Selasa, 19 November 2013

Cerita Hujan



Aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi, sebenarnya bukan keinginanku berada disini tapi hujan mengrung dan memaksaku berteduh disini, aku duduk ditepi jendela menandang keluar kaca memperhatiakan butiran-butiran air itu mrngalir dengan sangta derasnya, kalau saja itu uang mungin aku sudah sangat kaya raya. Udara saat itu sangat dingin, tubuhku menggigil, aku kebasahan tadi..
Tiba-tiba sebentuk punggung seorang laki-laki, duduk di meja depan tempatku duduk dia memunggungiku, dia sendirian sama seperti aku,dia basah juga, mungkin kasus kami saat ini sama.Tak lama aku melihat seorang waitress mengantarkan sebuah cangkir, aku tak tau isinya apa yang pasti adalah kopi dan racikan-racikan kopi yang tertera dalam menu di kedai ini. Aku terus memerhatikan sosok ini dari belakang, aku tak tau seperti apa rupa wajahnya, tubuhnya tinggi menjulang, kulitnya putih standard untuk ukuran laki-laki, dan sebuah gitar yang masih terbungkus tas berwarna hitam dia letakkan di depannya, kebetulan meja yang kami pilih hanya cukup diduduki dua orang saja, dan kursi itu berhadapan.Aku seakan melihat lelaki didepanku sedang berkencan dengan sebuah gitar, jika dibayangkan agak menggelikan. Tawaku lepas saat itu, tak bersuara aku terus menahannya menutupi mulutku dengan tngan. Lelaki ini menarik perhatianku.
Aku mendengar sebuah suara, ya suara handphone, sepertinya milik lelaki di depanku. Aku melihat tanganya bergerak dan mengangkat telepon genggamm itu meletakkannya ditelinga sebelah kiri dengan tangan kiri sementara tangan kanannya terus menyerup minuman yang dipesannya tadi. Sebuah suara muncul, dia berbicara, seseorang diujung sana sepertinya bertanya diaman dia karena kau mendengar dia menjawab “aku lagi beteduh, nungguin hujannya reda”. Entah mengapa suara itu terdengar sangat enak ditelingaku, aku terus menunggu lelaki ini mengeluarkan suaranya lagi, tapi yang terdengar hanyalah, emmm ,emmm, emm, dia sedang megiyakan pernyataan seserang diujung sambungan telepon itu.
“ak gak tau kapan kesana, aku tadi pakai motor, hujan disini lebat, aku kayaknya telat”
“jangan marah dong sayang” deg, ah kata itu sayang? Oh ternyata yang menelpon adalah pacaranya.
“iya,iya aku usahain datang secepatnya, lagian kalau aku datangnya hujan-hujanan kan gak enak nanti basah kuyup, aku jaga bawa gitar takutnya basah, jangan marah yaa sayang, kamu tunggu aja di rumah dulu, aku pasti datang kok. Love you”
Lelaki itu menyudahi sambungan teleponnya, aku melihat pandangannya mengarah keluar jendela, menikmatti cangkir digengaman tangannya saat itu.
Aku penasaran seperti apa wajahnya, bagaimana aku bisa melihat wajanhnya? Haruskah aku memanggil atau menepuk bahunya agar dia melihat ke arahku?
Lelaki di depanku mengambil seluruh perhatianku, dia menarik walau hanya sebentuk punggung dan suara itu, aku suka.
10menit 20menit dan 30menit berlalu
akhirnya haujan itu mulai mereda, aku menatap lekat pada punggung lelaki di depanku dia sepertinya bersiap akan pergi, dia memasukan barang-barangnya dan terus beranjak pergi dari mejanya , menuju tempat kasir yang berada tepat lurus dengan meja kami, aku tidak berkesempatan memastikan seperti apa wajah lelaki di depanku tadi.
Dia keluar dan menuju motornya, dia memarkirnya tak jauh dari motorku, yang kuparkir juga tak jauh dari tempat dudukku diluar kaca sana, sayang tadi saat dia berjalan menuju motor aku tak sempat melihat wajanhya kerumunan orang yang sudah akan pergi menyesaki tempat itu.
Deg, akhirnya tubuh jangkung itu terlihta, saat mataku menuju arahnya, mata itu menabrak tatapan mataku, kami berpandangan dan dia tersenyum, singkat tapi sangat bermakna, mampu menyentuh hormon dalam tubuhku, untuk juga membalas senyuman tadi. Lelaki itu tampan, aku suka matanya yang tajam, senyuman manis itu, hidung mancung. Ahh, aku terus saja membayangkannya. Sampai saat dia benar-benar menghilang dari hadapanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar