Kamis, 17 Oktober 2013

Utuh dalam Sepi



Bahagia.
Aku lelah.
Hanya lelah.
Rasanya sudah membosankan.
Aku lupa seperti apa.
Terlalu sering terluka sepertinya.
Kesepian menggerogoti lebih dari separuh hidupku.
Sudah berakar.
Tumbuh menjadi jalan hidupku yang sebenarnya.
Aku utuh dalam rasa sepi itu.
Tapi bahagia, mungkin hanya sebuah kepalsuan saja.
Dia hanyalah rasa semu.
Sepi. Dunia ini sepi.
Aku bahagia dalam mimpi.
Mampu menciptakannya di sana. Hanya di sana.
Sepi. Hanya sepi. Ya rasa itu. Hanya itu.
Hanya ada dia. Bukan yang lain.
Hanya dia yang mampu membuatku utuh.
Utuh dalam rasa yang nyata.
Utuh dalam sebuah keniscayaan.
Sepi itu nyata.
Bahagia itu semu.
Rasa itu hanyalah kepingan kepalsuan saja.
Palsu yang abadi.
Palsu yang membuat aku merasa munafik. Ah Hina.
Aku terlalu sering berpura-pura.
Aku sudah lupa rasanya bahagia.
Rasanya hilang.
Rasa itu hanya seperti angan yang mengantung sangat dekat di depanku tapi tak mampu untuk kugapai.
Sebuah fatamorgana yang sangat sempurna.
Menjadikannya terlalu nyata untuk dianggap hanya sebagai impian belaka.
Tapi nyatanya, dia hanya angan, hanya mimpi, hanya khayalan semata.
Dia nyata saat aku berpura-pura.
Dia nyata hanya dalam mimpi saja.
Dan singkat saja aku terlalu sering berpura-pura untuk bahagia.
Ya itu dia. Aku berpura-pura bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar