Rabu, 28 November 2012

Cerpen - Sepenggal kisah Masa Lalu


Sepenggal kisah masa lalu...
Indah ketika kita bersama berbagi tawa dan canda, senyum slalu menghiasi setiap celah-celah dalam setiap hari kita, kau selalu menemaniku, menghapus setiap tetes air mata yang terjatuh di kedua pipiku mengoreskan kisah indah yang tak terlupakan, melukiskan bahagia dalam setiap kesedihan yang ada, cerita indah yang kini mungkin takkan lagi terulang saat semua telah usai, masa itu masa indah dimasa lalu, masa dimana kita selalu bersama masa dimana kau selalu ada disampingku, menemaniku, menjagaku, membasuh lukaku, mengenggam erat tanganku.

Aku memandangi kembali foto-foto masa SMAku. yaa banyak cerita dan kenangan indah yang terangkai disana, aku kembali merindukan masa itu masa dimana, banyak kebahagiaan yang menyelimuti hari-hariku. Aku membuka lembar demi lembar album yang berisi foto-foto SMA dan aku terhenti disebuah foto yang mengingatkanku pada orang itu,,
Suatu hari sebuah wajah dengan tatapan penuh senyuman datang menghampiriku ketika aku sendiri duduk di teras belakang sekolah kala hujan menguyur kota kami saat itu, aku memandangi rintik-rintik hujan yang turun saat itu, hujan yang mungkin terasa sangat menyejukan, lama kelamaan aku merasa dinginnya hari itu mulai menusuk kedalam kulitku membuatku merasa ingin beranjak dari tempat itu. Tapi dia datang dan memberiku sebuat jacket berwarna abu-abu, menutupi badanku dengan jacket itu. Keadaan mulai terasa hangat bukan hanya karna jacket itu saja, tapi juga karna dia membuat suasana menjadi menyenangkan dia menciptakan tawa dan sebuah senyuman indah entah mengapa aku sangat menyukai senyum itu, sebuah senyum yang sederhana. Dia menggenggam erat tanganku membuat aku merasa sangat nyaman, namun tak lama sebuah suara  yang sudah sangat kami hapal mengagetkan kami,  kini kami harus memasuki kelas kami masing-masing untuk meneruskan pelajaran hari itu. Dia beranjak pergi terlebih dahulu karna aku masih enggan untuk meniggalkan dan bangun dari tempatku duduk tadi, aku memandangi setiap langkahnya menuju lorong-lorong, semakin lama dia semakin hilang dari pandanganku, semakin hilang hingga aku tak lagi melihatnya. Akhirnya akaupun memutuskan untuk bangun dan pergi menuju kelasku, untung saja hari itu guru mata pelajaran tidak masuk, beliau hanya memberikan tugas untuk kami yang sekarang duduk dikelas 12. Hanya tinggal 3 bulan lagi seragam putih abu-abu ini kami gunakan, setelah itu akan ada kehidupan nyata yang akan kami jalani, kehidupan baru yang akan menentukan masa depan kami nantinya. Persiapan menuju ujian sangat menyita waktu kami sebagai murid kelas akhir di SMA kami semakin jarang berjumpa karena banyak bimbel yang harus di ikuti namun kadang-kadang aku dan dia mencuri waktu untuk bertemu. Jujur saja sebenarnya status kami belum jelas apakah hanya sebatas sahabat saja atau lebih namun untuk ukuran sahabat menurutku semuaya lebih dari hanya sebatas itu, namun untuk status pacar aku tidak yakin karena dia tidak pernah menyatakan perasaannya padaku namun meskipun begitu aku merasa nyaman saat aku didekatnya mungkin ini yang dinamakan hubungan tanpa status, semuanya masih terlihat abu-abu sebenarnya aku ingin meminta kejelasan dari dia namun entah mengapa aku tidak pernah mampu untuk mengutarakan itu kepadanya . aku jadi ingat saat pertemuan pertama kami dulu ketika awal masuk SMA ketika kami sama-sama baru masuk dikelas sepuluh, awalnya aku benci padanya karena dia sanagt nakal. Dia sering menggangguku, sangat sering bahkan , sampai-sampai dulu untuk sekedar mendegarkan suaranya saja aku sudah malas dan ingin berajak pergi mencari tempat dimana kau tidak akan menemukan dia dan juga sebaliknya. Namun semuanya berubah karena hari itu.
saat itu aku dia dan beberapa anak-anak lain tertahan disekolah karena hujan yang sangat deras. Dia berdiri tepat disebelahku saat aku sedang memandagi hujan yang sangat deras itu.
“ Hujan nya deras ya? “ ucapnya memulai pembicaraan, aku hanya menoleh sebentar padanya
“ kok gak jawab sih gue ngajak ngomong kalik?” ucapnya ketus
 “ oh ngomomg sama gue ya?? Kirain sama hujan” jawabku dengan kesal,
“ ya elo lah sayang” ucapnya
“ dih”
“ kenapa sih, din lo itu selalu ketus kalo ketemu gue, salah gue sama lo apa? “ tanyanya
“ salah lo? Mau tau salah lo apa? Salah lo sama gue tu banyak”
“ apa salah gue? Gue gangguin lo gitu”
“ nah itu lo tau, lo tuh kayak gak punya kerjaan lain ya setiap harinya selalu aja lo gangguin gue, sumpah ya gue bosan sama lo, lo selalu bikin gue kesal tiap hari tiap hari niko TIAP HARI “
“ gue gak pernah maksud untuk ngebuat lo kesal tau, gue tu Cuma penegn temenan sama lo, tapi lo kayaknya gak pernah ngerespon gue”
“temenan? Yakin mau temenan gitu sama gue?”
“ yakin dinda”
Aku diam.
panjang pembicaraan kami siang itu hujan pun mulai reda dan akupun ingin beranjak pergi meninggalkan tempat tadi namun dia menarik tanganku
“ maafin gue ya?”
“ maaf buat apa?”
“ ya buat salah gue yang banyak sama lo”
“oh”
“ kok jawabnya gitu”
“trus gue harus jawab gimana”
“ ya jawab lo mau maapin gue atau enggak”
“ gue maafin kok tapi asalkan lo gak akan gangguin gue lagi”
“ gue gak akan gangguin lo kok, tapi kita teman ya?” ucapnya sembari megulurkan kari kelingkinggnya
Entah kenapa hari itu aku seperti melihat ketulusan dari wajahnya dan senyumannya yang sederhana itu terlihat tulus saat aku juga membalas mengulurkan jari kelingkingku.
Ya hari itu berakhir dengan cukup baik, setidaknya aku tidak akan diggangu lagi oleh dia.
Sejak hari itu dia menjadi teman dekatku, aku sering menghabiskan waktu bersamanya di banyak tempat, disekolah, rumah mengerjakan tugas bersama, bernyanyoidan bermain gitar bersama, dia mewarnai hari-hariku. Aku menceritakan banyak hal padanya dari masalah percintaan hingga keluarga begitupun dia, entah mengapa aku percaya padanya.
Namun lama-kelamaan ada perasaan lain yang muncul, terkadang aku jadi merasa canggung jika didekatnya, yaa perasaan itu perasaan yang paling norak sedunia yang bisa membuat orang menangis, tertawa sedih senyum, yang bisa menghancurkan persahabatan. Aku berusaha membuang jauh perasaan bodoh itu, aku takut semua yang sudah kurangkai dengan baik bersamanya hancur begitu saja, aku takut jika nanti aku akan cemburu saat dia sudah punya pacar lalu aku membencinya, aku takut jika saja hal itu terjadi, aku takut jika harus kehilangan dia. Dan akupun memendam perasaan itu lama. Hari itu tiba hari yang sangat tak aku inginkan, hari dimana perpisahan itu datang, kami sudah melewati jian nasional dan hari dimana pengumuman kelulusan datang. Jujur saja aku sangat takut saat menhadapi kenyataan bahwa mungkin saja kebersamaanku dan dia kan berakhir begitu saja, karena yang kau dengar rencana kuliahnya dia kan pergi keluar kota karena keluarganya juga akan pindah mengikuti tempat kerja ayahnya. Aku dan dia lulus, dia memelukku erat di hari kelulusan itu
“ gue lulus dinda gue lulus” ucapnya dengan tawa dan senyumnya yang terkembang diwajahnya. Aku membalas senyuman itu walaupun dengan sedikit terpaksa
“ selamat” ucapku
“ tapi, gue harus pindah din”
“ gue udah tau nik, kan lo udah bilang ke gue”
“ tapi, gue pindahnya besok”
“ besok??”
“ iya, din semuanya udah dipersiapin dan tiketnya juga udah dibeli”
“ kenapa cepat banget? dan kenapa lo baru bilang sama gue sekarang??”
“ gue juga baru tau kemaren din, kata nyokap pas udah ambil hasil kelulusan  kita akan langsung pindah “
“ ohh, yaudahlah selamat menempuh dunia dan kota baru ya disana, selamat menempuh kehidupan baru juga sebagai mahasiswa, jangan lupain gue sahabat lo yaa”
“ din. Sedih amat kata-kata lo, kayak gue bakalan jauh banget, gue gak akan lupa sama lo, lo itu bagian penting dari kehidupan gue, gue sayangg sama lo, udah kayak sayang ke adek gue, dan nggak mungkin juga kan kalo gue ngelupain adek gue” ucapnya smbil megelus kepala ku
Yaaa, ternyata dia hanya menganggapku sebatas adik saja, dan kedekatan kami selama ini hanya sebatas adik-kakak, dan anggapanku bahwa hubungan ini adalah sebuah hubungan tanpa status terjawab, ternyata dia memang tidak punya perasaan yang sama seperti apa yang kau rasakan, dan aku hanya sebatas geer saja, hanya sebatas itu.
“ malam ini jalan yaa, hitung-hitung perpisahan” ajaknya
“ mau jalan kemana?? “
“ kemana yaa? Cafe biasa aja, tapi sebelumnya nonton “
“ emmmmm”
“ kok, emmm sih??”
“ gue lagi mikir tau, apa schedule gue bisa apa gak, soalnya gue sibuk”
“ dihh, sok sibuk banget sih lo”
“ gue kan emang sibuk tau”
“ ayolah sayang, dinda sayang mau yaaa”
“ mau gak yaaa?”
“ sayang gue besok udah mau pergi masak lo nggak mau ada acara perpisahan sama pacar lo tersayang ini”
“ dihh, sejak kapan lo jadi pacar gue??”
“sejakk, hati kamu dan hati aku menjadi hati kita”
“ basiii ah gombalan lo, masih jaman gitu gombal?”
“ mau kan din?”
“ iyaa, mau yang mau. apa sih yang enggak kalo buat niko tersayang”
“ gue jemput yaa, jam 7, lo harus dandan secantik mungkin”
“ siap” ucapku dan hanya menegmbangkan senyuman kepadanya
Dan malam itupun tiba, dia datang menjemputku dengan motornya. Hari itu dia terlihat sangat tampan dengan jeans hitam dan kemeja biru, yaa entah mengapa kau saat itu merasaa bahwa kami akan sangat jauh sekali, aku bingung perasaan apa itu.
“ halo sayang, gantengkan gue malam ini”
“ lumayan lah dari biasanya”
“ lo juga cantik kok, cantik banget malam ini “ ucapnya sambil mengelus pipiku
Dia terlihat aneh malam itu.
Aku dan dia pergi menuju tempat yang sudah kami tentukan, malam itu malam perpisahan aku habiskan bersamanya. Dia mengajakku pergi ke tempat dimana kau dan dia biasanya mengerjakan tugas bersama-sama yaitu dipinggir danau, kami duduk dibawah  langit yang dipenuhi bintang-bintang yang malam itu terlihat sangat cerah.
“ din kalo, gue pergi lo gak akan lupain gue kan??”
“ lupain gak yaa?”
“gue serius din,kalo nanti gue pergi, trus gue udah jauh dari lo gue udah gak ada lagi disini lo bakalan tetap ingat gue gak, bakalan tetap sayang sma gue gak?”
“ niko, kemanapun elo, dimanpun elo, disini atau disana kota yang jauh lo aka tetap gue ingat, lo akan tetap gue sayang, lo salah satu bagian terindah dikehidupan gue nik”
“ benerankan??” ucapnya sambil menggenggam tanganku sangat erat, yaa sanat erat”
“ dih, nik tangan gue sakit tau lepasinn ah”
“ benerankan din” dia semakin erat mngegnggam tanganku
“ benar niko benar” jawabku
“ din, boleh gue minta satu permintaan??”
“ apa? Jangan lupain lo, selalu ingat lo?
“ bukan itu”
“ trus apa??”
“ boleh gak gue cium kening lo??”
“ cium kening?”
“ iya. Sebagai tanda perpisahan, boleh kan??”
Jujur saja aku speechless kenapa dia tiba-tiba ingin mencium keningku, ada apa dengannya??
Aku hanya mengangguk memndakan kalau aku setuju, dia mencium keningku cukup lama
“ makasih “ ucapnya
Dan aku kembali tersenyum untuk membalas ucapan itu.
Dia mnegantarkan aku pulang kerumah, sebelum pergi dia memelukku erat
“ sampai jumpa lain waktu yaa”
“ ehh, lo besok pergi jam berapa, gue mau ikut nganterin”
“gue lupa jam berapa tapi nanti gue kabarin kalo udah nanya nyokap ya”
“ siap”
“ gue pergi yaa, sampi jumpa”
Dia pergi menjauh dari hadapanku semakin jauh-jauah dan menjauh di kegelapan malam, aku masuk kedalam rumah dan menuju kamar tidur, di kamar aku terbayang kejadi malam ini, kenapa sikapnya jadi begitu manis, kenapa dia seperti akan pergi jauh kenapa perasaanku jadi seperti tak menentu memikirkannya tak lama sebuah telepon mengagetkanku “ NIKO” nama itu tertulis dalam panggilan masuk itu.
“ haloo nik kenapa sih? ”
“ haloo” seorang permpuan berbicara dari telepon itu
“ ohh iya halo. Ada apa yaa? Ini siapa?”
“ ini mamanya Niko nak”
“ ohh, tante ada apa ya tante?”
“ niko dinda, niko kecelakaan?” saat itu jantungku terasa remuk, seperti tertusuk oleh sesuatu yang snagat tajam, sangat sakit
“ kecelakaan tante?” dan air matakupun ulai jatuh dan badaku juga mulai lemas
“ keadaannya gimana tante”
“ dia sekarang lagi di UGD, kamu cepat kesini ya, dia dari tadi manggil nama kamu”
“ iya tante iya”
Akupun segera bergegas menuju rumah sakit bersama mama dan papa, disana aku melihat mamanya niko sedang duduk lemas, aku meghampirinya. Namun tak lama dokter keluar dari ruang UGD dan berkata
“ maaf semuanya, saudara niko sudah tidak tertolong lagi”
Keadaan itu membuatku lemas seketika, mamanya niko pingsan semua orang disitupun menangis, aku terduduk lemas, aku sudah tiadak mampu berpikir apapun. Kenapa semua ini bisa terjadi, kenapa? Dia baru sja mengantarkan aku pulang dan kami malam ini baru saja melakukan acara perpisahan, mengapa?? Sikapnya memang terliahat sangat aneh dia terlihat tak seperti biasanya dia selalu bilang kalo nanti dia pergi jauh apa aku akan melupakan dia? Dan inilah jawabannya dia memang pergi jauh sangat jauh, jauh dan jauh dia menghilang dari duniaku selamanya dia sudah menemui dunia barunnya dialam yang lain, tapi dia tidak akan pernah terlupakan. Ada hal yang masih mengganjal dipikiranku, aku tidak pernah mengatakan padanya bahwa aku menyukainya, aku juga tidak pernah menanyakan padanya apakah dia juga memiliki perasaan yang sma walupun yang kau tau dia hanya menganggapku hanya sebatas adik saja.
“ niko, dimanapun lo sekarang,walaupun lo udah jauh dan berada di alam yang berbeda sama gue, gue akan selalu sayangdan tetap sayang sama lo sampai kapanpun nik, gue gak akan pernah lupai lo, lo adalah bagian terindah dikehidupan gue yang sampai kapanpun gak akan pernah tergantikan oleh siapapun, selamat jalan nik sampai jumpa di kehidupan yang lain, gue berharap gue akan ketemu sama lo. Dan kita bisa sama-sama lagi”

Ya niko sudah pergi benar-benar pergi meninggalkan aku dan semua kenangan yang udah kita rangkai bersama-sama dan dia adalah penggalan kisah masa laluku yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun.