Senin, 11 November 2013

DUA SENJA





 Oleh Asna Sri Hartati


Aku berjalan menyusuri trotoar yang sering aku gunakan untuk menuju halte dimana aku selalu menunggu bus yang akan membawaku menuju kantorku tempat aku bekerja selama hampir satu setengah tahun terakhir ini yaa tepatnya beberapa bulan setelah aku lulus dari kuliah dan mendapat gelar S1 sebagai sarjana ekonomi. Tinggal di sebuah kota besar, ibu kota tepatnya, sendirian tanpa sanak saudara sebagai seorang perempuan memang membuat keluargaku khawatir, apalagi aku juga jarang pulang ke kampung halaman biasanya aku pulang saat ada libur panjang saja atau memang hari penting, dulu saat kuliah kurang lebih seperti ini tapi dunia kerja lebih banyak menuntutku menghabiskan waktu dengan setumpuk kertas atau duduk lama di depan komputer.
Pukul 05.00 aku sudah berada di halte biasa. Udara pagi ini seperti biasanya dingin karena tadi malam baru saja hujan, dan hawanya masih terasa hingga pagi buta seperti ini. Aku duduk sembari mengamati bis langgananku datang, beberapa orang yang juga sudah sering ku temui yang sama-sama menunggu kendaraan umum itu untuk mengantarkan kami menuju tempat kami mengais rezeki terlihat tersenyum padaku, ada yang menyapa walau hanya sebatas kata ‘hai’ saja.
Lalu lintas jalan sudah terlihat padat, ya jakarta memang kota yang tidak pernah mati sepertinya. Orang-orang sudah tau kota ini, macet ya tentu saja, jam-jam segini juga sudah macet. Karena itu aku selalu mengambil waktu pagi untuk pergi ke kantor agar tidak telat, membosankan memang kadang aku harus menghabiskan 1 jam atau bahkan satu setengah jam untuk duduk saja dalam bisa bersama orang-orang yang bernasib sama sepertiku terjebak kemacetan.
Tubuhku sepertinya sedikit tidak imbang, seorang anak kecil berlari kencang dan menabrak sisi kiri tubuhku, tidak kuat tapi cukup bisa membuat tubuhku yang sedang memakai heels setinggi 8 cm limbung.
“maaf kak” ucapnya, sambil menoleh sebentar dan sedikit tersenyum.
Aku melihat anak itu berlari bersama segerombolan anak lainnya saat melihat jalanan di depan kami sedang menunjukan lampu merah. Dia dengan sigap dan memasang wajah memelas berdiri sambil mengetuk pintu-pintu mobil berkaca gelap yang berbaris panjang dijalan itu.
Saat lampu merah sudah berganti hijau, mereka berhamburan menuju pinnggir jalan. Termasuk anak kecil yang menabrakku tadi, seorang gadis dengan baju lusuh dan rambut yang berantakan wajah nya terlihat sangat lelah dia sepertinya kurang tidur.
Gadis kecil itu, sudah setahun terakhir aku selalu menjumpainya berada di jalan ini. Dia juga sudah cukup mengenali wajahku, dia selalu tersenyum saat menjumpaiku, anak itu ramah sepertinya.
Selama itu aku hanya bisa mengamatinya saja. Aku tidak tau siapa dia, yang kau tau adalah dia melakukan pekerjaan meminta-minta itu setiap hari—saat aku bisa menjumpainya. Ada rasa iba dalam hatiku, mengapa hidup anak ini terlihat sangat berat, pertanyaan yang sering muncul dibenakku adalah “kemana orang tuanya, kenapa dia yang harus bekerja, bukankah anak seumuran itu harusnya sekarang sedang sekolahm, bukan mencari nafkah?” Tapi aku juga mengaguminya, walaupun dia perempuan masih kecil pula, dia mau bekerja, tuntutan ekonomi keluarga bisa jadi merupakan penyebab utama nasib malangnya itu.
Aku sampai di kantor seperti biasanya aku memnag selalu datang awal, selain memanfaatkan waktu yang masih bisa aku gunakan untuk sarapan aku juga berusaha menghindarai kata telat karena aku masih pegawai baru dan bos pemilik perusahaan tempatku bekerja ini memang agak galak.
Aku duduk menyantap bubur ayam yang aku beli dari penjual bubur yang berjualan di dekat tempatku bekerja, dia sudah hapal dengan wajahku namaku dan juga apa yang akan aku pesan.
“ini bubur ayamnya neng, meta” ucap lelaki tua paruh baya itu ramah.
Setelah meletakan satu mangkok ukuran sedang yang berisi bubur ayam di atas meja dia kembali lagi ke gerobak buburnya untuk melayani pembeli yang juga sudah mulai berdatngan. Saat aku makan dari tempatku duduk aku mengamati seorang anak kecil dengan pakaian lusuh datang menghampiri beberapa pengunjung bubur gerobak pak cipto itu, dia menegadahkan tangannya meminta belas kasihan dari orang-orang dewasa yang sedang menikmati sarapan pagi itu, terlihat bebrapa orang tak memedulikannya tapi dia tidak putus asa dia berpindah dari satu meja kemeja lain mencari mereka yang mau memberinya uang sedikitpun tak apa itu berarti untuknya. Hingga akhirnya dia sampai di mejaku, aku duduk paling pojok di tempat itu sendirian, aku menatapnya lekat, anak itu sekarng berdiri di depanku dengan jarak sedekat ini aku bisa mengamati lingkaran hitam diamatanya, wajahnya yang kusam sepertinya pekat dengan debu jalanan bajunya yang lusuh dan wajahnya yang terlihat sangat lelah.
“kak, minta uangnya kak, saya belum makan kak” ucapnya lirih sambil mengulurkan tangannya.
Aku menatap anak itu, dia masih mengulurkan tangannya menantiku memberi jawaban akan memberinya uang atau bersikap seperti mereka yang tadi bersikap seolah tidak melihatnya atau dengan terang-terangan mengusirnya. Belum sempat aku memberi tindakan, pak cipto datang berniat ingin menyuruh anak itu pergi. Katanya dia mengganggu pelanggannya saja. Dengan wajah sedih anak itu beranjak akan pergi sementara matanya terliahat kecewa.
dik tunggu” ucapku yang membuatnya berbalik arah melihat padaku lagi.
“kamu mau makan?” tanyaku padanya yang masih berdiri termangu di depan mejaku.
“kalau mau makan kakak pesankan satu mangkok bubur ya, kamu makan disini sama kakak”
Dia terlihat berpikir cukup lama, entah apa yang ada dalam benakknya saat itu aku tak tau.
“bisa dibungkus gak kak? Soalnya adik saya juga belum makan” ucapnya membuat ada perasaan yang menusuk dalam hatiku. Entah apa itu, anak ini ternyata seperti ini bukan hanya untuk dirinya sendiri.
“pak, bubur ayam dua dibungkus ya?” ucapku pada pak cipto yang berada didepan gerobaknya.
anak kecil itu masih berdiri mematung menunggu pak cipto selesai membuatkan bubur untuknya,
Aku seperti melihat ada perasaan lega dalam dirinya, entahlah seperti kata “akhinya dapat makanan juga” aku  tak  tau berapa lama sudah dia berusaha mencar makan untuknya dan adiknya, dia hari yang masih sepagi itu saja dia sudah harus bekerja keras untuk mencari makan.
“ ini mbak”  pak cipto mmeberi kantong bubur padaku, akau lansunge mnyodorkannya uang lembaran lima puluh ribu rupiah untuk membayang 3 porsi ubur dan satu gelas teh hangat yang aku pesan tadi.
Aku memberikan pada anak itu kantong bubur yang aku pegang dan juga lebaran uang 20 ribu rupiah untuk anak itu.
“ini makanan buat kamu dan adikmu yaa, dan ini uang juga nanti buat makan siang” ucapku padanya.
“terima kasih kak” ucapnya pelan
“ nama kamu siapa dik?”
“saya senja kak” ucapnya lalu pergi membawa kantong plastik hitam tertenteng di lengan kanannya yang mungil itu.
Anak kecil itu namanya senja, senja yang sudah muncul saat pagi. Anak tadi dia memutarkan ingatanku lagi pada gadis kecil yang ku temui setiap pagi dihalte itu. Kasian mereka harus bekerja sangat keras di usia sekecil itu, anak-anakyang harusnya masih mnegenyam pendidikan di bangku sekolah dasar tapi sudah haru berstatus sebagai pekerja.

                                                ***
Aku duduk di halte biasa, mengamati sekelilingku, mata ini seperti sedang mencari sesosok yang sangat ingin aku lihat, gadis kecil itu, si pekerja keras, aku yakin dia akan datang lagi pagi ini. Tepat dugaanku, seperti biasa saat lampu merah mereka luluar dari persembunyia mereka dan mengais rezeki dari rasa iba para pengguna jalan.
Anak itu berdiri tak jauh dariku. Dalam hatiku ada pergolakan yang menginginkan aku untuk mengahmpiri gadis kecil yang sedang berdiri dengan tatapan lurus kejalan seperti sedang menunggu mangsanya.
Aku beranjak dar tempatt dudukku dan berjalan menuju arahnya, tapi sayang lampu merah membuatku berdiam terpaku saat tanganku yang sudah hampir mneyentuh pundaknya berhenti tiba-tiba saat gadis kecil itu berlari menuju jalanan yang sudah dihiasi kendaraan yan sedang berbaris menunggu lampu hijau itu. Aku masih berdiri di situ berharap anak itu kembali lagi tapi sayang gadis kecil itu tidak kembali dia menghilang di jalanan yang kini sudah penuh dengan kendaraan yang sudah berlalu lalang lagi. Aku memperhatikan sekitarku anak itu memang tidak kembali ke seberang sini lagi, samar-samar aku melihatnya sedang duduk di jalan seberang sana, hingga akhirnya bus tumpanganku datang dan membawaku pergi.
Pikiranku masih berkeliaran ke jalan tadi. Anak itu masih sangat menari perhatianku. Sangat banyak pertanyaan yang sudah terekam dalam otakku yang ingin aku tanyakan padanya saat kami punya kesempatan untuk berbincang nanti.
“eh kenapa sih lo bengong aja ?’ suara yang tak asing di telingaku itu membawaku kembali dari lamunanku tadi. Dia duduk di sebelahku sambil membawa secangkir kopi di tangannya. Namanya Dino dia satu kantor denganku, sama sepertiku dia adalah perantau di kota metropolitan ini.
“makanan dimakan kalik jangan dianggurin gitu” Ucapnya lagi sambil mengambil kerupuk dalam piring nasi gorengku.
“din, pernah kepikiran gak kalo lo dulu waktu masih kecil jadi anak jalanan, cari makan dijalan, minta-minta gitu” ucapku membuatnya menatapku tajam.
“ gak sih gak pernah mikir gue kalo gue bakaln ngalamin yang kayak gitu, gue gak tau gimana kalo gue ngalaminnya” ucapnya sambil menyerup kopi dari cangkir yang ada di tanggannya saat itu.
“kasian yaa, anak-anak yang harus kerja dijalan kayak gitu, apalagi cewek, orang tuanya kemana sih kok anaknya yang kerja” gumamku pelan sambil mengaduk-aduk nasi dalam piringku.
“lo kenapa, jiwa sosial lo lagi bagun yaa” ucapnya sembari tertawa.
“ gue kemaren ketemu akan cewek umurnya mungkin 6 tahun, dia minta-minta gitu, tapi bukan cuma buat dia sendiri dia juga cari makan buat adiknya”
“lalu”
“dan gue juga udah setahun terakhir selalu ketemu sama anak kecil yang juga kerjaannya sama, minta-minta gitu, gue kasina din”
“trus lo mau ngapain” ucapnya datar.
“ gak tau sih, kasian aja gue liatnya”
“yaudah sih biarin aja kan udah nasibnya dia meta, lo gak bisa ngubah nasib orang”
Benar yang dino katakan tapi entah mengapa ada yang mengusik hatiku. Padahal aku juga tidak kenal pada mereka, dan untuk apa aku mengurusi kehidupannya, itu memang yang harus dia jalani. Tapi miris saja dalam hatiku.

                                                ***
Aku berjalan menuju halte di dekat kantorku seperti biasa pulang dan pergi aku memang selalu memaki bus, biayanya jauh lebih murah daripada menggunakan taksi, walaupun rawan dari segi keamanan.
Aku melihat anak itu lagi, senja, sekarang dia muncul saat senja. Dia duduk bawah pohon di trotoar sedang menghitung uang yang dia dapat, mungkin stelah bekerja keras seharian ini. Aku menghamprinya yang membuatnya sedikit kaget, mungkin dia pikir aku ini preman yang ingin mengambil uangnya.
“kamu yang waktu itu kan, dik?” aku duduk jongkok dihadapannya.
Dia hanya tersenyum singkat lalu melanjutkan mneghitung uang itu lagi, terlihat lembaran seeribuan paling banyak uang koin disana, yang paling besar terlihat adalah lembaran uang lima ribu rupiah.
“kok udah sore gini masih dijalan, gak baik buat anak kecil kayak kamu” tanyaku padanya lagi.
“ ya mau kemana lagi kak, saya kan memang tinggal dijalanan kak diamanpun saya bisa tinggal” ucapnya lirih.
Hatiku sakit sepertinya ada yang salah aku ucapkan tadi, aku sudah membuatnya sedih.
“adikmu mana? “ tanyaku lagi.
“adik saya lagi tidur kak, di depan emperan toko sana, dia sakit?” ucapnya sambil menunjuk arah toko yang tak terlalu jauh dari posisi kami sekarnag.
“sakit apa dia?”
“gak tau kak, saya pergi dulu ya kak, kasian dia sendiri”
“dik’ aku menahannya sebentar. Aku mengeluarkan unag lembaran lima puluh ribu, kusodorkan padanya.
Wajahnya terlihat kaget tak percaya ada orang menyodorkan uang dengan nominal lumayan besar dari apa yang dia selama ini dia dapat.
“ini buat kamu, buat berobat adikmu, atu kamu cari obat buat dia yaa, kakak harus pergi bisnya udah mau datang, salam buat adikmu ya” Aku meletakkan uang itu di dalam saku bajunya. Dia masih terdiam menatapku pergi.
                                                                        ***
Pagi ini aku sudah berniat akan menghampiri gadis kecil yang selalu ku temui di halte itu, semoga saja aku bisa mengajaknya bicara. Rasa penasaran terus saja mendorongku untuk menemuinya.
Aku melihat anak itu pagi ini, masih dengan bajunya yang lusuh rambutnya yang berantakan, kulitnya yang kusam, tidak ada yang terawat dari dirinya. Dia duduk di kursi halte, hari ini sepi, kebetulan memnag hari sabtu, bukan hari kerja jadi tidak banyak yang menunggu. Aku sengaja pergi hari ini ke halte untuk menemui anak itu. Entah rasa apa yang mnegusik dalam pikiranku, mengapa kau begitu peduli padahal aku sama sekali tidak mengenalnya.
“dik” aku sudah duduk tepat disampingnya. Dia menoleh ke arahku. Senyumnya datar.
“iya kak kenapa?” ucapnya ramah.
Aku bingung apa yang ahrus aku ktakan, terlalu banyak pertanyaan dalam otakku tapi yang aku takutkan adalah jika mengucapkannya akan melukai perasaan gadis kecil itu. Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“kamu udah lama kerja kayak gini”
“lumayan kak udah 2 tahun saya kerja jadi pengemis seperti ini, semenjak semua orang pergi meninggalkan saya” ucapnya terlihat santai.
“maksud kamu?”
Dia menghela nafas, sepertinya kau mengungkit masalah pribadinya yang amat pelik.
“yaa, semenjak semua orang pergi dari kehidupan saya, semenjak saya hidup sendiri dan harus biayain diri sendiri”
 Ucapnya lirih.
“memangnya mereka itu kemana?” tanyaku penasaran.
“ibuk sama  bapak udah meninggal” Nada suaranya terdengar sangat sedih.
“jadi kamu Cuma sendirian?”
Dia mengangguk pelan, sepertinya dia sudah tidak mampu berkata-kata matanya berkaca-kaca bulir-bulir air matanypun mulai mengalir deras membasahi pipi kusamnya itu.
“maa..” ucapanku terpotong saat anak itu berlari ketika melihat lampu merah, dia kembali mejadi anak yang sellau aku lihta dijalan seperti biasanya.
Aku merasa bersalah sudah membuka cerita pribadinya, membuat gadis kecil itu menangis, aku seperti mengorek masalah yang membuatnya menajadi gadis kecil yang hidup dijalanan seperti ini. Aku tidak habs pikir kenapa dia masih bisa bertahan setelah ditinggal orang tuanya, kalau akau yang jadi dia mungkin akua lebih memtuskan untuk mati saja dari pada harus hidup seperti itu.
Dia kembali duduk disampingku, aku melihat dia seperti masih ingin bercerita tentang masalah nya tentang kegetiran dalam dirinya.
“kamu kenapa gak cari panti asuhan saja dik?”
“saya mau mencari kak, tapi masih belum sempat, kalau saya tidak kerja saya tidak makan, lagian belum tentu panti mau menerima saya” jawabnya santai, tapi akau melihat kesedihan itu terpancar jelas di matanya, dia menunduk lagi. Lampu merah lagi tapi anak itu tak bergeming dia masih saja duduk, menunduk terdiam,dia terlihat terus menatap ujung-ujung jemari kakinya yang etrus saja di goyangkannya.
“dik, kakak minta maaf sudah buat kamu sedih” ucapku pada gadis kecil itu.
Dia diam tak bersuara dia masih terus menunduk. Tiba-tiba dia bangun dan berkata.
“saya harus pergi kak”
“ nama kamu siapa?”
“ senja kaku“ ucapnya setengah berteriakdia lalu berlari jauh bukan ke arah jalan, tapi jauh-juah menyusuri trotoar jalan itu hingga akhirnya menghilng dari pandanganku.

                                    ***
Ingatanku masih tertuju pasa anak-anak yang kutemui itu, betapa malang nasib mereka, mereka harus berjuang dengan kehidupannya sendiri, mereka masih kecil, tapi tanggung jawab hidup mereka sangat besar.
Seminggu dari hari itu aku tidak bertemu anak itu lagi. Namanya masih terus aku ingat. Senja. Senja lagi. Dua senja bernasib sama. Dua senja yang harus menghabiskan hidupnya di jalanan. Dua senja yang harus mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Dua senja yang sama. Ah, apa yang terjadi padaku, kenapa aku jadi terlalu berjiwa sosial seperti ini, dua anak itu, membuatku mengernyit nyeri membayangkan betapa malangnya hidup yang harus merek jalani diusia semuda itu.
Sama seperti senja yang kutemui di halte, senja yang waktu itu kulihat di dekat kantorku juga sudah tak aku jumpai. Kemana mereka, pertanyaan itu terus memenuhi otakku. Aku masih tidak bisa tidur, di kamar ko sederhana yang aku temapati, aku menatap lagit-lagit kmarku yang bercat biru, mencoba mencari celah, terus menerawang entah apa yang aku pikirkan.
Dua minggu sudah, aku tak menemukan senja gadis kecil itu, dia sudah tak lagi aku jumpai di halte, aku tidak pernah melihanya. Aku tidak tau dia dimana. Rasanya aku ingin bertanya, pada siapa harus aku tanyakan. Sebenranya apa urusanku dengan mereka? Aku juga tidak tau. Tapi aku merasa ingin tau. Padahal apa pentingnya jika kau tau aku juga tidak akan bisa mengubah jalan hidup yang sudah mereka jalani, apa yang bisa kau perbuat.
Akhirnya kupuusskan untuk bertanya pada satu diantara anak bernasib sama denga senja di jalan itu. Aku mencoba mendekat pada seorang anak laki-laki usianya mungkin 8 tahun dia sedang duduk sembari terus mengamati jalanan.
“dik?” ucappku menghampiri dan berdiri di hadapannya.
Dia hanya mendongak melihat kearahku, yang saat itu mungkin sepert raksaa dihadapannya.
“iyaa kak” jawabnya pelan.
Aku duduk dihadapannya untuk meminimalisiasi jarak kami.
“kamu kenal senja?” Tanyaku tanpa basa basi.
Dia dia sejenak. Tertunduk. Seperti memkirkan sesuatu.
“senja? Yang mana ya kak” itu jawaban atas pertanyaanku tadi.
“senja, yang biasa ngemis disini, sama kamu dan teman-teman kamu, dia cewek, tubuhnya sekamu, rambutnya pendek sebahu” ucapku sambl berusaha mendeskripsikan ciri-ciri gadis malang itu.
“oh, yang itu dia sudah meninggal kak” ucap bocah laki-laki itu datar.
Mataku membelalak mendengarkan ucapannya, dia bilang senja sudah meninggal. Ah, jantungku sedikit sakit. Apa yang terjadi kenapa ank itu meninggal?
“Meninggal kenapa, kapan?” tanyaku segera  padanya.
“Ditabrak mobil kak, 2 minggu yang lalu kak dijalan  ini terjadi kecelakaan beruntun kak, senja dan beberapa teman kami jadi korbannya kak, waktu mereka lagi ngemis” Ucapan anak itu seperti menyayat hatiku, betapa malang ansib gadis kecil itu, hidupnya begitu singkat, terlalu berat perjuangan yang dia lakukan untuk terus bertahan hidup, entalah apa dia sempat merasakan bhagia, Tuhan sudah lebih dulu mengambilnya, Tuhan mengingginkannya lebih dari dunia, semoga saja dia bisa tenang disana, semoga dia bisa bertemu kedua orang tuanya.
                                                ***
Aku berjalan keluar kantor, sore itu kulihat sekelilingku ramai, apa yang etrjadi aku tak tau saat terus ku amati ternyata para petugas keamanan sedang megamankan para pengemis dan tunawiswa yang ada dijalan-jalan dekat kantorku saat itu, beberapa di antara mereka ditangkap dengan paksa, bebeapa di antaranya melakukan perlawanan, berlari dan bersembunyi, aku dan bebrapa orang di sekitarku, menyaksikan kejadian itu.
Kasihan, kata itu yang muncu dalam benakku, kasian orang-orang ini. Ada dua mobil yang di pakai untuk mengangkut para pengemis itu. Aku mengamati dengan seksama, kebanyakan dari mereka adalah anak kecil. Aku dengar mereka akan di bawa kepanti rehabilitasi untuk tunawiswa. Lalu akan di kirim ke panti asuhan. Sebenarnya ini jauh lebih baik daripada mereka harus tinggal dijalan yang kejam seperti ini apa lagi meeeka adalah anak-anak kecil.
Aku menemukan sebentuk wajah yang aku kenali dalam salah satu mobil itu. Senja. Gadis kecil itu dia sedang duduk mneunduk, seorang anak kecil berada dipangkuannya> bisa aku apstikan anak yang berusia sekitar 4 tahun itu adalah adiknya yang pernah dia sebutkan waktu itu. Aku mengamatinya, tak lama aku melihat mata itu juga megaeah padaku, pandangannya tanpa ekspresi tapi tak lama aku melihat senyum tersungging wajanya senyuman lemah dengan sdikit anggukan kepala tanda dia menyapa. Anak itu masih mengenaliku. Akhirnya kau bisa melihtanya ya walaupunsebentar saja. Mobil yang mengangkut mereka akhirnya pergi membawa anak-anak itu ke temapat ayng tak aku tau. Yang aku harapkan adalh semoga merka dapat tempat yang lebih baik. Semoga ank-anak itu juda diperlakukan dengan baik.
Ya, banyak hal yang bisa aku pelajari dari kisah ini, kisah singkat hidup dua senja bernasib sama yang aku temui. Tentang perjuangan hidup mereka yang berat, tentang bagaiman mereka bertahan hidup membiayai dirinya sendiri, walaupun aku tidak akan pernah tahu pasti seperti apa. Aku hanya tau sepenggal kisah tentang mereka. Hanya sedikit saja, sepintas lalu , dua gadis kecil yang harus bertanggung jawab pada hidup mereka sendiri di usia semuda itu.
Semoga dua senja itu sekarang bahagia, semoga apa yang terjadi adalah yang terbaik. Semoga tidak ada senja-senja yang lainnya yang bernasib sama seperti mereka.

Semoga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar