Kamis, 31 Oktober 2013

Aku hanya ingin menjadi ‘aku’



Oleh Asna Sri Hartati

Aku,
Apa yang bisa kau lihat sekarang hanyalah kepura-puraan
Aku bukan ‘aku’
Ini bukan aku
Kamu hanya melihat si Palsu
Senyuman itu, aku berusaha menciptakannya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti aku
Aku nyata hanya dalm duniaku sendiri,
Dunia khayal yang snagat aku nikmati
Aku bisa menjadi aku disana
Tapi aku pura-pura menjadi aku disini

Aku,
Kalian tidak mengenal aku
Kalian tak tau siapa aku,
Yang kalian tahu hanya aku yang berpura-pura menjadi aku,
Aku yang ‘bukan aku’
Aku, aku hidup, aku nyata, aku adalah akau, saat au di duniaku

Kenapa? Mengapa? Aku harus pura-pura jadi aku?
Aku yang palsu, aku yang bukan aku?
Ah, aku bosan selalu begini. Berpura-pura, terlalu sering.
Aku bahagia dengan duniaku , aku bisa menjadi aku
Aku yang selalu sepi, sesuka hati mengespresikan emosi.

Tapi sayang aku kini hidup di duniamu,
Aku harus menjadi aku yang ‘bukan aku’
Aku dalam deskripsi sempurna milikmu.
Ya, Milikmu.

Bolehkah, jika aku ingin mejadi aku dalam duniaku di duniamu?
Aku hanya ingin terlihat seperti aku, bukan yang lain,
Bukan aku yang ‘bukan aku’
Aku ingin tersenyum seperti aku,
Menangis seperti aku
Tertawa seperti aku
saat aku di duniaku dalam duniamu

Aku ingin kamu melihat aku adalah aku,
Aku ingin sempurna dimatamu menjadi aku yang adalah aku
Ya, Aku yang adalah Aku, Bukan ‘aku’ yang ‘bukan aku’

Kamis, 17 Oktober 2013

Utuh dalam Sepi



Bahagia.
Aku lelah.
Hanya lelah.
Rasanya sudah membosankan.
Aku lupa seperti apa.
Terlalu sering terluka sepertinya.
Kesepian menggerogoti lebih dari separuh hidupku.
Sudah berakar.
Tumbuh menjadi jalan hidupku yang sebenarnya.
Aku utuh dalam rasa sepi itu.
Tapi bahagia, mungkin hanya sebuah kepalsuan saja.
Dia hanyalah rasa semu.
Sepi. Dunia ini sepi.
Aku bahagia dalam mimpi.
Mampu menciptakannya di sana. Hanya di sana.
Sepi. Hanya sepi. Ya rasa itu. Hanya itu.
Hanya ada dia. Bukan yang lain.
Hanya dia yang mampu membuatku utuh.
Utuh dalam rasa yang nyata.
Utuh dalam sebuah keniscayaan.
Sepi itu nyata.
Bahagia itu semu.
Rasa itu hanyalah kepingan kepalsuan saja.
Palsu yang abadi.
Palsu yang membuat aku merasa munafik. Ah Hina.
Aku terlalu sering berpura-pura.
Aku sudah lupa rasanya bahagia.
Rasanya hilang.
Rasa itu hanya seperti angan yang mengantung sangat dekat di depanku tapi tak mampu untuk kugapai.
Sebuah fatamorgana yang sangat sempurna.
Menjadikannya terlalu nyata untuk dianggap hanya sebagai impian belaka.
Tapi nyatanya, dia hanya angan, hanya mimpi, hanya khayalan semata.
Dia nyata saat aku berpura-pura.
Dia nyata hanya dalam mimpi saja.
Dan singkat saja aku terlalu sering berpura-pura untuk bahagia.
Ya itu dia. Aku berpura-pura bahagia.

Kamis, 10 Oktober 2013

Cappucino pagi itu....



Cappucinno Pagi Itu..........
Secangkir cappucino pagi itu, menemaniku duduk di pojokan sebuah kantin bersama kedua temanku. Ya, cappucinno adalah minuman favoritku. Aku tidak suka kopi hitam. Terlihat pahit di mataku. Menurutku cappucino jauh lebih baik dan juah lebih menarik dari pada kopi. Ya walaupun aku suka warna hitam.Mataku terus mengamati sesosok pria yang selalu saja bisa menarik perhatianku, seperti biasanya pria penyuka warna hitam ini selalu saja memakai baju warna favoritnya. Aku jarang menjumpainya mengenakan baju dengan warna lain hanya beberapa kali saja.
Dia duduk di tempat biasa, aku suka saat saat seperti itu saat aku bisa mengamati langsung wajahnya, walaupun dengan cara diam-diam dan aku suka saat-saat kami saling mencuri pandang satu dan yang lainnya, aku suka.
Terasa lucu saja jika saat mencuri pandang tapi mata kami saling bertabrakan dan saling menatap satu dengan lainnya walaupun pasti saja akan ada yang mengakhirinya lebih dahulu. Itu terjadi beberapa kali, dan sering. Aku juga suka saat kami yang terkadang akan jadi salah tingkah saat berpapasan di jalan, bersikap seperti sibuk dengan sesuatu atau berusaha tidak melihat satu dan yang lainnya, padahal rasanya di dalam hati saat itu aku ingin teriak kalau bisa. 
Tapi, ada yang tak aku suka, aku tidak suka jika teman-temannya juga melakukan hal yang sama padaku, aku tidak suka saat mereka juga berusaha mengamatiku, Aku tidak suka. Aku tidak suka mereka yang jadi lebih aktif daripada Dia. Yang aku mau adalah Dia. Aku takut jika mereka tau jika Aku sering memperhatikan Dia. Tapi aku suka jika teman-temanku membantuku mengawasinya. Memang tidak adil sepertinya tapi ya sperti itulah adanya.
Tapi, kadang aku cenderung bosan selalu seperti itu. Kami seprtinya hanya tau satu dan yang lainnya saja tapi tak saling mengenal. Bahkan aku tidak pernah mendengar suaranya sampai saat ini. Ya, kadang-kadang aku bosan. Mungkin akan segera berakhir.
Kami punya dunia yang berbeda, aku meletakannya di duniaku, tapi dia tidak melakukan hal yang sama. Hanya ada aku yang berperan sebagai pemeran utama dalam cerita ini, tapi dia yang juga seharusnya menemaniku hanya berusaha masuk sebagi figuran saja, dia mungkin hanya numpang lewat saja dalam kisah ini. Padahal aku berharap dia menjadi tokoh yang akan bersamaku hingga akhir cerita ini. Tapi dia sepertinya tidak tertarik, sama sekali tidak untuk bisa masuk dan bergabung bersamaku dalam kisah ini.  Sebenarnya dialah objek utama dari cerita ini. Tapi dia, dia sepertinya sudah memilikikisah yang lainnya, dia sudah membangun cerita sendiri,  dia tidak perlu kisahku.
Ahh, sudahlah sepertinya aku lelah. Dia sepertinya sudah tidak lagi menarik, terlihat membosankan sekarang, dia sama saja, tak ada inovasi, aku sepertinya lupa, tepatnya mungkin mencoba lupa, sudahlah sepertinya harus aku lupakan. Dan sekarang aku sedang dalam tahap melupakan kegilaan itu. Satu kata yang paling tepat mungkin ‘bosan’ , dan aku sudah enggan terlalu berlebihan. Padahal dia hanya objek cerita saja. Aku sepertinya terlalu membanggakannya menganggapnya sempurna, ya pandangn seperti itu relatif tapi memang tidak bisa aku pungkiri jika dia punya beberapa hal yang bisa membuatku terpesona. Ya, beberapa.  Atau lebih terlihat sebgai seorang wanita yang sangat mengharapkan dia. HAHA
Cerita ini mungkin hanya akan menggantung saja, tak berakhir bahagia ataupun berakhir duka, aku akan menyerah dalam perjalanan ini. Aku merasa seperti seorang gerilyawan hati, taktik sembunyi-sembunyi mungkin tidak cocok dalam kasus seperti ini, buktinya aku sudah menyerah. Rasanya lelah dan aku bosan, hanya ingin bersikap biasa saja seperti dulu sebelum aku berusaha menjadikannya sebagai tokoh dalam cerita yang sudah mulai aku buat. Sepertinya saat observasi sudah berakhir. Dia terlalu misterius untuk kuketahui dan kuletakan sebgai tokoh dalam cerita ini. Ah, semuanya selesai. Tak adalagi dia, atau sikap-sikap sok suka, semua sudah biasa aku sekarang jauh lebih sering tidak memandangnya atau berusaha mengalihkan pandangaku sekalipun dalam tempat atau posisi yang sama.

Kalau dia itu terserah padanya, kalau masih berusaha memandang juga terserah dia, tidak papa, sama saja seperti yang lainnya. Toh kami tidak saling mengenal hanya saling tahu satu dan lainnya saja, hanya terlalu sering berpapasan dan tak sengaja berpandangan dalam. Atau memang sedang berusaha memandang dan mencari perhatian satu sama lain, ah sudahlah lupakan.

Selasa, 01 Oktober 2013

Tentang Dia



Hari ini aku membuka sebuah catatan tentang perasaan hatiku yang sering aku tulis dulu, terlihat lucu dengan segala kata-kata yang menggelikan khas anak-anak. Menggelikan, aku menggambar sebuah bentuk hati, dua gambar orang seadaanya yang satu laki-laki dan yang satu perempuan mereka sedang bergandengan tangan. Aku menulis setiap kejadian yang dulu kualami saat aku mulai menyukai seseorang.

Ah, buku ini mengingatkanku padanya, sosok lelaki berwajah polos di masa kecilku, sosok yang selalu saja menemaniku, kami bersama, berjanji berdua untuk saling menjaga di masa yang akan datang. Tapi sayang janji itu tidak mampu kami realisasikan. Dia kini telah bersama Tuhan. Kita memang tidak akan pernah tahu apa rencana Tuhan dan kapan dia akan membawa kita pergi bersamanya,air mataku mengalir teringat lagi saat-saat terakhir aku bisa menjumpainya, sebuah kejadian yang tak disangka telah merenggut nyawanya. Aku tidak pernah berpikir sampai kesitu, bahwa dia akan pergi jauh lebih dulu, di sana mungkin dia sudah punya dunianya sendri, dia sudah menikmati hidup barunya.

Kini aku, menemukan sosok baru, sesosok yang mirip dirinya, wajahnya polos, dan mereka terlihat sama,  mereka mirip mereka sama.

Dia mungkin tidak tampan di mata yang lainnya, tapi etah mengapa dia mampu menggetarkan hatiku, dia bisa menciptakan senyumanku dengan tiba-tiba saat melihat wajahnya ataupun hanya sekedar saat aku bisa menggenalinya sebatas punggungnya saja. Ya, aku mampu mengenalinya dari kejauhan tanpa menggunakan kaca mata minusku sekalipun.

Rasanya setiap kali akau menjumpainya, atau hanya sekedar bisa melihat wajahnya saja itu hormon-hormon di dalam tubuhku mulai bereaksi dengan sendirinya, semua terasa seperti tak terkontrol dan aku tak mengerti kenapa. Dia yang mampu membuat semuanya seperti itu.

Dia adalah dunia yang kutemui sekarang, wajahnya dan ahhh aku suka mata dan senyumannya. Matanya sipit, aku suka itu. Entahlah kenapa Tuhan menakdirkanku untuk menyukai orang yang bermata  sipit sejak kecil . Dan senyumannya, tidak mampu aku deskripsikan, senyuman itu sangat mempesona.

Dan, satu nilai tambah lagi aku suka dia dengan talentanya, aku suka dia dengan kemampuannya dalam bidang musik, aku suka dia yang sangat pandai memainkan gitar yang juga adalah instrumen musik favoritku. Aku suka dia yang terlihat tidak rapi, hanya dengan baju kaos hitam atau merah favoritnya dan celana jeans saja .Aku suka dia yang terlihat sempurna dimataku.

Aku suka dia walaupun dia tidak tau itu, aku suka dia meski dia tidak merasakan hal yang sama. Aku suka dia walaupun mungkin saja dia hanya tau tapi tak mengenalku, aku suka caranya mengamatiku saat kami berpapasan. Aku suka caranya waktu itu berulangkali memandangku, mungkin saja untuk memastikan apakah itu sosokku.

Ya, singkat saja Aku suka Dia dan aku bahagia menyukainya. Ya Aku bahagia.