Kamis, 10 Oktober 2013

Cappucino pagi itu....



Cappucinno Pagi Itu..........
Secangkir cappucino pagi itu, menemaniku duduk di pojokan sebuah kantin bersama kedua temanku. Ya, cappucinno adalah minuman favoritku. Aku tidak suka kopi hitam. Terlihat pahit di mataku. Menurutku cappucino jauh lebih baik dan juah lebih menarik dari pada kopi. Ya walaupun aku suka warna hitam.Mataku terus mengamati sesosok pria yang selalu saja bisa menarik perhatianku, seperti biasanya pria penyuka warna hitam ini selalu saja memakai baju warna favoritnya. Aku jarang menjumpainya mengenakan baju dengan warna lain hanya beberapa kali saja.
Dia duduk di tempat biasa, aku suka saat saat seperti itu saat aku bisa mengamati langsung wajahnya, walaupun dengan cara diam-diam dan aku suka saat-saat kami saling mencuri pandang satu dan yang lainnya, aku suka.
Terasa lucu saja jika saat mencuri pandang tapi mata kami saling bertabrakan dan saling menatap satu dengan lainnya walaupun pasti saja akan ada yang mengakhirinya lebih dahulu. Itu terjadi beberapa kali, dan sering. Aku juga suka saat kami yang terkadang akan jadi salah tingkah saat berpapasan di jalan, bersikap seperti sibuk dengan sesuatu atau berusaha tidak melihat satu dan yang lainnya, padahal rasanya di dalam hati saat itu aku ingin teriak kalau bisa. 
Tapi, ada yang tak aku suka, aku tidak suka jika teman-temannya juga melakukan hal yang sama padaku, aku tidak suka saat mereka juga berusaha mengamatiku, Aku tidak suka. Aku tidak suka mereka yang jadi lebih aktif daripada Dia. Yang aku mau adalah Dia. Aku takut jika mereka tau jika Aku sering memperhatikan Dia. Tapi aku suka jika teman-temanku membantuku mengawasinya. Memang tidak adil sepertinya tapi ya sperti itulah adanya.
Tapi, kadang aku cenderung bosan selalu seperti itu. Kami seprtinya hanya tau satu dan yang lainnya saja tapi tak saling mengenal. Bahkan aku tidak pernah mendengar suaranya sampai saat ini. Ya, kadang-kadang aku bosan. Mungkin akan segera berakhir.
Kami punya dunia yang berbeda, aku meletakannya di duniaku, tapi dia tidak melakukan hal yang sama. Hanya ada aku yang berperan sebagai pemeran utama dalam cerita ini, tapi dia yang juga seharusnya menemaniku hanya berusaha masuk sebagi figuran saja, dia mungkin hanya numpang lewat saja dalam kisah ini. Padahal aku berharap dia menjadi tokoh yang akan bersamaku hingga akhir cerita ini. Tapi dia sepertinya tidak tertarik, sama sekali tidak untuk bisa masuk dan bergabung bersamaku dalam kisah ini.  Sebenarnya dialah objek utama dari cerita ini. Tapi dia, dia sepertinya sudah memilikikisah yang lainnya, dia sudah membangun cerita sendiri,  dia tidak perlu kisahku.
Ahh, sudahlah sepertinya aku lelah. Dia sepertinya sudah tidak lagi menarik, terlihat membosankan sekarang, dia sama saja, tak ada inovasi, aku sepertinya lupa, tepatnya mungkin mencoba lupa, sudahlah sepertinya harus aku lupakan. Dan sekarang aku sedang dalam tahap melupakan kegilaan itu. Satu kata yang paling tepat mungkin ‘bosan’ , dan aku sudah enggan terlalu berlebihan. Padahal dia hanya objek cerita saja. Aku sepertinya terlalu membanggakannya menganggapnya sempurna, ya pandangn seperti itu relatif tapi memang tidak bisa aku pungkiri jika dia punya beberapa hal yang bisa membuatku terpesona. Ya, beberapa.  Atau lebih terlihat sebgai seorang wanita yang sangat mengharapkan dia. HAHA
Cerita ini mungkin hanya akan menggantung saja, tak berakhir bahagia ataupun berakhir duka, aku akan menyerah dalam perjalanan ini. Aku merasa seperti seorang gerilyawan hati, taktik sembunyi-sembunyi mungkin tidak cocok dalam kasus seperti ini, buktinya aku sudah menyerah. Rasanya lelah dan aku bosan, hanya ingin bersikap biasa saja seperti dulu sebelum aku berusaha menjadikannya sebagai tokoh dalam cerita yang sudah mulai aku buat. Sepertinya saat observasi sudah berakhir. Dia terlalu misterius untuk kuketahui dan kuletakan sebgai tokoh dalam cerita ini. Ah, semuanya selesai. Tak adalagi dia, atau sikap-sikap sok suka, semua sudah biasa aku sekarang jauh lebih sering tidak memandangnya atau berusaha mengalihkan pandangaku sekalipun dalam tempat atau posisi yang sama.

Kalau dia itu terserah padanya, kalau masih berusaha memandang juga terserah dia, tidak papa, sama saja seperti yang lainnya. Toh kami tidak saling mengenal hanya saling tahu satu dan lainnya saja, hanya terlalu sering berpapasan dan tak sengaja berpandangan dalam. Atau memang sedang berusaha memandang dan mencari perhatian satu sama lain, ah sudahlah lupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar