Minggu, 26 Januari 2014

SAYAP



SAYAP 

Oleh Asna Sri Hartati




Aku tak pernah mengerti kenapa Tuhan harus memberiku kaki jika tak bisa digunakan, kaki yang tercipta hanya untuk menjadi pajangan semata?
Aku terlahir cacat. Karena ini ibu memilih untuk meninggalkan aku dan ayah ketika usiaku memasuki 3 tahun saat dia menyadari bahwa aku cacat, ibu tak pernah peduli padaku karna aku yang menyebabkan dia tak bisa hamil lagi setelah rahimnya diangkat beberapa bulan setelah kelahiranku. Sosok yang sangat aku banggakan sekarang adalah ayah dia tak pernah lelah menyayangiku, dia selalu mengajarkan aku untuk berjalan meski dia tahu itu tak mungkin, kami hidup dalam sebuah kesederhanaan ayah bekerja sebgai seorang guru SD di sebuah sekolah negeri . Jujur saja aku sangat membenci diriku sendiri aku membenci keadaan yang begini, aku tak pernah merasakan indahnya masa-masa bermain bersama teman-teman ku, apa yang bisa kulakukan aku duduk di kursi roda, tak sedikit dari mereka yang mencibir keadaanku. Ayahku adalah lelaki terhebat yang pernah kutemui dia melakukan apapun yang dia bisa demi aku dia yang bekerja dia yang memasak dia yang membersihkan rumah dia yang mencuci dan sebaginya dia yang melakukannya, maklum saja dia hanya guru SD biasa yang gajinya tak sebarapa jadi kami tak bisa membayar orang untuk bekerja di rumah. Aku sering menangis dengan keadaan ini betapa tak bergunanya aku hingga semua pekerjaan yang seharusnya bisa aku kejakan untuk membantu ayah harus juga ayah yang megerjakan, aku tak tahu mengapa ayah tak mau menikah lagi, jika menikah akan ada wanita yang megurusinya, aku pernah menanyakan hal ini padanya namun dia hanya menjawab jika dia hanya ingin melewati hidupnya denganku. Namun dia tersiksa dengan keadaanku. Aku merasa sangat sangat tak berguna, memiliki kaki yang tak berguna kenapa Tuhan harus menciptakan kaki jika tak bisa digunakan seperti ini. Andai saja Tuhan memberiku sayap sebgai pengganti kaki lumpuh ini, sayap yang bisa membawaku terbang bebas kemanapun aku mau sayap yang bisa membantuku untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah yang ayah laukan, sayap yang menghantarkan kebahagiaan untuk kami.

Sekarang usiaku 15 tahun, aku sudah mulai besar sekarang sudah ada beberapa pekerjaan rumah yang bisa kau lakukan untuk membantu ayah seperti memasak, atau mencuci piring yang bisa aku lakukan dengan duduk di kursi roda. Aku sekarng bersekolah di sebuah SMA Swasta untungnya sekolah ini mau menerima anak cacat fisik sepertiku, dulu sebelum masuk di sini beberapa kali aku ditolak dibeberapa sekolah karena mereka tak mau menerima keadaan anak yang  cacat, hingga aku menemukan sekolah yang sekarang, ketika awal masuk aku masih merasakan cibiran dari anak-anak di sana mereka yang terlahir dengan keadaan fisik sempurna, jujur saja ku malu namun aku memang sudah terbiasa dengan segala cibiran dan hinaan yang datang padaku, sebenarnya hal yang membuatku tegar adalah ayah aku melihat semangatnya untuk menghidupiku, aku sudah tak peduli lagi dengan sosok ibu yang egois meninggallkan kami karna keadaanku aku benci dia.
Aku masuk dikelas 10.3 di SMA itu, aku tak mempunyai keberanian untuk menjadi bagian dari merka keterbatasaan ku yang menyebabkannya aku hanya duduk saja di mejaku diatas kursi rodaku ini, aku tak pernah mengikuti kegiatan olahraga, karna memang tak bisa.
Ketika aku sedang duduku seorang teman sekelasku perempuan berkacamata datang menghamppiriku dia bertanya.
 “ kamu kenapa gak gabung sama kita” ucapnya sambil duduk di depanku.
“ aku gak pede” jawabku malu-malu.
“ kenapa? karna kamu cacat” aku diam mendegar ucapannya itu
“ semua ornag punya kekurangannya masing-masing namun tak semua kekurangan itu telihat, aku juga cacat”
“ cacat?” tanyaku aneh
 “ iya, aku mengalami cacat mata. mataku minusnya hampir seribu aku tak bisa melihat tanpa kacamata ini, namun mereka menerimaku, anak-anak disini baik-baik kok, cobalah bergabung dengan kami, tak baik jika kamu hanya sendirian begini”
 dia pun lalau menarik kursi rodaku dan membawaku menuju kerumunan anak-anak di depan pintu kelas
 “ haiii semuanya “ ucap gadis yang membawaku tadi
 “ haii “ ucap mereka  gadis  itu
mereka tersenyum padaku, ternyata mereka ramah, aku beruntung berada di antara mereka yang ternyata bisa menerima kekuranganku
“ nama kamu siapa” ucap gadis yang membawaku tadi
 “ aku shilla “
“ aku reni” ucapnya enyalami tanganku,
“ aku dona” ucap gadis dengan rambut keriting yang berdiri disampinku
  “ aku rara” ucap gadis yang menurutku terlihat sangat sempurna, dia tinggi, kulitya putih dan rambutnya tergerai panjang, dia juga cantik.
entah mengapa aku merasakan ada kasih sayang yang ku temukan di antara mereka, ternyata tak semua orang sama dengan apa yang aku pikirkan tentang mereka mereka sangat-sangatlah baik kepsadaku, aku muli bersahabat dengan mereka, mereka sering datng menghampiriku kerumah, masa-masa ini aku mulai merasakan indahnya persahabatan kami menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita tentang cinta, sayangnya aku tak pernah merasakannya, mungkin hanya sekedar rasa suka dan rasa itu hanya bisa kupendam saja.
                                    ***
Ayah datang dan menyambutku dengan senyumannya yang terukir diwajahnya yang hari ini entah mengapa terlihat sangat lelah. Ayah pun membawa mobilnya melaju menuju rumah sederhana yang kami berdua tempati. Sesampainya dirumah dia langsung masuk dan mengambilkan makanan yang sebelumnya sudah dia masak untukku, ya ayah memang selalu saja sibuk mengurusiku, terkadang aku merasa sedih sedih dan selalu meratapi keadaan kenapa aku harus terlahir dengan keadaan seperti ini hingga membuat semuanya berantakan.
Kadang-kadang aku masih menanyakan tentang sosok ibu pada ayah, ayah selalu berusaha memberi jawaban terbaik walaupun dengan menutupi hal yang sebenarnya ayah mungkin tidak tau bahwa aku sudah tau apa yang telah terjadi hingga semuanya menjadi seperti ini. Aku tidak pernah memberitahu ayah bahwa aku sudah tau aku juga berusaha menutupi dan tidak mengungkit tentang hal ini. Jujur saja sesungguhnya aku merindukan sosok seorang ibu, aku merindukan kasih sayang yang teman-temanku rasakan, rasanya iri saat mendengar cerita mereka tentang ibu dan segala kegiatan yang mereka lakukan bersama ibu mereka. Ibuku dimana? Dimana dia? Tapi aku beruntung punya ayah
Ayah duduk di ruang tamu dengan membaca sebuah koran didalam koran itu aku melihat sebuah artikela tentang lomba menyanyi. Ayah ingat kalau aku sangat suka menyanyi dan juga suaraku cukup bagus menurut ayah. Ayah menanyakan padaku apa aku mau ikut acara lomba itu atau tidak.
Entahlah aku bingung, tapi aku malu jika hrus ikut, suaraku biasa-biasa saja dan aku juga cacat. Cacat yang aku alami ini memang seringkali jadi penyebab mengapa aku tidak pernah mau bergabung dengan orang ramai, aku malu, aku takut merka tidak mau menerima orang-orang cacat sepertiku. Sedari kecil aku memang lebih suka sendirian, minder, aku minder pada mereka yang punya fisik sempurna.
Seperti biasa setiap kali ayah bertanya apakah aku mau ikut lomba aku selalu berkata tidak untuk itu, aku tidak mau orang-orang menertawakan aku yang cacat. Aku tidak mau. Entahlah mengapa aku selal seperti ini, mungkin karena trauma masa lal, dulu sedari kecil hingga aku masuk SMP aku selalu menemukan orang-orang yang mencibirku. Tetanggaku dulu sering berkata bahwa akulah penyebab ayah dan ibu berpisah akulah yangmeneybabkan keluargaku jadinya berantakan dan ibu memilih pergi daru pada mengurusi anak cacat sepertiku, bukan hanya itu teman-teman sebayaku tidk ada yang mau berteman dengan anak cacat sepertiku. Aku tidak pernah punya teman. Hanya Ayah yangs elelu setia menemani aku, aku hanya bisa menlihat mereka bermai dari jendela rumahku. Ketika memasuki SMP sama juga, aku mengalami hal yang sama, cibiran dan sebagainya. Tapi entah mengapa sjak memasuki SMA aku merasa semuanya jadi lebih baik, aku bertemu orang-orag dan lingkungan yang bisa menerima keadaanku, mungkin karena mereka sudah punya pemikiran yang jauh lenih dewasa dari pada teman-temanku dulu. Tapi semuanya belum mamapu merubah rasa malu yang terlanjur terpatri dalm diriku, keengganan itu masih terus saja tertanam. Rasa malu itu cacian, makian, cibiran yang membuat aku seperti sekaran. Aku lebih baik sendiri daripada harus berada dalam keramaian.

                                    ***
Kini usia Ayah sudah jauh lebih tua dari dulu, akupun sudah memasuki tahun pertama di SMA. Lagi lagi Ayah bertanya padaku tentang hal yang sama.
“Shill, ini ada lomba nyanyi.Kamu mau ikut?” tanya ayah dengan sangat tenang saat kami berdua sdang duduk di ruang televisi. Aku diam tak menjawab pertanyaan Ayah tadi. Ayah harusnya sudah tau bahwa aku tidak mau. Eharusnya begitu Ayah seharusnya sudah paham, tapi entah mengapa aku tidakpernah melihat ayah lelah untuk bertanya tentang hal yang sama untuk kesekian kalinya yang sebenarnya Ayah sudah tau jawabannya.
“kalau kamu  gak mau gak papa kok sayang, ayah gak maksa, semuanya tergantung kamu, akmu punya talenta dan ayah harap jangan kamu sia-siakan. Kamu sudah besar sayang, kamu tau mana yang terbaik, kamu gak perlu malau sama apa yang kamu alami, bukan kamu yang mau untuk jadi cacat seperti itu, semua yang terjadi punya alasannya masing-masing. Kamu gak bisa terus-terusan merasa malu karena keadaan kamu. Kamu tahu? tidak pernah ada orang yang sempurna, Tuhan menciptakan semua orang dengan kelebihan dam kekurangan meeka masing-masing. Jadi jangan pernah malu. Mereka yang mencibir kamu, mereka yang menghina kamu, adalah orang-orang yang tidak pernah biasa menghargai orang lain. Harusnya mereka yang malu karena meeka tidak sadar bahwa mereka tidak akan pernah bisa menemukan orang yang sempurna. Kamu hanya jadi bagian dari orang-orang yang Tuhan izinkan kekurangannya terlihat. Bukankah lebih baik telihat daripada selalu disembunyikan? dan tidak pernah hisa mereka sadari?” ucap ayah tenag. Entah mengapa kata-kata ayah kali ini sangat bisa kau cernaa. Aku menegrti apa yang ayah katakan. Aku hanya tak berucap sedikitpun saat itu. Aku masih memebirakan pikiranku untuk berkutat dengan semua apa yang ayah katakan.
Semalaman aku teru memikirkan capan ayah tadi, aku terus berpikir-berpikir berpikir dan berpikir, merenungkan semuanya. Dan ternyata semua benar ayah benar, Aku tidak bisa selalu seperti itu, aku tidak bisa selalu menjadi aku yang malu karena aku cacat, bukankah semua orang dilahirkan dengan segala kelemahan adan kekurangannya masing-masing? Bukankah Tuhan pasti punya alasan untuk semua hala yang dia ciptakan? Ya, tuhan selelu punya alasan utnk itu dan akhirnya pada malam itu aku memutuskan sesuatu.
Tanpa sepengatahuan Ayah aku mendaftara lomba menyanyi yang ayah sebutkan, aku meminta batuan teman-temanku untuk mengantarku ke tempat itu. Lomba itu dilakukan 2 minggu dari hari aku mendaftar. Aku beruntung punya teman-teman yang sangat luar biasa, aku beruntung memiliki mereka yang bisa menerima keadaanku. Ayah tidak tau, sampai hari lomba itupun aku tidak memberitahua ayah, aku hanya mengajak ayah untuk pergi menantarkan aku ketempat itu. Wajah ayah terlihat binggung saat kami sampai di sana. Aku masih tidak memeberitahu ayah abwa akua mengikuti lomba itu. Aku hanya ingin member kejutan pada ayah, aku sekedar ingin memebuatnya bahgia.
Lomba itu dimulai dan sampai pada nomor urutku utnuk maju, aku memebraaanikan diri, dengan batuan dona aku maju ke panggung dan bernyanyi sambil duduk dikursi rodaku saat itu. Aku melihat wajah ayah tercengan saat melihat aku di atas panggung saat itu, ada kekagetan dan aku melihat seulas senyum tersungging diwajah ayah. Aku mulai menyanyi memebranika diri mengalunkan suaraku dalam dentingan piano saat itu. Lagu dari dewa19-pupus, aku menyanyikan lagu itu. Gemuruh suara tepuk tangan dan sorak sorai terdengan saat aku menyudahi lagi itu dan aku melihat ayah tersenyum. Ya, ayah tersenyum mendegar aku bernyanyi tadi.
Pengumuman lomba dilakukan malam itu juga. Perasaan deg-degan dan gelisah menghinggpi pikiranku, aku taku mengecewkan ayah aku takut. Tapi pada akhirnya aku memenag membuat ayah kecewa, aku tidak masuk 3 besar dalam lomba itu. Entahlah perasaanku kacau saat dewan juri memebacakan hasil keputusan malam hari itu. Tapi aku melihat ayah terlihat tenang aku tau ayah kecewa tapi aku juga melihat dia tersenyum bangga.
“maaf yah” ucapku pelan saat aku dan ayah dalam perjalannan pulang ke rumah.
“apa yang harus ayah maafin, kamu gak punya salah shilla. Dalm perlombaan selalu ada yang kalah dan mennag. Kamu udah amu dan berani ikut lmbs itu saja, ayah sudah sangat senang, ayah tidak perna menyangka. ayah bangga sama kamu, kamu udah bisa menerima keadaan, akrena kau udah bisa ngalahin rasa takut kamu dan rasa malu kamu. Ayah bangga sama kamu sayang” ucap ayah. Walaupun ayah berkata dia tidak kecewa, tapi aku merasa malu pada ayah. Ayah pasti sangat berharap aku bisa mendapatkan juara malam itu. Aku mengecewakan ayah.
Sejak dari saat itu aku bertekat untuk bisa memebanggakan ayah, akau bertekat akan mengikuti segala macam lomba menyanyi yang ada. Tujuanku adalah melihat ayah tersenyum bangga melihat anaknya bisa mendapatkan juara. Masih tanpa sepengetahuan ayah aku mendaftarkan diri di acra lomba menyenyi yang diberitahu oleh rara. Mereka membantukuuntuk mendaftarkan diri kesana. Aku sudah berlatih dan kali ini aku harus bisa membuat ayah bangga padaku.
Lomba itu cukup besar, kompetisi menyanyi dengan hadiah kontrak dengan sebuah label rekaman terkemuka. Aku bernyanyi lagu cinta- melly g ft krisdayanti. Aku melihat senyuman diwajah ayah, ayah meyakinkan aku untuk bernyanyi malam itu. Dan aku bersyukur walaupun tidak menjadi juara satu. Tuhan mengijinkan aku untuk mendapat juara 3. Dalam lomba itu. Aku dengan bangga membawa hadiah pada ayah. Ya, aku melihat ayah sangat bangga, senyumnya menggembang. Ayahlah yang menjadi motivasiku, ayahlah yang telah menyadarkan aku bahwa tidak akan pernah ada manusia sempurna, tuhan menciptak setiap orang dengan alasannya masing-masing. Ayahlah yang menjadi alasan utama setiap usaha yang aku lakukan ya. Ayahlah sayap yang bisa membuatku terbang tanpa harus memiliki kai, ayahlah sayap yang menjadi penopangku utnuk bisa bertahan. Ya, Ayah.


Kupersembahkan cerpen ini untuk semua orang yang dengan tulus menyayangiku. Terima kasih untuk cinta kalian.  - Asna Sri Hartati

2 komentar: