang lebih baik pergi duluan. Tuhan juga ngutus Reza sebagai jalan buat kita bisa saling kenal satu sama lain. Jujur ya lun, kenal sama kamu adalah satu di antara bagian paling indah dari hidup aku”
“ kita tau Tuhan memang selalu punya rencana buat kehidupan kita, Tuhan juga yang buat kita saling kenal, Tuhan yang buat aku nemuin sahabat sebaik kamu put, jarang sebenarnya aku bisa sahabat sama laki-laki apalagi yang umurnya lebih tua di atas aku. Tapi ketemu kamu semuanya berubah ternyata sahabatan sama laki-laki itu menyenangkan, banyak hal yang gak bisa didiskusiin sesama perempuan tapi nemuin penyelesaian yang logis saat aku diskusiin sama kamu. Aku beruntung kenal kamu” ucapku.
Putra diam. Akupun diam. Kami diam untuk beberapa saat sementara mata kami sama-sama menerawang ke langit dan pikiran kami entah ada dimana.
“Sahabat ya lun?” pertanyaan itu muncul dari Putra dengan nada suara rendah.
“Cuma itu? Gak ada yang lebih?” tanyanya lagi
“putra?”
“aku tau kamu mungkin masih punya pacar tapi, apa kebersamaan selama ini gak bisa jadi lebih lun, apa aku gak bisa nempatin salah satu ruang spesial di hati kamu selain sebagai sahabat” tanyanya, kini posisinya duduk sementara matanya menatap lurus, suasana hari itu sudah akan gelap lampu taman sudah mulai dinyalakan.
Aku duduk sejajar dengan putra.
“Putra, mungkin sekarang saatnya aku jujur sama kamu. Aku udah putus dari Gemi. Dan maaf kalau aku Cuma bisa anggap kamu sahabat sekarang. Kita tipe orang yang sama, sejak awal kenal aku ngeraguin persahabatan antara cewek dan cowok adalah karena susah buat Cuma sekedar sahabat saat ada perasaan nyaman dan sayang yang muncul di antara mereka, tapi aku jujur mungkin untuk saat ini rasa itu belum ada, aku nyaman sama kamu, aku juga sayang sama kamu, kalau boleh dibilang kamu tipe lelaki favorite ku dengan kepribadian yang sangat aku sukai. Tapi, kamu tau kan berat rasanya buat pindah hati dengan cepat setelah hubungan dua tahun yang kandas. Kamu tau mungkin untuk sebagian orang mereka memilih untuk cepat move-one tapi, gak sama dengan aku. sejak awal aku sadar yang namanya hubungan jarak jauh itu susah dipercaya apakah dia akan setia, ya kita paham aja satu sama lain, orang yang mana yang tahan ngerasain sepi, sementara dia punya hubungan dengan seseorang yang Cuma bermodal kepercayaan, selama apapun itu kita tau kalau manusia itu berubah, keadaan akan merubah kita, mungkin saat kita menemukan yang kita rasa lebih baik yang bisa bikin kitanyaman kita akan pindah kesana meskipun kita ngerasa udah menemukan yang terbaik. Kadang orang baru bisa kasi suasana baru saat kejenuhan itu muncul. Aku gak bisa maksain gemi bertahan sama aku saat dia udah ngerasa gak nyaman, dan aku juga gak bisa maksain perasaan aku ke kamu saat aku belum yakin put. Aku nyaman sama kamu, tapi sekarang mungkin cuma buat sahabta tapi kalau boleh jujur aku masih sangat sayang sama gemi walaupun dia memilih pergi. Karena gak gampang put buat kita lupa sama orang, kita mungkin gak akan lupa, kita cuma belajar buat gak selelu mengingta karena masa lalu mungkin akan selalu jadi masa lalu. Tapi kita belum tau masa depan akan seperti apa. Aku ngerti kok semua ucapan kamu tadi. Aku cuma bisa bilang maaf kalau kita sementara ini cuma bisa jadi teman, dan tolong jangan jauhin aku stelah ini, aku gak mau kehilangan kamu aku nyaman punya seorang sahabat seperti kamu”
“aku tau lun, aku juga tau kamu udah putus. Itu kenapa aku berani ngungkapin perasaan yang aku pendam. Aku minta maaf kalau lancang buat ngucapin hal itu yang nantinya malah bisa bikin kita ngerasa canggung satu dengan yang lainnya. Tapi aku cuma gak mau bohong. aku janji lun kita gak akan jauh kok. Walaupun kejadian hari ini. Karena kau tau kamu orang yang seperti apa. Aku juga harap kamu jangan canggung buat curhat lagi. Aku gak akan maksa kamu. Tapi aku akan nunggin kamu sampai kamu yakin sama perasaan aku ke kamu sampai aku benar-benar bisa bikin kamu ngerasa lebih baik sama aku dan coba buat gak ingat sama yang lalu” Putra menyodorkan kelingkingnya dan aku membalasnya.
Dan hari itu berakhir dengan sebatas kata “sahabat”.

To be continue....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar